Pangeran Arab Saudi Ungkap Cara Hentikan Israel Invasi Gaza

Jum'at, 20 September 2024 - 08:55 WIB
loading...
Pangeran Arab Saudi...
Pangeran Arab Saudi Turki al-Faisal ungkap cara efektif hentikan Israel menginvasi Jalur Gaza, Palestina. Foto/Arab News
A A A
RIYADH - Pangeran senior Arab Saudi Turki al-Faisal mengatakan kecaman kasar sudah tidak mempan bagi Israel untuk menghentikan invasi brutalnya di Jalur Gaza, Palestina.

Menurutnya, cara yang efektif adalah menghentikan bantuan senjata dan bantuan keuangan oleh seluruh masyarakat internasional, khususnya oleh Amerika Serikat (AS).

“Kata-kata kasar tidak akan meyakinkan [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu untuk mundur. Yang akan membuatnya mundur adalah tindakan seperti penghentian senjata, penghentian bantuan keuangan,” kata Pangeran Turki, seperti dikutip dari Al Arabiya English, Jumat (20/9/2024).

Baca Juga: Pangeran Arab Saudi Salahkan Inggris karena Menciptakan Negara Israel

"Menghentikan serangan Israel di Gaza akan membutuhkan tindakan khusus oleh Amerika Serikat dan seluruh masyarakat dunia untuk menghukum Israel atas apa yang dilakukannya,” lanjut mantan kepala mata-mata Arab Saudi tersebut.

Dia mengkritik kegagalan diplomatik yang sedang berlangsung untuk mengekang kebijakan agresif rezim Zionis Israel di Palestina.

Perihal pemilihan presiden AS yang akan berlangsung November mendatang, Pangeran Turki menyuarakan optimismenya pada Kamal Harris—wakil presiden yang juga calon presiden dari Partai Demokrat.

“Ekspresi empati dan simpatinya terhadap Palestina setidaknya, terdengar seolah-olah dia mungkin bersedia mengambil tindakan,” ujarnya, mengisyaratkan potensi perubahan dari apa yang dianggap tidak ada tindakan di bawah pemerintahan Joe Biden.

Putra almarhum Raja Faisal ini juga mengomentari perubahan dinamika opini publik Amerika karena keterlibatan asing yang berkepanjangan di Irak dan Afghanistan.

Dia mengomentari sentimen nasional yang telah lelah dengan pengeluaran militer luar negeri. “Hal ini, tentu saja, menyebabkan orang-orang di Amerika menyerukan penolakan terhadap intervensinya,” katanya.

Lebih lanjut, dia kembali mengkritik Inggris atas kebijakannya terhadap Israel. Dia mengkritik langkah-langkah terbaru oleh pemerintah Inggris untuk menangguhkan sekitar 30 dari 350 lisensi ekspor senjata ke Israel, dengan alasan tindakan tersebut tidak cukup mengingat peran historis Inggris dalam membentuk nasib kawasan tersebut melalui Deklarasi Balfour dan keputusan kebijakan berikutnya.

"Kemarin, dalam sebuah pidato di salah satu lembaga Inggris, saya mengusulkan agar mereka mengakui Negara Palestina setelah bertahun-tahun, terutama dengan Inggris yang memiliki tanggung jawab khusus sebagai pihak yang memulai semua ini dengan Deklarasi Balfour dan tindakan selanjutnya yang mereka ambil atau tidak ambil, mereka perlu membuat langkah maju dalam aspek Negara Palestina tersebut," paparnya.

Pangeran Turki juga membahas peran pengungkit kekuasaan tradisional seperti minyak bagi negara-negara Teluk untuk memengaruhi situasi, menepis anggapan bahwa tindakan serupa dengan embargo tahun 1970-an dapat efektif saat ini.

“Saat ini, sayangnya, senjata minyak tidak dapat digunakan karena keadaan pasar minyak telah berubah,” jelasnya, yang menunjukkan pergeseran dalam dinamika energi global yang membatasi pengaruh yang sebelumnya dimiliki oleh negara-negara pengekspor minyak.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Iran: Sifat Dasar AS...
Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
Ancaman Nyata Zionis...
Ancaman Nyata Zionis Bukan Iran, Industri Militer Israel Berlomba Melawan Drone Hizbullah
Helikopter Saudi Aramco...
Helikopter Saudi Aramco Jatuh, 14 Orang Tewas
Iran Tuduh AS Khianati...
Iran Tuduh AS Khianati Perjanjian Damai saat Kedua Pihak Saling Serang
Berani Tanpa AS, Netanyahu:...
Berani Tanpa AS, Netanyahu: Kami akan Masuk ke Iran
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Serangan Pembalasan...
Serangan Pembalasan Iran ke Pangkalan Militer AS Makan Korban, 1 Warga Qatar Tewas
Rekomendasi
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Penembakan di Fan Zone...
Penembakan di Fan Zone Piala Dunia 2026, Satu Orang Tewas dan Satu Kritis
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
Arab Saudi Bangun Jalur...
Arab Saudi Bangun Jalur Kereta Api Landbridge Rp116 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved