Profil Jimmy Carter, Mantan Presiden AS yang Sering Dicap Anti-Israel karena Mendukung Hak Palestina

Senin, 30 Desember 2024 - 18:07 WIB
loading...
A A A
Carter bersama istrinya kemudian mendirikan pusat nirlaba Carter Center yang aktif membahas isu kebijakan publik. Pada 10 Desember 2002, Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Jimmy Carter atas usahanya yang tak kenal lelah selama puluhan tahun untuk menemukan solusi damai bagi konflik internasional, memajukan demokrasi dan hak asasi manusia, dan mempromosikan pembangunan ekonomi dan sosial.

Jimmy Carter Sering Dicap Anti-Israel

Jimmy Carter memang menjadi perantara perjanjian damai bersejarah antara Israel-Mesir. Kendati begitu, dia mendapat status ‘kurang bagus’ di beberapa sudut komunitas Yahudi karena kritiknya terhadap Israel.

Mengutip Haaretz, Carter secara rutin dicap sebagai 'anti-Israel' atas dukungannya terhadap hak-hak kolektif Palestina dan kritiknya terhadap pendudukan. Dia semakin kritis terhadap Tel Aviv yang berpuncak pada penerbitan bukunya tahun 2006 berjudul "Palestine: Peace Not Apartheid."

Kemunculan buku tersebut menyebabkan beberapa pihak di dunia Yahudi menuduh Carter sebagai penganut paham antisemitisme. Sementara pihak lain melihat anggapan tersebut sebagai sesuatu yang mengaburkan jasa-jasa atau warisan Carter untuk Israel di masa lalu.

Sukses mendamaikan Israel-Mesir, Carter memiliki perhatian lain terhadap kebijakan permukiman dan keberadaan Yahudi yang terus berlanjut di wilayah Palestina. Carter dalam sebuah kesempatan mengatakan kepada pers bahwa solusi dua negara hampir tidak mungkin tercapai selama Netanyahu tetap berkuasa di Israel.

Itulah ulasan mengenai profil Jimmy Carter, mantan Presiden Amerika Serikat yang sering dicap anti-Israel.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
Lebanon dan Israel Tandatangani...
Lebanon dan Israel Tandatangani Kesepakatan Kerangka Kerja untuk Akhiri Perang
AS Kembali Serang Iran,...
AS Kembali Serang Iran, IRGC Balas Gempur Pasukan Amerika
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
10 Negara dengan Biaya...
10 Negara dengan Biaya Hidup Termahal di Dunia pada 2026, Ada Tetangga Indonesia
Penembakan Massal di...
Penembakan Massal di Sekolah Filipina Tewaskan 3 Siswa, 2 Pelaku Remaja Ditahan
Heboh, Menteri Perempuan...
Heboh, Menteri Perempuan Swedia Bawa Bayi ke Pertemuan Uni Eropa
Rekomendasi
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
Terancam Mobil China,...
Terancam Mobil China, Honda Justru Buka 4 Dealer Baru di Jateng dan Bali
Hasil Seleksi OSN-K...
Hasil Seleksi OSN-K SD dan SMP 2026 Diumumkan, Ini Link Resmi Pengumuman
Berita Terkini
Korut Masih Andalkan...
Korut Masih Andalkan Senjata Besar, Korsel Beralih ke 500.000 Prajurit Drone, Siapa Lebih Unggul?
Ukraina Berusaha Rebut...
Ukraina Berusaha Rebut Kesempatan Pertama untuk Menang, tapi Kenapa Selalu Gagal?
Pengadilan Inggris Butuh...
Pengadilan Inggris Butuh 300 Tahun untuk Selesaikan Tumpukan Kasus
Lebih dari 50.000 Orang...
Lebih dari 50.000 Orang Dilaporkan Hilang akibat Gempa Venezuela
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan...
AS Ingin Pindahkan Pangkalan-Pangkalan di Teluk yang Rusak Akibat Serangan Iran ke Israel
6 Petani Diculik Tentara...
6 Petani Diculik Tentara Israel di Lebanon Selatan
Infografis
Profil Dadan Hindayana,...
Profil Dadan Hindayana, Kepala BGN yang Disorot Karena Marak Kasus Keracunan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved