Rima Hassan, Wanita Prancis-Palestina Pertama yang Jadi Anggota Parlemen Eropa

Sabtu, 15 Juni 2024 - 11:29 WIB
loading...
Rima Hassan, Wanita...
Rima Hassan, sarjana hukum dan aktivis berusia 32 tahun kini jadi anggota parlemen Eropa. Foto/LUCIEN LUNG/RIVA-PRESS FOR LE MONDE
A A A
PARIS - Rima Hassan, sarjana hukum dan aktivis berusia 32 tahun, telah mengukir sejarah dengan menjadi anggota parlemen Eropa keturunan Prancis-Palestina pertama.

Partainya, La France Insoumise (LFI) yang berhaluan kiri, memperoleh 9,89% suara pada Minggu (9/6/2024) dan kini mengirimkan sembilan anggota parlemen Eropa ke Brussels.

Pemilu Eropa di Prancis dimenangkan partai sayap kanan National Rally (Rassemblement National, RN), yang memperoleh 31,37% suara, atau setara dengan 30 dari 81 kursi di Prancis.

Tidak dikenal masyarakat umum beberapa bulan lalu, Hassan, spesialis hukum internasional, dengan cepat memperoleh ketenaran dan popularitas di kalangan akar rumput LFI dengan menjadi garda terdepan dalam membela perjuangan Palestina, mengutuk pendudukan dan perang Israel di Gaza.

Sering terlihat dengan keffiyeh yang dililitkan di bahunya, "jubah pahlawan super saya", seperti yang dia gambarkan, Hassan adalah cucu dari warga Palestina yang menjadi pengungsi pada Nakba 1948.

Dia telah menjadi salah satu penemuan kampanye Uni Eropa, yang dipuji para demonstran pro-Palestina dan dikecam para pendukung Israel.

Hassan telah menggunakan visibilitas yang ditawarkan oleh pencalonannya untuk mengecam "genosida" yang dilakukan Israel di Gaza, menuduh negara Zionis itu sebagai pelaku "kekejian tak bernama", "entitas kolonial fasis" yang "berbohong setiap hari".

Sekarang di Brussels, dia akan dapat bekerja pada tujuannya untuk melihat Eropa "mengakui Palestina sebagai negara untuk melawan rencana penjajahan Israel, menjatuhkan sanksi ekonomi dengan menangguhkan Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel, menegakkan embargo ekspor senjata atas pelanggaran hak asasi manusia, dan menerapkan sanksi diplomatik dan politik terhadap Israel yang serupa dengan sanksi terhadap Afrika Selatan yang menerapkan apartheid hingga hukum internasional ditegakkan."

Lahir Tanpa Kewarganegaraan


Hassan lahir tanpa kewarganegaraan pada April 1992 di Suriah dari keluarga yang melarikan diri selama Nakba ("malapetaka" dalam bahasa Arab), ketika sekitar 750.000 warga Palestina diusir secara etnis dari rumah mereka oleh pasukan Zionis untuk memberi jalan bagi pembentukan Israel pada tahun 1948.

Tiga dari kakek-neneknya adalah orang Palestina. Keluarga dari pihak ayahnya berasal dari desa al-Birwa yang terletak 10,5 km di timur Acre, di wilayah Israel utara saat ini.

Dia menghabiskan masa kecilnya di kamp pengungsi Neirab di pinggiran kota Aleppo, sebelum beremigrasi ke Prancis dan kota Niort di bagian barat pada usia 10 tahun, melalui reunifikasi keluarga.

Dia memperoleh kewarganegaraan Prancis pada usia 18 tahun. “Saya tidak berbicara sepatah kata pun dalam bahasa Prancis. Para mahasiswa memanggil saya kepala handuk," ujar dia kepada media Prancis pada Mei 2022.

Kemudian, Hassan belajar hukum dan mengejar gelar master dalam hukum internasional dari Universitas Sorbonne Paris, menulis tesisnya tentang apartheid di Afrika Selatan dan Israel.

Pada tahun 2019, dia mendirikan Refugee Camp Observatory, LSM yang didedikasikan untuk mempelajari kamp-kamp di seluruh dunia dan meningkatkan kesadaran tentang kondisi kehidupan mereka dan pelanggaran hak-hak pengungsi.

"Saya ingat kehebohan, pergaulan bebas, ketegangan permanen. Semua orang merasa gelisah," kenang dia tentang pengalamannya tinggal di tempat yang disebutnya "non-places".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kebakaran Hutan Paksa...
Kebakaran Hutan Paksa Evakuasi 80.000 Orang di Prancis dan Spanyol
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
Prabowo Tegaskan Dukungan...
Prabowo Tegaskan Dukungan untuk Palestina Tak Bisa Ditawar!
Ledakan Dahsyat Runtuhkan...
Ledakan Dahsyat Runtuhkan Terowongan di India, Tewaskan 12 Pekerja
Konflik AS-Iran Makin...
Konflik AS-Iran Makin Memanas, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus 100 Dolar AS per Barel
Rekomendasi
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Hasil Piala AFF 2026:...
Hasil Piala AFF 2026: Malaysia Comeback, Tundukkan Myanmar 2-1
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Berita Terkini
Pakar Asal AS Ini Yakin...
Pakar Asal AS Ini Yakin Rusia Dijamin Memenangkan Perang Ukraina, Ini 4 Alasannya
5 Fakta Pidato Trump...
5 Fakta Pidato Trump di Jamuan Jurnalis Gedung Putih, Ingin Jadi Capres pada Pilpres Mendatang
Apakah Strategi Panas...
Apakah Strategi Panas dan Dingin yang dilakukan Trump untuk Menekan Iran Bisa Sukses?
Pasukan Khusus AS Siapkan...
Pasukan Khusus AS Siapkan Operasi Perebutan Bom Nuklir Iran, Ini 7 Strateginya
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
Infografis
6 Pulau yang Jadi Target...
6 Pulau yang Jadi Target Invasi Darat AS di Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved