6 Negara dengan Populasi Muslim Tinggi yang Melarang Penggunaan Cadar

Rabu, 26 Juni 2024 - 22:22 WIB
loading...
A A A
Anak perempuan juga secara informal dilarang mengenakan jilbab di sekolah. Pada tahun 2011, aktivis agama mengorganisir serangkaian protes yang menuntut pemerintah menghapus larangan tersebut, namun tidak berhasil. Larangan tersebut tetap tidak tersentuh.

Pada saat yang sama, masyarakat Azerbaijan masih sangat sekuler dan waspada terhadap hijab. Ketakutan tersebut semakin meningkat dengan meningkatnya jumlah wisatawan dari Iran dan negara-negara Arab dalam beberapa tahun terakhir.

5. Kazakhstan

6 Negara dengan Populasi Muslim Tinggi yang Melarang Penggunaan Cadar

Foto/AP

Pemerintah Kazakhstan telah melarang jilbab bagi siswa dan guru di sekolah pada Oktober 2023. Para pejabat menekankan perlunya melestarikan sekularisme, sementara itu beberapa anak perempuan putus sekolah sebagai bentuk protes.

“Persyaratan seragam sekolah melarang pemakaian jilbab, karena atribut, simbol, elemen apa pun dalam satu atau lain cara menyiratkan propaganda dogma yang terkait. Menjamin kesetaraan semua agama di depan hukum, prinsip-prinsip sekularisme melakukan tidak mengizinkan keuntungan dari agama apa pun,” demikian bunyi pernyataan di bagian “Untuk warga negara” di situs web pemerintah Kazakh, tertanggal 16 Oktober 2023.

Pernyataan itu juga melarang hijab bagi guru sekolah. Namun ditegaskan larangan tersebut tidak berlaku di luar sekolah.

Menurut angka resmi, hampir 70% penduduk Kazakhstan menganut agama Islam. Namun baik pendukung maupun penentang larangan tersebut dengan cepat menyatakan diri. Para pendukungnya menekankan bahwa Kazakhstan adalah negara sekuler dan oleh karena itu harus menghindari pengistimewaan terhadap agama tertentu. Namun para penentangnya percaya bahwa pembatasan tersebut melanggar prinsip kebebasan hati nurani, dan beberapa pihak telah mengambil tindakan ekstrim untuk memprotes larangan tersebut.

6. Kyrgyzstan.

6 Negara dengan Populasi Muslim Tinggi yang Melarang Penggunaan Cadar

Foto/AP

Berlatar belakang kampanye presiden, perdebatan di Kyrgyzstan mengenai posisi Islam dalam kehidupan publik semakin memanas sejak Oktober 2011.

Perdebatan ini berpusat pada upaya kelompok masyarakat sipil Muslim untuk memungkinkan siswi mengenakan jilbab di sekolah umum. Kampanye ini mengadu domba dua badan pemerintah, sekaligus memicu perdebatan di kalangan liberal mengenai batas-batas yang memisahkan masjid dan negara.

Kyrgyzstan bukan satu-satunya negara pasca-Soviet yang berpenduduk mayoritas Muslim yang bergulat dengan isu-isu terkait hak-hak beragama. Azerbaijan, khususnya, juga dilanda kontroversi jilbab. Meskipun penganut agama di Kyrgyzstan di masa lalu telah memperjuangkan hak siswa untuk mengenakan jilbab, tahun ini mereka menerima dukungan dari Muftiate, sebuah badan pemerintah yang mengawasi kehidupan spiritual umat Islam.

Perwakilan Mutakallim menuduh Kementerian Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan menerapkan larangan rahasia terhadap jilbab, dan menambahkan bahwa tindakan tersebut melanggar jaminan konstitusi atas kebebasan beragama dan perlindungan terhadap diskriminasi. Pejabat kementerian dengan tegas membantah larangan tersebut, dan mengatakan bahwa satu-satunya alasan jilbab mungkin tidak diperbolehkan oleh beberapa guru atau administrator adalah karena jilbab bukan bagian dari seragam resmi sekolah umum untuk siswa perempuan.

(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Siapa Laura Fernandez?...
Siapa Laura Fernandez? Presiden Baru Kosta Rika yang Ingin Jadi Perisai AS di Amerika Latin
Pertama Kali dalam Sejarah,...
Pertama Kali dalam Sejarah, Australia Tunjuk Perempuan Jadi Kepala Staf AD
Teroris Brenton Tarrant...
Teroris Brenton Tarrant Pembantai 51 Muslim Ajukan Banding dengan Alasan Hukumannya Tak Manusiawi
Iran Resmi Izinkan Perempuan...
Iran Resmi Izinkan Perempuan Mengendarai Sepeda Motor
4 Perempuan yang Mengguncang...
4 Perempuan yang Mengguncang Politik Global Sepanjang 2025, dari Rama Duwaji hingga Katy Perry
Ini 8 Negara Kristen...
Ini 8 Negara Kristen dan 8 Negara Muslim Terbesar di Dunia: AS dan Indonesia Teratas
XLSMART dan Komdigi...
XLSMART dan Komdigi Luncurkan DigiHer, Targetkan Digitalisasi 2,4 Juta Perempuan di 2026
KPK: Kasus Korupsi Muara...
KPK: Kasus Korupsi Muara Enim Sudah Terjadi sebelum Tahap Perencanaan dan Penganggaran
Heboh Bendera Saudi...
Heboh Bendera Saudi Tak Diletakkan di Atas Rumput Selama Laga Piala Dunia, Kenapa?
Rekomendasi
Aliansi BEM Bersatu...
Aliansi BEM Bersatu Endus Dugaan Keterlibatan Politikus PDIP dalam Aksi Tolak MBG
Pesan Said Didu untuk...
Pesan Said Didu untuk Prabowo: Waktu Melakukan Akomodasi Politik Sudah Lewat
Kylian Mbappe Cetak...
Kylian Mbappe Cetak 2 Rekor Bersejarah di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
Kenapa Perdamaian Iran...
Kenapa Perdamaian Iran Tak Semudah Membalikkan Telapak Tangan?
Selat Hormuz Tak Akan...
Selat Hormuz Tak Akan Lagi seperti Dulu, Ini 3 Alasannya
Trump Tegaskan Tanpa...
Trump Tegaskan Tanpa AS, Tidak akan Ada Israel, Netanyahu Harus Lebih Tanggung Jawab
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN...
Putin Siapkan KTT Rusia-ASEAN dan Perundingan Bilateral di Sela-selanya
Pengaktifan Kembali...
Pengaktifan Kembali Transit Lewat Selat Hormuz Mungkin Perlu Waktu Beberapa Pekan
Menlu Iran Tegaskan...
Menlu Iran Tegaskan Akhir Perang Dideklarasikan Senin, Resmi Berlaku Jumat
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved