Tentara Ukraina Tidak Mau Bertempur Melawan Rusia
Sabtu, 27 Juli 2024 - 15:05 WIB
loading...
A
A
A
Carpathian Sich adalah unit yang seluruhnya terdiri dari sukarelawan pada awal konflik dengan Rusia. "Mereka semua tewas atau terluka" sekarang, katanya.
Baca Juga: Apa itu DEI? Istilah yang Digunakan Partai Republik untuk Menyerang Kamala Harris
Salah satu instruktur, seorang sukarelawan asing yang diidentifikasi hanya sebagai 'Ares', masih memiliki peluru di kakinya dan gangguan stres pascatrauma. "Saya lelah," katanya kepada AFP. "Semua veteran tewas, atau terluka, atau putus asa, seperti saya."
Tentara Ukraina telah hancur lebur oleh pertempuran selama dua setengah tahun, menurut AFP. Pada bulan Mei, pemerintah di Kiev mengubah aturan mobilisasi untuk merekrut lebih banyak orang – terkadang dengan kekerasan. Salah satu rekrutan adalah seorang tukang pos berusia 24 tahun dari Ukraina barat yang mengatakan bahwa ia pergi untuk memperbarui registrasi militernya tetapi malah dikirim ke garis depan. Yang lainnya diculik dari jalan saat berangkat kerja.
“Tidak semua orang cocok untuk bertempur,” kata salah satu instruktur, Farik, kepada AFP. “Mengapa harus memaksa orang yang tidak mau bertempur?”
Baca Juga: Apa itu DEI? Istilah yang Digunakan Partai Republik untuk Menyerang Kamala Harris
Salah satu instruktur, seorang sukarelawan asing yang diidentifikasi hanya sebagai 'Ares', masih memiliki peluru di kakinya dan gangguan stres pascatrauma. "Saya lelah," katanya kepada AFP. "Semua veteran tewas, atau terluka, atau putus asa, seperti saya."
Tentara Ukraina telah hancur lebur oleh pertempuran selama dua setengah tahun, menurut AFP. Pada bulan Mei, pemerintah di Kiev mengubah aturan mobilisasi untuk merekrut lebih banyak orang – terkadang dengan kekerasan. Salah satu rekrutan adalah seorang tukang pos berusia 24 tahun dari Ukraina barat yang mengatakan bahwa ia pergi untuk memperbarui registrasi militernya tetapi malah dikirim ke garis depan. Yang lainnya diculik dari jalan saat berangkat kerja.
“Tidak semua orang cocok untuk bertempur,” kata salah satu instruktur, Farik, kepada AFP. “Mengapa harus memaksa orang yang tidak mau bertempur?”
Lihat Juga :