Hamas Tunjuk Yahya Sinwar sebagai Pemimpin Baru setelah Pembunuhan Ismail Haniyeh

Rabu, 07 Agustus 2024 - 02:36 WIB
loading...
Hamas Tunjuk Yahya Sinwar...
Yahya Al Sinwar (tengah) melambaikan tangan kepada para pendukungnya selama pawai Hamas untuk memperingati ulang tahun ke-31 kelompok tersebut, di Kota Gaza, Jalur Gaza, 16 Desember 2018. Foto/EPA-EFE/MOHAMMED SABER
A A A
GAZA - Hamas mengumumkan mereka telah memilih Yahya Sinwar, yang memimpin gerakan di dalam Jalur Gaza, sebagai pemimpin baru biro politik kelompok tersebut.

Pemilihan itu diumumkan setelah pembunuhan Ismail Haniyeh bulan lalu di Teheran.

Juru bicara Hamas Osama Hamdan mengatakan Sinwar dipilih dengan suara bulat sebagai pemimpin baru, yang mencerminkan pemahaman gerakan tersebut tentang kebutuhan kelompok saat ini.

Dia menambahkan Sinwar selalu terlibat dalam negosiasi gencatan senjata dengan Israel.

"Gerakan Perlawanan Islam Hamas mengumumkan pemilihan Komandan Yahya Sinwar sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan Komandan Ismail Haniyeh yang telah wafat, semoga Allah merahmatinya," ungkap pernyataan Hamas.

Sinwar, yang dekat dengan pendiri Hamas Sheikh Ahmed Yassin dan dikenal sebagai pendiri badan keamanan internal Hamas, sebelumnya dijatuhi hukuman oleh Israel dengan empat hukuman seumur hidup pada akhir tahun 1980-an.

Sinwar menjalani hukuman 23 tahun karena memimpin aparat keamanan internal pertama kelompok itu, Majd, yang menargetkan dan membunuh warga Palestina yang diduga bekerja sama dengan Israel.

Pada tahun 2011, dia dibebaskan bersama 1.047 tahanan Palestina dengan imbalan tentara Israel Gilad Shalit, yang diculik pejuang Palestina dalam serangan lintas batas pada tahun 2006.

Sinwar, mantan komandan sayap militer Hamas, kembali ke jabatannya sebagai pemimpin terkemuka di Hamas dan terpilih sebagai kepala kantor politik Hamas di Gaza pada tahun 2017, menggantikan Haniyeh yang menjabat pada saat itu.

Pada tahun 2021, dia terpilih kembali untuk masa jabatan empat tahun lagi sebagai kepala Hamas di Gaza.

Keputusan itu diambil setelah Haniyeh terbunuh di Teheran pada tanggal 31 Juli. Haniyeh telah melakukan perjalanan ke Iran untuk menghadiri upacara pelantikan Masoud Pezeshkian, presiden baru Iran, dan tinggal di kediaman veteran perang tempat dia dilaporkan terkena "proyektil".

Pemimpin Hamas lainnya yang dianggap sebagai pengganti potensial Haniyeh adalah Khaled Meshaal, Khalil al-Hayya, Mousa Abu Marzouk, Mohammed Deif, dan Marwan Issa.

Tidak seperti Haniyeh, yang menghabiskan waktu perang Israel di Gaza di luar daerah kantong yang dikepung itu, Sinwar telah berada di dalam Gaza tempat dia terus-menerus menjadi target militer Israel.

Pejabat AS yang sebelumnya berbicara dengan MEE mengatakan AS memperluas upaya pencariannya terhadap Sinwar di seluruh wilayah, setelah meyakini pria berusia 61 tahun itu bersembunyi di terowongan jauh di bawah Gaza.

Pada bulan April, seorang pejabat Hamas dilaporkan mengatakan Sinwar telah mengunjungi zona pertempuran di Gaza di atas tanah dan tidak selalu tinggal di terowongan. Middle East Eye tidak dapat memverifikasi laporan ini secara independen.

Seorang perwira Israel mengatakan kepada Middle East Eye pada Mei bahwa Sinwar telah menjadi target nomor satu Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menghentikan upaya untuk menyelamatkan sandera Israel di Gaza dan malah menjadikan pengejaran terhadap Sinwar sebagai prioritas utama.

“Operasi Netanyahu di Gaza pada dasarnya ditujukan untuk ... memburu Yahya Sinwar,” ujar perwira di Gaza tersebut, seraya menambahkan perang tersebut telah menjadi “pribadi” bagi pemimpin Israel tersebut.

Baca juga: Game Over? Penangkapan Tentara Israel di Jabaliya Dapat Ubah Aturan Permainan di Gaza
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Siapa Ahmed Wishah?...
Siapa Ahmed Wishah? Jurnalis Al Jazeera yang Dibunuh Israel
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Australia Beri Peringatan:...
Australia Beri Peringatan: El Nino Kali Ini Akan Jadi yang Terkuat dalam Tujuh Dekade
Wapres AS Blak-blakan:...
Wapres AS Blak-blakan: Trump Tak Akur dengan Netanyahu soal Perang Iran
Rekomendasi
Penahanan Roy Suryo...
Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangguhkan Kejaksaan, Kapolri: Kewajiban Kami Telah Selesai
Unpad Umumkan Hasil...
Unpad Umumkan Hasil SMUP 2026 Hari Ini, Cek Info Registrasi hingga UKT
Tingkatkan Layanan Kesehatan...
Tingkatkan Layanan Kesehatan di Rumah Sakit, RS Pelni Gelar Pelatihan AI
Berita Terkini
Gelombang Panas Sengat...
Gelombang Panas Sengat Eropa, 18 Orang Tewas di Prancis
Siapa Bagher Ghalibaf?...
Siapa Bagher Ghalibaf? Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Menundukkan AS
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Viral, Robot China Ini...
Viral, Robot China Ini Mengemis di Jalan untuk Bayar Listrik
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved