alexametrics

Media Asing Soroti Meninggalnya Ratusan Petugas KPPS

loading...
Media Asing Soroti Meninggalnya Ratusan Petugas KPPS
Meninggalnya ratusa petugas KPPS turut menjadi sorotan media asing. Foto/SINDOnews/Isra Triansyah
A+ A-
JAKARTA - Meninggalnya ratusan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) tidak hanya menyita perhatian publik nasional tapi juga media asing. Situs berita Amerika Serikat (AS), CNN, turut menurunkan laporan terkait meninggalnya ratusan anggota KPPS.

Mengambil judul 'Indonesian election: More than 300 election workers dead' yang diartikan Pemilu Indonesia: Lebih dari 300 Pekerja Pemilu Tewas, CNN menyoroti faktor kelelahan yang menjadi penyebab meninggalnya petugas KPPS.

Dalam laporannya, CNN menyebut sekitar enam juta pekerja pemilu terlibat dalam pemilu. Hingga Senin, menurut CNN mengutip dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), 311 pejabat pemilu telah meninggal dan 2.232 orang lainnya jatuh sakit setelah pemilu.



"Salah satu korban adalah Anwari, petugas TPS berusia 53 tahun, dari distrik Duri Utara di Jakarta Barat," tulis CNN.

"Tanggung jawabnya termasuk memeriksa kondisi masing-masing surat suara, melipat ratusan kartu suara, dan menyerahkan undangan pemungutan suara kepada orang-orang di daerah setempat - tugas yang berlangsung dari pagi hingga malam," sambung laporan itu.

CNN turut mewawancarai anak perempuan Anwari, Anna Karlina (30). Menurutnya, sang ayah mulai mempersiapkan pemilu tiga hari sebelum pemungutan suara pada 17 April lalu.

Ayahnya memiliki sejarah masalah jantung, dan mulai merasa kedinginan dan sesak napas pada hari-hari menjelang pemilu.

"Pada Pemilu, dia pulang untuk beristirahat dan saya bertanya kepadanya mengapa dia berjalan pulang tanpa alas kaki," tambahnya. Dia mengatakan salah satu kakinya, yang tampak bengkak, terasa mati rasa seperti dikutip dari CNN, Selasa (30/4/2019).

Sepuluh hari setelah pemungutan suara, Anwari dirawat di rumah sakit. Pada Senin pagi, dia telah meninggal.

Putrinya menggambarkan hari kerja yang panjang dan stres sebagai penyebab kematian pekerja pemilu seperti Anwari.

"Orang-orang terlalu kewalahan dengan beban kerja," ujarnya.

Faktor kelalahan dan penyakit jantung sebagai penyebab meninggalnya anggota KPPS dibenarkan oleh seorang komisioner KPU, Evi Novida Ginting. Dia menggambarkan para anggota dan ketua KPPS berdedikasi dan berbakti. Namun ia sangat sedih karena hal itu mengorbankan kesehatan fisik mereka sendiri.

"Jumlah kematian selama pemilihan umum tahun ini menjadi kejutan bagi kami. Ada kematian terkait pekerjaan selama pemilu sebelumnya, tetapi tidak sebanyak ini," kata Ginting kepada CNN.

Komisioner KPU lainnya, Ilham Saputra, juga mengakui bahwa petugas pemilu telah bekerja terlalu keras selama proses pemilu.

"Karena pemilihan presiden dan legislatif digabungkan, pejabat TPS kami tidak hanya harus menghadapi tantangan fisik tetapi juga tekanan mental," kata Saputra kepada CNN.

"Satu hari sebelumnya, mereka menyiapkan semua logistik yang dibutuhkan, mendirikan tenda dan memastikan bahwa undangan pemilihan disampaikan," terangnya.

"Sepertinya mereka tidak punya banyak waktu untuk beristirahat karena pada jam 7 pagi keesokan paginya mereka perlu kembali ke tempat pemungutan suara untuk menghitung semua kartu suara dan membuka tempat pemungutan suara untuk umum," jelasnya.

Dia berharap sebuah penelitian, yang diusulkan oleh mahasiswa kedokteran di Universitas Indonesia, akan membantu menunjukkan dengan tepat alasan di balik kematian tersebut.

"Apakah itu sebagian besar disebabkan oleh beban kerja yang sangat besar atau apakah itu tekanan mental yang menyebabkan kematian mereka?" ucapnya.

Sementara itu, calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengatakan kesalahan mendasar telah terjadi dalam hal bagaimana pemilu dilaksanakan.

"Jika korban terus jatuh, ada sesuatu yang secara fundamental sangat salah," katanya.

Hasil resmi pemilu akan diumumkan pada 22 Mei mendatang. Untuk sementara, calon petahana, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berhasil unggul atas calon presiden yang juga pesaing lamanya, Prabowo.

Hasil penghitungan cepat menempatkan Jokowi meraih sekitar 55% suara, dan Prabowo mendapatkan sekitar 44%. Penghitungan cepat ini dilakukan oleh berbagai lembaga pemantau yang kredibel dan telah terbukti andal di masa lalu.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak