Trump: Turki Berada di Balik Perubahan Rezim Suriah

Rabu, 18 Desember 2024 - 08:41 WIB
loading...
Trump: Turki Berada...
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Donald Trump mengadakan konferensi pers bersama setelah pertemuan di Gedung Putih di Washington, Amerika Serikat pada 13 November 2019. Foto/Halil Sa??rkaya/Anadolu Agency
A A A
WASHINGTON - Turki berada di balik perubahan rezim di Suriah, klaim Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (16/12/2024) dalam jumpa pers pertamanya sejak pemilihan umum November.

Trump menyebut penggulingan Presiden Suriah Bashar Assad dan pemerintahannya sebagai "pengambilalihan yang tidak bersahabat" oleh Ankara.

Situasi di Suriah telah berubah drastis selama dua pekan terakhir setelah pemberontak yang dipimpin kelompok Hayat Tahrir-al-Sham (HTS) melancarkan serangan terhadap pasukan negara itu, mengambil alih kota-kota besar, termasuk ibu kota Damaskus.

Setelah runtuhnya militer Suriah, oposisi bersenjata merebut kekuasaan, memaksa Presiden Assad melarikan diri ke Rusia, di mana dia diberikan suaka politik.

"Orang-orang yang masuk itu dikendalikan oleh Turki, dan itu tidak apa-apa," ujar Trump.

Dia menganggap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan sebagai orang yang "cerdas" dan "sangat tangguh" karena berhasil menggulingkan kepemimpinan Suriah.

“(Turki) menginginkan (Suriah) selama ribuan tahun, dan dia mendapatkannya… Turki melakukan pengambilalihan yang tidak bersahabat tanpa banyak nyawa yang hilang,” imbuh Trump.

Dia juga memuji apa yang dia gambarkan sebagai “kekuatan militer utama” Turki yang “tidak pernah lelah karena perang.”

Menurut Trump, Turki juga akan memainkan peran penting dalam masa depan Suriah.

“Tidak seorang pun tahu apa hasil akhir di wilayah tersebut. Tidak seorang pun tahu siapa yang akan memerintah di akhir... Saat ini, Suriah memiliki banyak ketidakpastian, tetapi saya pikir Turki akan memegang kunci Suriah,” prediksi presiden terpilih tersebut.

Turki berbagi perbatasan darat terpanjang dengan Suriah, lebih dari 900 km, dan telah menjadi pendukung utama kelompok oposisi yang bertujuan menggulingkan Assad sejak pecahnya perang saudara pada tahun 2011.

Meskipun memasukkan HTS, yang memulai kerusuhan saat ini, sebagai organisasi teroris, Ankara dianggap memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kelompok tersebut.

Turki juga mendukung Tentara Nasional Suriah (SNA), yang awal bulan ini melancarkan serangannya sendiri di bagian timur negara itu, dengan harapan dapat memanfaatkan runtuhnya pasukan pemerintah Suriah.

Beberapa hari sebelum Assad digulingkan, Erdogan menyuarakan dukungannya terhadap pemberontakan di Suriah, mendesak oposisi bersenjata melanjutkan pawai mereka ke Damaskus.

Sejak Assad digulingkan, Washington dan Ankara, yang keduanya mendukung berbagai kelompok pemberontak di wilayah tersebut, telah mengadakan pembicaraan tentang cara-cara untuk menstabilkan situasi dan melawan potensi kebangkitan kembali ISIS di Suriah.

Pada pertemuan antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan pekan lalu, keduanya sepakat terus bekerja sama dalam mencegah kelompok teror menyalahgunakan ketidakstabilan saat ini di negara itu dan membawa perdamaian ke kawasan, dimulai dengan upaya pembentukan pemerintahan sementara.

Baca juga: Sekutu Terus Tergerus, Sampai Kapan Iran Akan Bertahan?
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Zionis Israel Ratapi...
Zionis Israel Ratapi Kesepakatan Damai AS-Iran: Kami Ditinggalkan Sendirian!
Pesawat Pengebom Nuklir...
Pesawat Pengebom Nuklir B-52 AS Jatuh Tewaskan 8 Awak, Harganya Rp1,5 Triliun
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Soal Ujian Bocor, India...
Soal Ujian Bocor, India Blokir Telegram jelang Tes Masuk Kampus Kedokteran
Rekomendasi
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Gempa Magnitudo 6,7...
Gempa Magnitudo 6,7 Guncang Sulteng, 1 Warga Sigi Meninggal Dunia
Syiar Islam Harus Dekat...
Syiar Islam Harus Dekat dengan Masyarakat
Berita Terkini
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Hamas Sambut Baik Kesepakatan...
Hamas Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran, Serukan Penghentian Serangan di Gaza dan Lebanon
7 Fakta Unik Cape Verde,...
7 Fakta Unik Cape Verde, Negara Kecil yang Bikin Spanyol Frustrasi di Piala Dunia 2026
Infografis
Bayraktar Kizilelma...
Bayraktar Kizilelma Turki, Jet Tempur Nirawak Pertama di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved