George Soros Sangat Sedih dengan Kemenangan Donald Trump, Berikut 4 Alasannya

Sabtu, 09 November 2024 - 22:05 WIB
loading...
George Soros Sangat...
George Soros sangat sedih dengan kemenangan Donald Trump. Foto/X/@ivankatrumpo
A A A
WASHINGTON - Kepentingan finansial dan proyek politik 'dermawan' liberal George Soros, mantan investor dana lindung nilai yang beralih menjadi investor besar, mungkin akan bermasalah ketika Donald Trump kembali ke Ruang Oval, dengan dana kampanye puluhan juta, =dan bahkan keterlibatan dalam penuntutan Trump yang gagal menghentikan mantan presiden tersebut untuk kembali.

George Soros Sangat Sedih dengan Kemenangan Donald Trump, Berikut 4 Alasannya

1. Orientasi Lobi Soros Berubah

Bloomberg melaporkan bahwa Soros Fund Management berencana untuk menutup kantornya di Hong Kong sebagai bagian dari "reorganisasi administratif" yang mengejutkan setelah 14 tahun beroperasi.

Langkah tersebut mungkin menandakan persiapan oleh keluarga Soros untuk membuat perubahan besar dalam cara kerajaan soft power mereka beroperasi dengan kembalinya Trump ke tampuk kekuasaan.

2. Sudah Menggelontorkan Jutaan Dolar

Kampanye oleh Soros serta pewaris tahta Alex untuk mempertahankan seorang Demokrat di Gedung Putih telah gagal membuahkan hasil, meskipun Soros' Fund for Policy Reform telah mentransfer USD60 juta ke Future Forward, sebuah super PAC pro-Demokrat. Itu di atas sumbangan USD15 juta oleh anak perusahaan Open Society Foundations pada tahun 2023.

Selain uang, keluarga Soros menginvestasikan modal pribadi yang signifikan ke dalam kampanye melawan “Republik ala MAGA” pada tahun 2024. Pada musim semi tahun 2023, Alex Soros mengumumkan pengurangan drastis operasi OSF di Eropa Barat untuk fokus pada Ukraina, Moldova, Balkan Barat, dan Amerika Serikat, dengan upaya untuk menghentikan Trump menjadi prioritas utama.

Baca Juga: Iran Ancam Perang di Gaza dan Lebanon Bisa Meluas di Luar Timur Tengah

3. Sangat Tidak Setuju dengan Kebijakan America First

Melansir Sputnik, George Soros pertama kali membunyikan alarm atas kebijakan luar negeri Trump yang mengusung prinsip “America First” pada tahun 2016, ketika ia menggelontorkan jutaan dolar ke dalam kampanye presiden Hillary Clinton tetapi gagal melihat kandidat pilihannya terpilih.

Setelah Trump menang, Soros mendanai "gerakan perlawanan" anti-Trump, yang terwujud dalam protes jalanan, tantangan pengadilan terhadap agenda domestiknya, lobi rahasia terhadap anggota pemerintahannya, dukungan bagi anggota parlemen yang mempromosikan kebijakan luar negeri neoliberal, dan bahkan USD1 juta dalam bentuk uang tunai yang dihabiskan untuk berkas 'kolusi Trump-Rusia' yang terkenal dan telah dibantah.

Selama masa jabatan pertama Trump, Soros melobi raksasa teknologi untuk mengatur media sosial, mendanai kampanye untuk mendukung puluhan, jika tidak ratusan, jaksa dan hakim liberal, kandidat gubernur, calon anggota kongres, dan pejabat negara bagian dan lokal lainnya pada tahun 2018 dan 2020.

Soros dan pergeseran mencolok OSF dari campur tangan luar negeri menjadi campur tangan dalam politik dalam negeri AS membuat marah para pendukung Trump, yang berusaha mendeklarasikannya sebagai "teroris dalam negeri", merampas asetnya, dan mengusir miliarder kelahiran Hungaria itu dari negara tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Tingkatkan Efisiensi...
Tingkatkan Efisiensi Layanan, ASABRI Digitalisasi 2.000 Klaim Peserta
Rupiah Hari Ini Terkapar...
Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Divonis 10 Tahun Penjara,...
Divonis 10 Tahun Penjara, Nadiem Makarim Ajukan Banding
Berita Terkini
Menteri Israel Usulkan...
Menteri Israel Usulkan Rencana Relokasi Gaza yang Libatkan Mossad
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Infografis
Hasil Drawing Babak...
Hasil Drawing Babak 4: Timnas Indonesia Satu Grup dengan Irak dan Arab Saudi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved