Sibuk Bela Israel dari Ancaman Iran, AS Kosongkan Pasifik Tanpa Kapal Induk

Selasa, 27 Agustus 2024 - 12:02 WIB
loading...
Sibuk Bela Israel dari...
USS Abraham Lincoln, salah satu kapal induk AS yang siaga di Timur Tengah untuk bela Israel dari ancaman serangan Iran. AS saat ini kosongkan Samudra Pasifik tanpa kapal induk mereka. Foto/Zona-Militar
A A A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) telah mengosongkan kawasan Samudra Pasifik tanpa kehadiran kapal induk mereka.

Salah satu penyebabnya, Washington terlalu sibuk membela Israel dari ancaman serangan Iran dan proksinya hingga harus menempatkan dua kapal induk dan kelompok serangnya di Timur Tengah.

Mengutip laporan Naval News, Selasa (27/8/2024), penempatan Kelompok Penyerang Kapal Induk USS Abraham Lincoln (CVN 72) dari wilayah operasi Armada ke-7 ke wilayah operasi Armada ke-5 telah membuat Amerika Serikat tidak memiliki kapal induk yang dikerahkan di Samudra Pasifik, pada saat mereka sangat dibutuhkan.

Baca Juga: Iran Tak Kunjung Serang Israel, AS Perpanjang Kehadiran 2 Kapal Induknya di Timur Tengah

Keberangkatan USS Abraham Lincoln bertepatan dengan perubahan pelabuhan asal kapal induk USS Ronald Reagan (CVN 76) dari Yokosuka, Jepang ke Bremerton, Washington. Pengganti USS Ronald Reagan, USS George Washington (CVN 73) masih berada di San Diego untuk kunjungan pelabuhan yang dijadwalkan.

Kapal induk Angkatan Laut AS lainnya yang berbasis di Pasifik berada di pelabuhan atau dalam periode ketersediaan pemeliharaan.

Dari enam kapal induk di Pasifik, USS Carl Vinson baru-baru ini berpartisipasi dalam RIMPAC 2024, USS Nimitz baru-baru ini menyelesaikan periode ketersediaan tambahan yang direncanakan selama enam bulan untuk pemeliharaan, USS Ronald Reagan baru-baru ini menyelesaikan pemindahan pelabuhan asal ke Pangkalan Angkatan Laut Kitsap, dan USS George Washington akan tetap berada di San Diego hingga pertukaran awak dan peralatan dari USS Ronald Reagan selesai.

Kelompok Penyerang Kapal Induk USS Theodore Roosevelt dan USS Abraham Lincoln keduanya dikerahkan di wilayah operasi Armada ke-5 sebagai respons terhadap kemungkinan meningkatnya konflik regional besar di Timur Tengah.

USS Theodore Roosevelt mendekati bulan kesebelas pengerahannya, dan USS Abraham Lincoln memangkas pengerahan Armada ke-7-nya lebih cepat setelah Menteri Pertahanan Lloyd Austin memerintahkan kapal induk itu ke Timur Tengah di tengah penumpukan pasukan AS di wilayah tersebut.

Dengan tidak adanya kapal induk AS di Pasifik selama setidaknya tiga minggu, Angkatan Laut Amerika meninggalkan celah kritis dalam cakupan di wilayah tempat kebuntuan dan insiden sering terjadi, seperti yang terlihat minggu ini ketika kapal Coast Guard China (CCG) bertabrakan dengan kapal Coast Guard Filipina (PCG) di Laut China Selatan dekat pos terdepan Filipina di wilayah tersebut.

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan juga mengumumkan beberapa latihan tembak langsung dengan senjata berpemandu presisi, termasuk serangkaian uji coba dengan rudal permukaan-ke-udara PAC-2 dan Tien Kung III serta rudal antikapal Hsiung Feng II-E.

Di antara Timur Tengah, periode pemeliharaan, dan Indo-Pasifik, armada kapal induk Angkatan Laut AS kewalahan untuk mempertahankan kehadiran yang sangat dibutuhkan di seluruh dunia.

Pada akhir bulan depan, kemungkinan besar kapal induk USS George Washington (CVN 73) akan berada di Armada ke-7 saat tiba di Yokosuka sebagai kapal induk Angkatan Laut AS berikutnya yang dikerahkan ke garis depan.

Alex Luck, pakar pertahanan Angkatan Laut, mengatakan absennya kapal induk Amerika dari wilayah Samudra Pasifik tidak menimbulkan risiko langsung, namun tetap memiliki dampak jangka panjang.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, kesenjangan kehadiran langsung mungkin bukan masalah serius. Namun, bagaimanapun juga, penempatan di tempat lain tetap menguras tenaga dan awak kapal, dengan dampak yang jelas di kemudian hari, terkait ketersediaan," ujarnya.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Gempa M6,0 Guncang Pantai...
Gempa M6,0 Guncang Pantai Barat Meksiko
Bangunan Bimbingan Belajar...
Bangunan Bimbingan Belajar Ambruk, 14 Anak Tewas
Rekomendasi
Forum GPI4 di Peru,...
Forum GPI4 di Peru, Indonesia Tegaskan Komitmen Lindungi Gambut Dunia
Shuttle Open 2026 Sajikan...
Shuttle Open 2026 Sajikan Duel Para Legenda
HUT Bhayangkara: Mampukah...
HUT Bhayangkara: Mampukah Polri Melindungi Kritik Tanpa Mengkriminalisasi Warga?
Berita Terkini
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Infografis
6 Strategi Iran Memperpanjang...
6 Strategi Iran Memperpanjang Durasi Perang dengan AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved