Swedia Ganti Buku Sekolah dengan Komputer pada 2009, Sekarang Kembali ke Buku

Kamis, 16 Januari 2025 - 08:52 WIB
loading...
Swedia Ganti Buku Sekolah...
Swedia mengganti buku sekolah dengan komputer dan perangkat digital lainnya pada 2009. Sekarang, Swedia siapkan lebih dari Rp1,7 triliun untuk kembali ke buku kertas. Foto/Indian Defence Review
A A A
STOCKHOLM - Pada tahun 2009, Swedia langsung memodernisasi sekolahnya dengan mengganti buku teks dengan komputer dan perangkat digital lainnya.

Idenya saat itu adalah untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang digerakkan oleh teknologi.

Pemerintah Swedia memperkirakan bahwa penggunaan komputer dan tablet akan membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah diakses. Secara bertahap, buku teks kertas menghilang karena versi digital tampak lebih murah dan lebih mudah beradaptasi untuk masa depan.

Baca Juga: Ketakutan Perang Nuklir, Swedia Minta Warganya Timbun Makanan dan Air

Tujuannya kala itu sangat jelas: membekali siswa dengan keterampilan yang mereka butuhkan di era teknologi tinggi.

Namun seiring berjalannya waktu, menjadi jelas bahwa peralihan ini bukannya tanpa kendala.

Mengutip laporan Indian Defence Review, Kamis (16/1/2025), setelah 15 tahun, Swedia berubah pikiran karena beberapa masalah besar muncul.

Penelitian menunjukkan bahwa membaca di layar, terutama yang memiliki cahaya terang, dapat menyebabkan lebih banyak ketegangan mata dan kurang fokus dibandingkan dengan buku kertas.

Ditambah lagi, memahami apa yang Anda baca dan mengingatnya akan sulit saat Anda menatap layar.

Salah satu keluhan terbesar adalah betapa perangkat digital dapat mengganggu.

Banyak siswa teralihkan oleh game atau menjelajahi web selama pembelajaran di kelas, alih-alih fokus pada pelajaran.

Obsesi terhadap layar ini juga menimbulkan tanda-tanda tentang keterampilan sosial dan rentang perhatian di lingkungan sekolah.
Orang tua dan guru cukup vokal tentang masalah ini; banyak orang tua khawatir tentang anak-anak mereka yang menggunakan komputer untuk hal-hal selain belajar.

Untuk mengatasi masalah ini, Swedia mengalokasikan 104 juta euro (lebih dari Rp1,7 triliun) untuk mengembalikan buku ke ruang kelas mulai tahun 2022 hingga 2025.

Itu adalah sejumlah besar uang yang ditujukan untuk memastikan setiap siswa akhirnya mendapatkan buku teks kertas untuk setiap mata pelajaran.

Uang tersebut juga akan digunakan untuk kampanye yang membantu sekolah beralih kembali ke cara belajar tradisional.

Ini bukan tentang membuang perangkat digital sama sekali, tetapi lebih kepada menemukan titik yang tepat di mana teknologi mendukung teknik belajar dasar alih-alih mengambil alih sepenuhnya.

Pejabat Swedia telah memperhatikan penurunan keterampilan utama seperti membaca dan menulis di kalangan siswa—terutama karena mereka telah terpaku pada layar sejak mereka masih kecil.

Pemerintah sekarang melihat ini sebagai langkah yang salah—menyingkirkan metode tradisional terlalu cepat tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.

Mengembalikan buku tidak berarti mereka membuang teknologi ke luar jendela; itu hanya berarti mereka akan menggunakan alat digital dengan lebih bijak mulai sekarang.

Buku masih bagus untuk mencampur gaya mengajar atau mendapatkan sumber daya daring tetapi akan digunakan dengan hemat untuk ke depannya.

Pilihan Swedia menyoroti betapa pentingnya menemukan keseimbangan dalam pendidikan—suatu hal yang relevan di seluruh dunia karena sekolah di mana pun mencoba memadukan teknologi dengan fondasi pendidikan yang kokoh.

Ketika negara Nordik ini kembali ke metode tradisional, ini merupakan tanda peringatan sekaligus contoh bagi negara lain yang mencari keselarasan antara inovasi dan tradisi dalam sistem pendidikan di seluruh dunia.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
9 Kota di Mana Matahari...
9 Kota di Mana Matahari Hampir Tidak Pernah Terbenam atau Terbit saat Musim Panas
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
Suami Bejat, Terbukti...
Suami Bejat, Terbukti Bantu 120 Pria Beli Layanan Seks Istrinya
Korea Selatan Tutup...
Korea Selatan Tutup 4.008 Sekolah karena Populasi Pelajar Menyusut
Negara NATO Ini Ingin...
Negara NATO Ini Ingin Beli Rudal yang Mampu Menghancurkan Rusia
SPMB Jakarta 2026 untuk...
SPMB Jakarta 2026 untuk Sekolah Swasta SMP-SMA Tahap 2 Dibuka, Cek Cara Pilih Sekolah
Israel Bombardir Lebanon...
Israel Bombardir Lebanon Selatan Tewaskan 16 Orang
Trump Ancam Ambil Alih...
Trump Ancam Ambil Alih Selat Hormuz, Sebut AS Malaikat Pelindung
Rekomendasi
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Atur Jabatan Sipil, Usia Pensiun, hingga Rekrutmen Disabilitas
Pemprov DKI Jakarta...
Pemprov DKI Jakarta Bersama Ewindo Perkuat Pengembangan Pertanian Perkotaan
Dirjen Imigrasi Minta...
Dirjen Imigrasi Minta Rencana Perluasan Bebas Visa Ditinjau Kembali
Berita Terkini
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Profil Abelardo De La...
Profil Abelardo De La Espriella, Pengacara Berjam Tangan Mewah yang Jadi Presiden Baru Kolombia
Infografis
4 Pulau Sengketa Kembali...
4 Pulau Sengketa Kembali ke Pangkuan Aceh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved