Cerita Mengerikan WNI Dipaksa Kerja di Judi Online Kamboja
Senin, 13 Januari 2025 - 14:07 WIB
loading...
Gedung apartemen di Kamboja tempat WNI Slamet dipaksa kerja di jaringan perjudian online. Foto/Slamet
A
A
A
JAKARTA - Perjalanan empat jam yang menegangkan dari kota Bavet ke Ibu Kota Kamboja, Phnom Penh, bagi pekerja asal Indonesia, Slamet.
Pria warga negara Indonesia (WNI) yang baru saja melarikan diri dari jaringan perjudian online tempat dia dipaksa bekerja selama tiga bulan itu sedang menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mencari pertolongan agar bisa pulang.
Namun, kenangan akan pengalamannya yang terjadi pada tahun 2023 itu masih menghantui Slamet hingga saat ini.
Dalam wawancara dengan Channel News Asia (CNA), Slamet meminta agar nama aslinya tidak disebutkan karena dia takut.
"Saya takut karena (bos di Kamboja) masih mencari saya," kata pria berusia 27 tahun itu kepada CNA, yang dilansir Senin (13/1/2025).
Baca Juga: Makin Banyak WNI Pindah Jadi Warga Singapura, Apa Pemicunya?
Mengenang hari yang menentukan ketika dia melarikan diri dari jaringan perjudian online di Bavet—kota yang merupakan perbatasan internasional antara Kamboja dan Vietnam—Slamet mengatakan bahwa dia hanya membawa dompet, ponsel, dan pengisi daya.
Setelah meminta izin keluar sebentar untuk merokok, Slamet memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan memanggil taksi. Dia kemudian meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke ibu kota yang berjarak sekitar 160 km.
“Saya terpaksa mencuri dari perusahaan untuk membayar ongkos pulang,” kata Slamet, yang berasal dari Jawa Timur, melalui panggilan telepon.
Slamet menambahkan bahwa dirinya ditipu oleh seorang perekrut yang ditemuinya di Kota Malang yang menawarinya gaji bulanan sebesar Rp15 juta untuk bekerja di sebuah pabrik di Vietnam. Gaji tersebut belum termasuk “tunjangan makan” sebesar USD200 yang dijanjikan kepadanya.
Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada yang bisa diperolehnya jika bekerja di Indonesia. Menurut situs pengumpulan data Statista, rata-rata karyawan Indonesia dapat mengharapkan gaji bersih bulanan sekitar Rp3 juta per Februari 2024.
Selain itu, Slamet sedang menganggur saat tawaran itu datang.
Namun, alih-alih dikirim ke Vietnam, dia malah dibawa ke sebuah apartemen di Bavet untuk menjadi staf administrasi sebuah situs judi online pada Januari 2023.
"Saya hanya digaji Rp4 juta per bulan dan harus bekerja lebih dari 12 jam sehari, kantor dijaga oleh orang-orang bersenjata dan anjing pelacak," kata Slamet.
Sebagai bagian dari "pekerjaannya", dia ditugaskan untuk mengelola transaksi dari mereka yang berpartisipasi dalam aktivitas judi online di Indonesia.
"Saya tahu kata sandi bank dan nomor pin perusahaan itu. Saya mentransfer sekitar Rp30 juta uang mereka ke rekening bank saya. Jika saya tidak melakukan ini, saya tidak akan bisa pulang," kata Slamet kepada CNA, seraya menambahkan bahwa dia masih dilecehkan oleh mantan bosnya di Kamboja.
Bulan lalu, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia Judha Nugraha mengatakan bahwa KBRI di Phnom Penh menangani sekitar 15 hingga 30 laporan setiap hari dari WNI yang mencari bantuan.
Judha mengatakan bahwa sejak Januari hingga November 2024, KBRI di sana telah berhasil menangani lebih dari 2.946 kasus terkait perlindungan WNI dengan lebih dari 76 persen di antaranya terkait dengan penipuan online.
Menurut para pakar, WNI yang menjadi korban perdagangan manusia melalui media online menjadi tren sejak pandemi Covid-19, ketika banyak orang putus asa mencari pekerjaan dan menjadi rentan terhadap penipuan.
Pengamat juga melihat adanya pergeseran dalam perkembangan kasus perdagangan manusia. Para pelaku kini menyasar anak muda dengan pendidikan tinggi. Mereka juga tidak lagi dikirim ke negara-negara Timur Tengah, tetapi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Saat Slamet mengungkapkan rasa tidak puasnya dan meminta dipulangkan ke Indonesia, majikannya menuntut denda sebesar Rp50 juta jika ingin dipulangkan, sehingga dia tidak punya pilihan selain tetap bekerja di sana.
“Tidak ada perjanjian kontrak sama sekali,” kata Slamet, seraya menambahkan bahwa dia bekerja di apartemen yang disewa oleh beberapa perusahaan perjudian dan penipuan online.
Menurut Slamet, sebanyak 80 persen dari mereka yang bekerja bersamanya adalah WNI, termasuk mantan bosnya yang berasal dari Sumatra Utara.
Slamet bekerja dan tidur di kantor dan hanya bisa keluar untuk makan atau pergi istirahat merokok. Bahkan itu pun dikontrol oleh para penjaga, katanya.
Pria warga negara Indonesia (WNI) yang baru saja melarikan diri dari jaringan perjudian online tempat dia dipaksa bekerja selama tiga bulan itu sedang menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mencari pertolongan agar bisa pulang.
Namun, kenangan akan pengalamannya yang terjadi pada tahun 2023 itu masih menghantui Slamet hingga saat ini.
Dalam wawancara dengan Channel News Asia (CNA), Slamet meminta agar nama aslinya tidak disebutkan karena dia takut.
"Saya takut karena (bos di Kamboja) masih mencari saya," kata pria berusia 27 tahun itu kepada CNA, yang dilansir Senin (13/1/2025).
Baca Juga: Makin Banyak WNI Pindah Jadi Warga Singapura, Apa Pemicunya?
Mengenang hari yang menentukan ketika dia melarikan diri dari jaringan perjudian online di Bavet—kota yang merupakan perbatasan internasional antara Kamboja dan Vietnam—Slamet mengatakan bahwa dia hanya membawa dompet, ponsel, dan pengisi daya.
Setelah meminta izin keluar sebentar untuk merokok, Slamet memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan memanggil taksi. Dia kemudian meminta sopir taksi untuk mengantarnya ke ibu kota yang berjarak sekitar 160 km.
“Saya terpaksa mencuri dari perusahaan untuk membayar ongkos pulang,” kata Slamet, yang berasal dari Jawa Timur, melalui panggilan telepon.
Slamet menambahkan bahwa dirinya ditipu oleh seorang perekrut yang ditemuinya di Kota Malang yang menawarinya gaji bulanan sebesar Rp15 juta untuk bekerja di sebuah pabrik di Vietnam. Gaji tersebut belum termasuk “tunjangan makan” sebesar USD200 yang dijanjikan kepadanya.
Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada yang bisa diperolehnya jika bekerja di Indonesia. Menurut situs pengumpulan data Statista, rata-rata karyawan Indonesia dapat mengharapkan gaji bersih bulanan sekitar Rp3 juta per Februari 2024.
Selain itu, Slamet sedang menganggur saat tawaran itu datang.
Namun, alih-alih dikirim ke Vietnam, dia malah dibawa ke sebuah apartemen di Bavet untuk menjadi staf administrasi sebuah situs judi online pada Januari 2023.
"Saya hanya digaji Rp4 juta per bulan dan harus bekerja lebih dari 12 jam sehari, kantor dijaga oleh orang-orang bersenjata dan anjing pelacak," kata Slamet.
Sebagai bagian dari "pekerjaannya", dia ditugaskan untuk mengelola transaksi dari mereka yang berpartisipasi dalam aktivitas judi online di Indonesia.
"Saya tahu kata sandi bank dan nomor pin perusahaan itu. Saya mentransfer sekitar Rp30 juta uang mereka ke rekening bank saya. Jika saya tidak melakukan ini, saya tidak akan bisa pulang," kata Slamet kepada CNA, seraya menambahkan bahwa dia masih dilecehkan oleh mantan bosnya di Kamboja.
Bulan lalu, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia Judha Nugraha mengatakan bahwa KBRI di Phnom Penh menangani sekitar 15 hingga 30 laporan setiap hari dari WNI yang mencari bantuan.
Judha mengatakan bahwa sejak Januari hingga November 2024, KBRI di sana telah berhasil menangani lebih dari 2.946 kasus terkait perlindungan WNI dengan lebih dari 76 persen di antaranya terkait dengan penipuan online.
Menurut para pakar, WNI yang menjadi korban perdagangan manusia melalui media online menjadi tren sejak pandemi Covid-19, ketika banyak orang putus asa mencari pekerjaan dan menjadi rentan terhadap penipuan.
Pengamat juga melihat adanya pergeseran dalam perkembangan kasus perdagangan manusia. Para pelaku kini menyasar anak muda dengan pendidikan tinggi. Mereka juga tidak lagi dikirim ke negara-negara Timur Tengah, tetapi ke negara-negara Asia Tenggara lainnya.
Penyiksaan Fisik dan Mental
Saat Slamet mengungkapkan rasa tidak puasnya dan meminta dipulangkan ke Indonesia, majikannya menuntut denda sebesar Rp50 juta jika ingin dipulangkan, sehingga dia tidak punya pilihan selain tetap bekerja di sana.
“Tidak ada perjanjian kontrak sama sekali,” kata Slamet, seraya menambahkan bahwa dia bekerja di apartemen yang disewa oleh beberapa perusahaan perjudian dan penipuan online.
Menurut Slamet, sebanyak 80 persen dari mereka yang bekerja bersamanya adalah WNI, termasuk mantan bosnya yang berasal dari Sumatra Utara.
Slamet bekerja dan tidur di kantor dan hanya bisa keluar untuk makan atau pergi istirahat merokok. Bahkan itu pun dikontrol oleh para penjaga, katanya.
Lihat Juga :