Laporan PBB Sebut Rakyat Venezuela Butuh Bantuan Kemanusiaan
Jum'at, 29 Maret 2019 - 01:48 WIB
Laporan PBB Sebut Rakyat Venezuela Butuh Bantuan Kemanusiaan
A
A
A
NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan sekitar seperempat rakyat Venezuela membutuhkan bantuan kemanusiaan. Begitu bunyi laporan internal PBB. Laporan tersebut melukiskan gambaran mengerikan tentang jutaan orang yang kekurangan makanan dan kebutuhan dasar.
Temuan laporan ini kontras dengan komentar dari Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang mengatakan tidak ada krisis dan tidak perlu bantuan kemanusiaan. Maduro pun menyalahkan sanksi Amerika Serikat (AS) untuk masalah ekonomi negara itu.
Bulan lalu, pasukan pemerintah Venezuela memblokir konvoi bantuan yang didukung AS untuk masuk dari Kolombia dan Brasil. Namun, pemerintah Maduro telah menerima bantuan dari sekutu Rusia.
“Politisasi bantuan kemanusiaan dalam konteks krisis membuat pengiriman bantuan sesuai dengan prinsip-prinsip netralitas, imparsialitas, dan independensi menjadi lebih sulit,” bunyi laporan PBB setebal 45 halaman yang diberi judul Tinjauan Kebutuhan Prioritas Kemanusiaan di Venezuela seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/3/2019).
Tinjauan PBB pada bulan Maret 2019 itu menggunakan berbagai sumber - termasuk badan-badan di PBB, Palang Merah, akademisi dan masyarakat sipil - dan merupakan bagian dari dorongan oleh badan dunia untuk mencoba serta meningkatkan respon kemanusiaan di Venezuela.
“Dibutuhkan lebih banyak tindakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Venezuela yang terus meningkat,” tulis laporan itu, yang memperingatkan bahwa kurangnya data resmi dan terpercaya membuat sulit untuk secara akurat menentukan ruang lingkup kebutuhan.
Diperkirakan 94 persen dari 28,8 juta orang hidup dalam kemiskinan, sementara sekitar 3,4 juta orang telah melarikan diri, dengan 1,9 juta orang lagi diperkirakan akan mengikuti jejak mereka di tahun ini.
"Karena ekonomi yang semakin berkontraksi dan kerusuhan politik, penduduk Venezuela menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mengakses kebutuhan penting, termasuk perlindungan, perawatan kesehatan, obat-obatan, vaksinasi, air, listrik, pendidikan dan akses ke makanan," kata laporan itu.
Diperkirakan ada 2,8 juta orang yang membutuhkan dalam hal perawatan kesehatan, menurut tinjauan PBB, termasuk sekitar 300 ribu orang yang hidupnya berisiko karena mereka tidak dapat mengakses obat-obatan atau perawatan untuk penyakit seperti kanker, diabetes dan HIV untuk lebih dari satu tahun.
“Penyakit yang dapat dicegah seperti tuberkulosis, difteri, campak dan malaria telah muncul kembali di negara ini dan terus meningkat, seperti halnya hepatitis A, karena kurangnya akses ke air minum yang aman,” bunyi laporan itu.
Menurut laporan itu di bidang air, sanitasi dan kebersihan, 4,3 juta orang membutuhkan bantuan.
Dikatakan kekurangan makanan telah menyebabkan sekitar 1,9 juta orang membutuhkan nutrisi, sementara terjadi peningkatan kekerasan di negara itu yang berarti sekitar 2,7 juta rakyat Venezuela rentan.
Laporan itu juga mengatakan sekitar 1,2 juta anak tidak bersekolah karena krisis, karena banyak keluarga tidak mampu membeli pakaian, alas kaki atau transportasi yang diperlukan dan anak-anak malah bekerja untuk membantu membayar kebutuhan pokok keluarga mereka. Satu juta lainnya ditemukan sangat rentan untuk putus sekolah.
Temuan laporan ini kontras dengan komentar dari Presiden Venezuela Nicolas Maduro, yang mengatakan tidak ada krisis dan tidak perlu bantuan kemanusiaan. Maduro pun menyalahkan sanksi Amerika Serikat (AS) untuk masalah ekonomi negara itu.
Bulan lalu, pasukan pemerintah Venezuela memblokir konvoi bantuan yang didukung AS untuk masuk dari Kolombia dan Brasil. Namun, pemerintah Maduro telah menerima bantuan dari sekutu Rusia.
“Politisasi bantuan kemanusiaan dalam konteks krisis membuat pengiriman bantuan sesuai dengan prinsip-prinsip netralitas, imparsialitas, dan independensi menjadi lebih sulit,” bunyi laporan PBB setebal 45 halaman yang diberi judul Tinjauan Kebutuhan Prioritas Kemanusiaan di Venezuela seperti dikutip dari Reuters, Jumat (29/3/2019).
Tinjauan PBB pada bulan Maret 2019 itu menggunakan berbagai sumber - termasuk badan-badan di PBB, Palang Merah, akademisi dan masyarakat sipil - dan merupakan bagian dari dorongan oleh badan dunia untuk mencoba serta meningkatkan respon kemanusiaan di Venezuela.
“Dibutuhkan lebih banyak tindakan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Venezuela yang terus meningkat,” tulis laporan itu, yang memperingatkan bahwa kurangnya data resmi dan terpercaya membuat sulit untuk secara akurat menentukan ruang lingkup kebutuhan.
Diperkirakan 94 persen dari 28,8 juta orang hidup dalam kemiskinan, sementara sekitar 3,4 juta orang telah melarikan diri, dengan 1,9 juta orang lagi diperkirakan akan mengikuti jejak mereka di tahun ini.
"Karena ekonomi yang semakin berkontraksi dan kerusuhan politik, penduduk Venezuela menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam mengakses kebutuhan penting, termasuk perlindungan, perawatan kesehatan, obat-obatan, vaksinasi, air, listrik, pendidikan dan akses ke makanan," kata laporan itu.
Diperkirakan ada 2,8 juta orang yang membutuhkan dalam hal perawatan kesehatan, menurut tinjauan PBB, termasuk sekitar 300 ribu orang yang hidupnya berisiko karena mereka tidak dapat mengakses obat-obatan atau perawatan untuk penyakit seperti kanker, diabetes dan HIV untuk lebih dari satu tahun.
“Penyakit yang dapat dicegah seperti tuberkulosis, difteri, campak dan malaria telah muncul kembali di negara ini dan terus meningkat, seperti halnya hepatitis A, karena kurangnya akses ke air minum yang aman,” bunyi laporan itu.
Menurut laporan itu di bidang air, sanitasi dan kebersihan, 4,3 juta orang membutuhkan bantuan.
Dikatakan kekurangan makanan telah menyebabkan sekitar 1,9 juta orang membutuhkan nutrisi, sementara terjadi peningkatan kekerasan di negara itu yang berarti sekitar 2,7 juta rakyat Venezuela rentan.
Laporan itu juga mengatakan sekitar 1,2 juta anak tidak bersekolah karena krisis, karena banyak keluarga tidak mampu membeli pakaian, alas kaki atau transportasi yang diperlukan dan anak-anak malah bekerja untuk membantu membayar kebutuhan pokok keluarga mereka. Satu juta lainnya ditemukan sangat rentan untuk putus sekolah.
(ian)