Riwayat Karier Politik Ismail Haniyeh, Pemimpin Senior Hamas yang Pernah Jadi Perdana Menteri

Rabu, 31 Juli 2024 - 12:45 WIB
loading...
Riwayat Karier Politik...
Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh berbicara kepada para pendukung Hamas selama rapat umum memperingati ulang tahun ke-30 kelompok tersebut, di Kota Gaza, Jalur Gaza pada tanggal 14 Desember 2017. Foto/EPA-EFE/MOHAMMED SABER
A A A
GAZA - Pemimpin senior Hamas Ismail Haniyeh dilaporkan tewas dalam serangan di Iran. Kabar ini muncul menyusul pernyataan yang dibuat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC).

Melihat ke belakang, Haniyeh menjadi salah satu sosok penting di kelompok Hamas. Tak tanggung-tanggung, posisinya adalah Ketua Biro Politik Hamas.

Berkaca pada statusnya, Haniyeh sebenarnya sering masuk dalam daftar rencana pembunuhan oleh intelijen dan militer Israel. Lebih jauh, berikut ini riwayat politik Ismail Haniyeh yang bisa diketahui.

Riwayat Politik Ismail Haniyeh


Lahir pada 29 Januari 1962, Ismail Haniyeh tumbuh di kamp pengungsi Shati, Jalur Gaza. Sebagaimana anak-anak lain, dia menghabiskan pendidikan dasarnya di sekolah yang dijalankan PBB.

Beranjak dewasa, Haniyeh masuk Universitas Islam Gaza. Selama kuliah, dia terkenal cukup aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk bergabung dengan asosiasi mahasiswa Islam yang terafiliasi Ikhwanul Muslimin.

Selama intifada pertama, Haniyeh bergabung dengan Hamas dan menjadi salah satu anggota termuda. Atas aksinya, dia bahkan sempat ditangkap otoritas Israel pada 1988 dan akhirnya diasingkan ke Lebanon.



Saat kembali ke Palestina, Haniyeh mendapat sambutan hangat dari Hamas. Dia bahkan disebut juga sempat ditunjuk menjadi dekan di Universitas Islam.

Peran strategis Haniyeh di Hamas dimulai pada 1997. Waktu itu, dia menjadi sekretaris pribadi pemimpin spiritual Hamas, Ahmed Yassin. Maka dari itu, tak jarang dirinya turut menjadi target percobaan pembunuhan oleh Israel.

Setelah kematian pemimpin Hamas sebelumnya, Haniyeh ditunjuk menjadi bagian kepemimpinan kolektif rahasia. Sebagai hasilnya, dia sukses membawa Hamas memenangkan pemilihan legislatif tahun 2006.

Alhasil, Haniyeh pun berhak untuk menjadi Perdana Menteri Otoritas Palestina (PA). Namun, hal ini mendapat tanggapan negatif dari pihak luar, khususnya negara-negara Barat yang langsung menghentikan bantuan kemanusiaan untuk Palestina.

Pada Juni 2007, Presiden Mahmoud Abbas dari Partai Fatah memecat Haniyeh dan membubarkan pemerintahannya. Hal ini membuat Hamas akhirnya mendirikan pemerintahan otonomi tersendiri di Jalur Gaza.

Setelahnya, terjadi upaya rekonsiliasi antara Hamas di Jalur Gaza dan Otoritas Palestina (PA) yang dipimpin Fatah di Tepi Barat. Pada 2014, terjadi kesepakatan yang membuat pemerintah faksional Hamas di Gaza mengundurkan diri.

Hal tersebut juga membuat Haniyeh melepaskan jabatannya sebagai perdana menteri. Namun, dia tetap dikenal sebagai pemimpin lokal Hamas di Gaza.

Pada 2017, Haniyeh terpilih sebagai kepala biro politik Hamas. Dia menggantikan Khaled Meshaal.

Seiring naiknya status jabatannya di Hamas, keselamatan Haniyeh juga semakin terancam. Akhirnya, sekitar Desember 2019, dia meninggalkan Jalur Gaza dan mulai menetap di negara tetangga.

Setelah itu, Haniyeh tetap mengendalikan jalannya operasi Hamas dari jarak jauh. Selama Perang Israel-Hamas terbaru, dia juga memimpin delegasi Hamas dalam negosiasi yang dimediasi oleh Qatar dan Mesir.

Berulang kali selamat dari aksi percobaan pembunuhan, Ismail Haniyeh dilaporkan tewas di Iran baru-baru ini.

Kabar ini tentunya cukup mengejutkan mengingat sebelumnya Haniyeh terbilang sebagai sosok gesit yang sulit dilacak.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh Tewas di Iran
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Begini Cara Bos FIFA...
Begini Cara Bos FIFA Gunakan Geopolitik di Panggung Piala Dunia
Media Pro-IRGC: Iran...
Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Dugaan Aroma Konspirasi...
Dugaan Aroma Konspirasi 'Aib Gijon' di Piala Dunia 2026, Sengaja Singkirkan Iran?
Laporan Media: Iran...
Laporan Media: Iran - AS Sepakat Hentikan Serangan, Gelar Pertemuan Darurat di Qatar
Tragis! 5 Orang Sekeluarga...
Tragis! 5 Orang Sekeluarga Tewas Disambar Petir
Rekomendasi
Manfaat MBG Dirasakan...
Manfaat MBG Dirasakan Petani dan Pedagang di Pedesaan dan Daerah 3T
Diumumkan Besok, Ini...
Diumumkan Besok, Ini Link Resmi Hasil Seleksi SMMPTN-Barat 2026
Ini Makna Logo HUT ke-81...
Ini Makna Logo HUT ke-81 RI yang Telah Resmi Diluncurkan
Berita Terkini
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Israel Akui Genosida...
Israel Akui Genosida Armenia, Dikecam karena Juga Lakukan Genosida Gaza
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
10 Kali Amerika Serikat...
10 Kali Amerika Serikat dan Iran Duduk di Meja Perundingan, tapi Perang Terus Berlanjut, Ini Penyebabnya
Infografis
Penerima Bansos 2026...
Penerima Bansos 2026 Wajib Tahu! Ini Penjelasan Desil yang Jadi Penentu Kelayakan Bantuan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved