Restu Biden soal Rudal Jarak Jauh AS untuk Ukraina Picu Perang Dunia III? Ini Analisanya
Selasa, 19 November 2024 - 08:02 WIB
loading...
A
A
A
Revolusi Ukraina adalah momen penting dalam sejarah, dan keberanian serta ketahanan rakyatnya adalah salah satu dari sedikit harapan di dunia saat ini.
"Kami menjamin untuk melindungi kemerdekaan Ukraina ketika negara itu melucuti senjatanya secara sepihak di Budapest pada tahun 1994. Ukraina layak mendapatkan dukungan kita dan, terlebih lagi, Ukraina layak mendapatkan perhatian lebih dari pers daripada email yang menanyakan 'bagaimana dengan Perang Dunia III?' sekali atau dua kali setahun," lanjut Romanchuk.
Richard K. Betts, Sarjana Hubungan Internasional dan penulis "American Force" mengatakan pada titik ini, risiko eskalasi besar Rusia sebagai tanggapan terhadap ATACMS rendah karena Putin sekarang memiliki insentif alami untuk menunggu beberapa bulan hingga Trump menjabat dan membalikkan kebijakan AS terhadap Ukraina.
Profesor Lubomyr Luciuk, pakar dari Royal Military College of Canada, mengatakan menyediakan Ukraina dengan semua senjata yang dibutuhkan untuk mengalahkan Rusia akan meredakan konflik ini dan mencegah perang dunia.
"Jika tidak, hal itu akan menghasilkan peluang bagi 'kekuatan dan kekaisaran' yang berusaha merusak tatanan internasional berbasis aturan dan memperburuk ketidakstabilan geopolitik di seluruh dunia. Memastikan kemenangan Ukraina adalah penawar bagi perilaku predatoris dan rakus Rusia," katanya.
Dani Belo, Direktur Keamanan dan Hubungan Internasional di Global Policy Horizons Research Lab, mengatakan kemampuan Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia saat ini memang berpotensi meningkatkan perang dengan Rusia.
Namun, lanjut dia, kembalinya Trump ke Gedung Putih kemungkinan akan meredam eskalasi tersebut.
"Saat ini ada antisipasi bahwa pemerintahan Donald Trump dapat memangkas pasokan perangkat keras militer ke Ukraina dan memberikan tekanan politik pada Kyiv untuk mengakhiri konflik. Ini berarti Ukraina tidak memiliki insentif yang kuat untuk meningkatkan eskalasi sekarang, hanya untuk kehilangan kemampuan tempurnya dalam beberapa bulan," katanya.
Dari perspektif Rusia, kata Belo, saat ini juga tidak ada insentif untuk meningkatkan eskalasi.
"Moskow yakin bahwa pemerintahan Trump akan berusaha mengakhiri perang dengan cepat, sehingga Kremlin kemungkinan akan mengambil pendekatan 'tunggu dan lihat' hingga pemerintahan presiden baru memasuki Gedung Putih tanpa eskalasi yang substansial. Ini berarti setiap eskalasi kemungkinan akan terkendali," jelasnya.
"Kami menjamin untuk melindungi kemerdekaan Ukraina ketika negara itu melucuti senjatanya secara sepihak di Budapest pada tahun 1994. Ukraina layak mendapatkan dukungan kita dan, terlebih lagi, Ukraina layak mendapatkan perhatian lebih dari pers daripada email yang menanyakan 'bagaimana dengan Perang Dunia III?' sekali atau dua kali setahun," lanjut Romanchuk.
Richard K. Betts, Sarjana Hubungan Internasional dan penulis "American Force" mengatakan pada titik ini, risiko eskalasi besar Rusia sebagai tanggapan terhadap ATACMS rendah karena Putin sekarang memiliki insentif alami untuk menunggu beberapa bulan hingga Trump menjabat dan membalikkan kebijakan AS terhadap Ukraina.
Profesor Lubomyr Luciuk, pakar dari Royal Military College of Canada, mengatakan menyediakan Ukraina dengan semua senjata yang dibutuhkan untuk mengalahkan Rusia akan meredakan konflik ini dan mencegah perang dunia.
"Jika tidak, hal itu akan menghasilkan peluang bagi 'kekuatan dan kekaisaran' yang berusaha merusak tatanan internasional berbasis aturan dan memperburuk ketidakstabilan geopolitik di seluruh dunia. Memastikan kemenangan Ukraina adalah penawar bagi perilaku predatoris dan rakus Rusia," katanya.
Dani Belo, Direktur Keamanan dan Hubungan Internasional di Global Policy Horizons Research Lab, mengatakan kemampuan Ukraina untuk menyerang wilayah Rusia saat ini memang berpotensi meningkatkan perang dengan Rusia.
Namun, lanjut dia, kembalinya Trump ke Gedung Putih kemungkinan akan meredam eskalasi tersebut.
"Saat ini ada antisipasi bahwa pemerintahan Donald Trump dapat memangkas pasokan perangkat keras militer ke Ukraina dan memberikan tekanan politik pada Kyiv untuk mengakhiri konflik. Ini berarti Ukraina tidak memiliki insentif yang kuat untuk meningkatkan eskalasi sekarang, hanya untuk kehilangan kemampuan tempurnya dalam beberapa bulan," katanya.
Dari perspektif Rusia, kata Belo, saat ini juga tidak ada insentif untuk meningkatkan eskalasi.
"Moskow yakin bahwa pemerintahan Trump akan berusaha mengakhiri perang dengan cepat, sehingga Kremlin kemungkinan akan mengambil pendekatan 'tunggu dan lihat' hingga pemerintahan presiden baru memasuki Gedung Putih tanpa eskalasi yang substansial. Ini berarti setiap eskalasi kemungkinan akan terkendali," jelasnya.
(mas)
Lihat Juga :