Khalil al-Hayya Jadi Kandidat Kuat Pemimpin Hamas karena Tinggal di Qatar
Minggu, 20 Oktober 2024 - 18:05 WIB
loading...
Khalil al-Hayya akan menjadi kandidat kuat pemimpin Hamas karena tinggal di Qatar. Foto/X/@SprinterFamily
A
A
A
GAZA - Para pemimpin Hamas akan bersidang sekali lagi untuk memilih pengganti Yahya Sinwar.
Dua pejabat Hamas mengatakan kepada BBC bahwa diskusi untuk memilih pengganti pemimpin kelompok itu, Yahya Sinwar, yang pembunuhannya dikonfirmasi pada hari Kamis, akan segera dimulai.
Para pejabat itu mengatakan bahwa Khalil al-Hayya, wakil Sinwar dan pejabat paling senior kelompok itu di luar Gaza, dianggap sebagai kandidat yang kuat.
Al-Hayya, yang bermarkas di Qatar, saat ini memimpin delegasi Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata antara kelompok itu dan Israel, dan memiliki pengetahuan, hubungan, dan pemahaman yang mendalam tentang situasi di Gaza.
Para pemimpin Hamas akan kembali bersidang untuk memilih pengganti Sinwar, yang merupakan orang paling dicari Israel, hanya dua bulan setelah pembunuhan mantan pemimpin Ismail Haniyeh di Teheran.
Seorang pejabat senior Hamas menggambarkan Sinwar sebagai arsitek serangan 7 Oktober, menekankan bahwa pengangkatannya dimaksudkan sebagai pesan perlawanan yang berani terhadap Israel.
Baca Juga: 3 Rencana Serangan Israel ke Iran Bocor, dari Amunisi Canggih hingga Simulasi yang Matang
Dua pejabat Hamas mengatakan kepada BBC bahwa diskusi untuk memilih pengganti pemimpin kelompok itu, Yahya Sinwar, yang pembunuhannya dikonfirmasi pada hari Kamis, akan segera dimulai.
Para pejabat itu mengatakan bahwa Khalil al-Hayya, wakil Sinwar dan pejabat paling senior kelompok itu di luar Gaza, dianggap sebagai kandidat yang kuat.
Al-Hayya, yang bermarkas di Qatar, saat ini memimpin delegasi Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata antara kelompok itu dan Israel, dan memiliki pengetahuan, hubungan, dan pemahaman yang mendalam tentang situasi di Gaza.
Para pemimpin Hamas akan kembali bersidang untuk memilih pengganti Sinwar, yang merupakan orang paling dicari Israel, hanya dua bulan setelah pembunuhan mantan pemimpin Ismail Haniyeh di Teheran.
Seorang pejabat senior Hamas menggambarkan Sinwar sebagai arsitek serangan 7 Oktober, menekankan bahwa pengangkatannya dimaksudkan sebagai pesan perlawanan yang berani terhadap Israel.
Baca Juga: 3 Rencana Serangan Israel ke Iran Bocor, dari Amunisi Canggih hingga Simulasi yang Matang
Lihat Juga :