Eks Menhan Shigeru Ishiba Terpilih jadi Perdana Menteri Baru Jepang
Jum'at, 27 September 2024 - 16:45 WIB
loading...
A
A
A
Upaya kepemimpinan pria berusia 67 tahun itu berhasil setelah empat kali gagal menempatkan serigala penyendiri itu di pucuk pimpinan Partai Demokrat Liberal yang telah memerintah Jepang selama hampir tujuh dekade terakhir.
Ishiba mengambil alih saat partai tersebut sedang dalam krisis, setelah melihat dukungan publiknya surut selama dua tahun terakhir dengan terungkapnya hubungan dengan gereja yang dicap sebagai aliran sesat oleh para kritikus dan skandal atas sumbangan yang tidak tercatat.
Sebagai mantan menteri pertahanan yang masuk parlemen pada tahun 1986 setelah karier perbankan yang singkat, Ishiba dikesampingkan oleh perdana menteri yang akan lengser, Fumio Kishida, dan malah menjadi suara yang berbeda pendapat dalam partai tersebut.
Ishiba telah memberontak terhadap berbagai kebijakan, termasuk peningkatan penggunaan energi nuklir dan telah mengkritik partainya karena tidak mengizinkan pasangan yang sudah menikah untuk menggunakan nama keluarga yang berbeda.
"Saya menganggap ini sebagai pertempuran terakhir saya," ujar Ishiba bulan lalu ketika dia meluncurkan kampanyenya di kuil Shinto di prefektur pedesaan Tottori, tempat ayahnya menjadi gubernur dan tempat Ishiba memulai karier politiknya di puncak ekonomi gelembung Jepang yang berkembang pesat.
Ishiba mengambil alih saat partai tersebut sedang dalam krisis, setelah melihat dukungan publiknya surut selama dua tahun terakhir dengan terungkapnya hubungan dengan gereja yang dicap sebagai aliran sesat oleh para kritikus dan skandal atas sumbangan yang tidak tercatat.
Sebagai mantan menteri pertahanan yang masuk parlemen pada tahun 1986 setelah karier perbankan yang singkat, Ishiba dikesampingkan oleh perdana menteri yang akan lengser, Fumio Kishida, dan malah menjadi suara yang berbeda pendapat dalam partai tersebut.
Ishiba telah memberontak terhadap berbagai kebijakan, termasuk peningkatan penggunaan energi nuklir dan telah mengkritik partainya karena tidak mengizinkan pasangan yang sudah menikah untuk menggunakan nama keluarga yang berbeda.
"Saya menganggap ini sebagai pertempuran terakhir saya," ujar Ishiba bulan lalu ketika dia meluncurkan kampanyenya di kuil Shinto di prefektur pedesaan Tottori, tempat ayahnya menjadi gubernur dan tempat Ishiba memulai karier politiknya di puncak ekonomi gelembung Jepang yang berkembang pesat.
Lihat Juga :