Mengejutkan! Australia Akui 300 Botol Virus Mematikan Hilang dari Laboratorium

Rabu, 11 Desember 2024 - 07:40 WIB
loading...
Mengejutkan! Australia...
Sejumlah sampel dalam botol di laboratorium. Foto/insidestategovernment.com.au
A A A
QUEENSLAND - Lebih dari 300 botol berisi sampel hidup dari tiga virus dengan tingkat kematian tinggi hilang dari laboratorium Queensland pada tahun 2021, tetapi otoritas Australia baru mengonfirmasi pelanggaran tersebut pada hari Senin (9/12/2024).

Botol-botol tersebut tidak ditemukan lagi setelah lemari pembeku di Laboratorium Virologi Kesehatan Masyarakat Queensland rusak sekitar tahun 2021.

Ketidaksesuaian tersebut ditemukan pada bulan Agustus 2023, tetapi butuh waktu hingga hari Senin untuk konfirmasi resmi atas insiden tersebut muncul.

Sampel yang hilang diidentifikasi sebagai Hantavirus, virus Hendra, dan Lyssavirus.

Kepala Dinas Kesehatan Queensland John Gerrard mengatakan "sulit untuk membayangkan skenario" di mana masyarakat dapat berisiko, merujuk pada kurangnya laporan tentang infeksi selama lima tahun terakhir.

"Penting untuk dicatat bahwa sampel virus akan terdegradasi dengan sangat cepat di luar lemari pembeku bersuhu rendah dan menjadi tidak menular," ujar Gerrard, berspekulasi sampel tersebut mungkin telah dihancurkan dalam autoklaf, menurut protokol keselamatan.

Menurut otoritas Queensland, hampir 100 botol yang hilang berisi Hendra. Dua botol berisi sampel Hantavirus, patogen yang ditularkan melalui hewan pengerat dengan tingkat kematian sekitar 38%.

Sebanyak 223 botol sisanya berisi Lyssavirus, yang mirip dengan rabies. Hanya ada tiga kasus infeksi Lyssavirus yang dikonfirmasi di Australia sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 1996, semuanya berakibat fatal.

Menteri Kesehatan Queensland Tim Nicholls mengatakan kepada wartawan bahwa tidak ada alasan untuk percaya bahwa sampel tersebut dicuri dengan sengaja atau untuk tujuan jahat.

"Tentu saja, semua penelitian semacam ini dilakukan secara rahasia, tetapi kami tidak mengetahui bahwa ini telah dijadikan senjata dengan cara apa pun," ujar Nicholls.

Dia menjelaskan, "Proses menjadikan virus sebagai senjata sangat canggih, dan bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh seorang amatir."

Menurut Nicholls, tidak ada bukti virus Hendra pernah dijadikan senjata di mana pun. Virus tersebut, yang pertama kali ditemukan pada kuda pada tahun 1990-an, hanya menginfeksi segelintir manusia, tetapi banyak di antaranya yang berakibat fatal.

Pihak berwenang menyebut kasus hilangnya sampel tersebut sebagai "pelanggaran serius terhadap protokol biosekuriti" dan berjanji menyelidiki apa yang terjadi dan bagaimana hal itu tidak diketahui selama hampir dua tahun.

“Queensland Health telah mengambil langkah-langkah termasuk melatih ulang staf untuk memastikan kepatuhan berkelanjutan terhadap peraturan yang disyaratkan dan audit semua izin yang relevan untuk memastikan penyimpanan bahan yang benar,” ungkap Nicholls.

Penyelidikan tersebut akan dipimpin Hakim Mahkamah Agung Australia yang sudah pensiun, Martin Daubney, dibantu pakar biosekuriti, Dr Julian Druce, demikian yang diumumkan pihak berwenang.

Baca juga: Israel Gencarkan Invasi ke Suriah, Pasukannya Hanya Berjarak 30 Mil dari Damaskus
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
PM Australia Ungkap...
PM Australia Ungkap Pengiriman BBM Baru, Ancaman di Selat Hormuz Masih Moderat
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Australia Sita 100.000...
Australia Sita 100.000 Kecoak Selundupan, Harganya Rp2,5 Miliar
Negara Tetangga Indonesia...
Negara Tetangga Indonesia Ini dan Sekutunya Kembangkan Drone Bawah Laut
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Untuk Pertama Kalinya...
Untuk Pertama Kalinya dalam Sejarah, Vaksin Buatan AI Diuji pada Manusia
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Gempa M7,2 di Jepang:...
Gempa M7,2 di Jepang: Gedung-Gedung di Tokyo Berguncang, Korban Nihil
Rekomendasi
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan...
BPDP Unjuk Gigi Tampilkan Produk Turunan Kakao EastFood Indonesia 2026
Tanpa Kompensasi, Harga...
Tanpa Kompensasi, Harga Asli Pertamax Tembus Rp20.000 per Liter
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Kejar Angka 12
Berita Terkini
Iran Tolak Pendapat...
Iran Tolak Pendapat Menlu AS Rubio tentang Kesepakatan Damai
Trump Ungkap Turki Siap...
Trump Ungkap Turki Siap Gabung Perang Bersama Iran tapi Dicegah AS
Iran Peringatkan Kapal-kapal...
Iran Peringatkan Kapal-kapal Tidak Melintasi Selat Hormuz Tanpa Izin
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Menlu Iran Bilang Hamas:...
Menlu Iran Bilang Hamas: Gaza Penting dalam Negosiasi dengan AS
Netanyahu Terpaksa Terima...
Netanyahu Terpaksa Terima Gencatan Senjata, Israel Bersiap Tarik Pasukan
Infografis
Jarang Diketahui, Berikut...
Jarang Diketahui, Berikut Fakta Mengejutkan dari Buaya Betina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved