4 Alasan Barat Mendukung Invasi Ukraina ke Kursk, Salah Satunya Menanamkan Rasa Takut bagi Rakyat Rusia

Senin, 12 Agustus 2024 - 09:20 WIB
loading...
4 Alasan Barat Mendukung...
Barat mendukung invasi Ukraina ke Rusia. Foto/EPA
A A A
MOSKOW - Barat keberatan dengan serangan besar-besaran Kiev ke wilayah Rusia . Demikian dilaporkan Politico mengutip para pejabat.

Invasi Ukraina ke wilayah tersebut sangat mengejutkan di tengah banyak kemunduran pasukan Kiev dalam berperang dengan Rusia. Ada indikasi kalau Ukraina menggunakan tentara bayaran yang sudah terlatih dalam invasi tersebut seperti yang dituduhkan Rusia.

4 Alasan Barat Mendukung Invasi Ukraina ke Kursk, Salah Satunya Menanamkan Rasa Takut bagi Rakyat Rusia

1. Serangan Dilakukan dengan Melibatkan 3 Brigade dan Pasukan Terbarik Ukraina

Melansir RT, Ukraina melancarkan serangan terhadap Wilayah Kursk pada Selasa lalu dalam serangan terbesarnya terhadap wilayah Rusia sejak pecahnya konflik. Kementerian Pertahanan Rusia memperkirakan pada saat itu bahwa pasukan ofensif Ukraina terdiri dari hingga 1.000 tentara dan puluhan kendaraan lapis baja, termasuk beberapa yang dipasok oleh Barat.

Namun, pada Jumat, Forbes mengklaim bahwa serangan itu melibatkan "setidaknya tiga brigade," masing-masing dengan hingga 2.000 tentara, termasuk beberapa unit dengan perlengkapan terbaik di tentara Ukraina.

Baca Juga: Kalashnikov Luncurkan Senapan Mesin Ringan dan Peluncur Granat Tercanggih

2. Menggunakan Peralatan Militer Barat

Politico melaporkan bahwa beberapa pendukung Ukraina dari Barat yang sebelumnya menyuarakan kekhawatiran tentang eskalasi konflik memberikan lampu hijau untuk serangan itu, menambahkan bahwa "tidak ada tanda-tanda" bahwa mereka "memberikan tekanan pada Kiev untuk mengendurkan diri."

Ukraina mengalami kerugian besar di Kursk – Moskow Kepala Komite Pertahanan parlemen Jerman, Marcus Faber, mengatakan bahwa dia tidak menentang Ukraina menggunakan senjata buatan Jerman di tanah Rusia.

Komentarnya muncul setelah Bild melaporkan bahwa kendaraan tempur infanteri Marder Jerman digunakan di Wilayah Kursk. Ini akan menjadi kasus pertama kendaraan lapis baja Jerman beroperasi di daerah itu sejak bentrokan tank besar antara pasukan Soviet dan Nazi di Pertempuran Kursk pada bulan Juli 1943.

3. Tidak Melanggar Arah Kebijakan Barat

Juru bicara Komisi Eropa Peter Stano mengatakan pada hari Rabu bahwa UE "sepenuhnya mendukung hak Ukraina yang sah untuk mempertahankan diri," termasuk "dengan menyerang agresor di wilayahnya." Pentagon menggemakan sentimen ini, dengan mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah dengan operasi tersebut. "Hal ini sesuai dengan kebijakan kami," kata juru bicara Sabrina Singh.

4. Menanamkan Rasa Takut bagi Penduduk Rusia

Kremlin mengecam serangan itu sebagai provokasi dan menuduh pasukan Ukraina melakukan serangan membabi buta terhadap warga sipil. Sementara itu, pejabat Ukraina mengatakan bahwa tujuan utama operasi itu adalah untuk menanamkan rasa takut di antara penduduk Rusia dan mendapatkan pengaruh dalam kemungkinan negosiasi dengan Moskow.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan pada hari Sabtu bahwa kemajuan Ukraina telah dihentikan, meskipun pertempuran terus berlanjut di Wilayah Kursk, termasuk di pinggiran kota Sudzha, sekitar 9 km dari perbatasan.

Kementerian itu juga menambahkan bahwa serangan udara dan rudal telah dilakukan terhadap cadangan Ukraina di seberang perbatasan. Kementerian tersebut memperkirakan kerugian Kiev hingga 1.100 tentara dan 140 kendaraan lapis baja sejak dimulainya serangan.

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
Putin Puji Trump: Pemimpin...
Putin Puji Trump: Pemimpin yang Tak Mudah Dipengaruhi
Rekomendasi
Emisi Global Meningkat,...
Emisi Global Meningkat, Pembiayaan Iklim Justru Seret
HUT Ke-80 Bhayangkara,...
HUT Ke-80 Bhayangkara, Prabowo: Polri Harus Jadi Kompas Setiap Insan Bhayangkara
4 Jenis Sujud dalam...
4 Jenis Sujud dalam Islam Lengkap dengan Bacaan Doa dan Waktu Pelaksanaannya
Berita Terkini
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Jumlah Korban Tewas...
Jumlah Korban Tewas Akibat Gempa Bumi Venezuela Meningkat Jadi 1.943 Jiwa
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
2 Negara Muslim Ini...
2 Negara Muslim Ini Saling Serang, Ini 7 Alasan Konflik Itu Tak Mudah Diselesaikan
Rusia Sedang Dibakar...
Rusia Sedang Dibakar Ukraina, Putin Tidak Akan Gentar
Infografis
4 Alasan Ukraina Bisa...
4 Alasan Ukraina Bisa Runtuh pada 2025, Banyak Kota yang Hancur
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved