Trump Ancam Bebaskan Ribuan Anggota ISIS ke Negara Asalnya
Kamis, 22 Agustus 2019 - 09:04 WIB
Trump Ancam Bebaskan Ribuan Anggota ISIS ke Negara Asalnya
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Donald Trump menyerukan Jerman dan Prancis serta negara-negara Eropa untuk memulangkan kembali warganya yang ditangkap setelah berperang untuk Negara Islam (ISIS) di Suriah dan Irak. Jika tidak, ia memperingatkan, AS tidak punya pilihan selain membebaskan mereka ke negara-negara asalnya.
"Kami menahan ribuan pejuang ISIS sekarang. Dan Eropa harus membawanya kembali," kata Trump.
"Jika Eropa tidak mengambilnya, Saya tidak punya pilihan selain melepaskan mereka ke negara-negara asal mereka. Yaitu Jerman dan Prancis dan tempat-tempat lain," imbuhnya seperti dikutip dari Al Araby, Kamis (22/8/2019).
Trump mengatakan AS dan sekutunya menahan "ribuan" anggota ISIS setelah memaksa kelompok ekstremis itu untuk meninggalkan wilayah terakhir yang dipegangnya di Suriah.
"Kami menangkap mereka, kami punya ribuan, dan sekarang seperti biasa sekutu kami tidak menginginkan mereka," ujarnya.
"Amerika Serikat tidak akan menempatkan mereka di Guantanamo selama 50 tahun ke depan dan membayarnya," cetusnya.
Sebuah laporan Pentagon baru-baru ini mengatakan bahwa ISIS sedang mereformasi dan meluncurkan serangan setelah kehilangan kendali atas wilayah fisik di Irak dan Suriah.
Ditanya oleh wartawan apakah dia khawatir tentang kemunculan kembali ISIS di Irak, Trump mengatakan pasukan di bawah kepemimpinannya telah memusnahkan kekhalifahan ekstremis.
Dia juga mengatakan bahwa negara-negara lain juga perlu memerangi para ekstremis Islam ketika AS merundingkan penarikan dari Afghanistan.
"Kami memusnahkan kekhalifahan 100 persen. Saya melakukannya dalam waktu singkat. Tetapi pada titik tertentu, semua negara-negara lain, di mana ISIS ada harus melawan mereka. Karena apakah kami ingin tinggal di sana 19 tahun lagi? Kurasa tidak," ucap Trump.
"Pada titik tertentu Rusia, Afghanistan, Iran, Irak, Turki, mereka juga harus berperang," imbuhnya.
Trump kemudian menunjuk India dan Pakistan sebagai negara garis depan yang melakukan sedikit untuk memerangi kelompok ekstrimis.
"Lihat, India ada di sana, mereka tidak melawannya, kita melawannya. Pakistan di sebelah. Mereka melawannya, sangat sedikit, itu tidak adil. Amerika Serikat berjarak tujuh ribu mil jauhnya," tukasnya.
Pemerintahan Trump telah mengurangi kehadiran militer AS di Suriah dan Irak dan sedang merundingkan penarikan AS dari Afghanistan dengan gerilyawan Taliban. Namun para ahli pertahanan memperingatkan bahwa kekosongan yang ditinggalkan oleh AS dapat memungkinkan kebangkitan ekstremis.
"Kami menahan ribuan pejuang ISIS sekarang. Dan Eropa harus membawanya kembali," kata Trump.
"Jika Eropa tidak mengambilnya, Saya tidak punya pilihan selain melepaskan mereka ke negara-negara asal mereka. Yaitu Jerman dan Prancis dan tempat-tempat lain," imbuhnya seperti dikutip dari Al Araby, Kamis (22/8/2019).
Trump mengatakan AS dan sekutunya menahan "ribuan" anggota ISIS setelah memaksa kelompok ekstremis itu untuk meninggalkan wilayah terakhir yang dipegangnya di Suriah.
"Kami menangkap mereka, kami punya ribuan, dan sekarang seperti biasa sekutu kami tidak menginginkan mereka," ujarnya.
"Amerika Serikat tidak akan menempatkan mereka di Guantanamo selama 50 tahun ke depan dan membayarnya," cetusnya.
Sebuah laporan Pentagon baru-baru ini mengatakan bahwa ISIS sedang mereformasi dan meluncurkan serangan setelah kehilangan kendali atas wilayah fisik di Irak dan Suriah.
Ditanya oleh wartawan apakah dia khawatir tentang kemunculan kembali ISIS di Irak, Trump mengatakan pasukan di bawah kepemimpinannya telah memusnahkan kekhalifahan ekstremis.
Dia juga mengatakan bahwa negara-negara lain juga perlu memerangi para ekstremis Islam ketika AS merundingkan penarikan dari Afghanistan.
"Kami memusnahkan kekhalifahan 100 persen. Saya melakukannya dalam waktu singkat. Tetapi pada titik tertentu, semua negara-negara lain, di mana ISIS ada harus melawan mereka. Karena apakah kami ingin tinggal di sana 19 tahun lagi? Kurasa tidak," ucap Trump.
"Pada titik tertentu Rusia, Afghanistan, Iran, Irak, Turki, mereka juga harus berperang," imbuhnya.
Trump kemudian menunjuk India dan Pakistan sebagai negara garis depan yang melakukan sedikit untuk memerangi kelompok ekstrimis.
"Lihat, India ada di sana, mereka tidak melawannya, kita melawannya. Pakistan di sebelah. Mereka melawannya, sangat sedikit, itu tidak adil. Amerika Serikat berjarak tujuh ribu mil jauhnya," tukasnya.
Pemerintahan Trump telah mengurangi kehadiran militer AS di Suriah dan Irak dan sedang merundingkan penarikan AS dari Afghanistan dengan gerilyawan Taliban. Namun para ahli pertahanan memperingatkan bahwa kekosongan yang ditinggalkan oleh AS dapat memungkinkan kebangkitan ekstremis.
(ian)