Kengerian Pembantaian oleh Israel di Rafah: Anak Tanpa Kepala, Jasad-jasad Hangus
Selasa, 28 Mei 2024 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
Para pejabat kesehatan mengatakan mereka kewalahan dengan jumlah dan jenis korban luka, karena hanya satu rumah sakit yang beroperasi di Rafah akibat penghancuran sistem kesehatan yang dilakukan Israel di Gaza.
Para responden pertama menggambarkan tantangan serupa karena 80% kemampuan pertahanan sipil Palestina telah hancur sejak 7 Oktober.
Hal ini terlihat setelah pengeboman, ketika petugas pemadam kebakaran, paramedis, dan warga berjuang memadamkan api.
Situasi kacau pun terjadi, dengan para korban selamat yang panik berlari mencari keselamatan di tengah-tengah tubuh yang hangus ketika seorang pria menggendong seorang anak tanpa kepala dan seorang petugas medis menggendong seorang lainnya dengan otaknya yang pecah.
“Saya keluar dari tenda dan melihat api di mana-mana,” ungkap Mohammad Abo Sebah, seorang saksi mata.
“Seorang gadis muda berteriak, jadi kami membantunya dan saudara laki-lakinya yang sudah dewasa. Ketika kami kembali, perkemahan itu hancur total,” papar dia.
Butuh sekitar 11 truk pemadam kebakaran antara satu dan dua jam untuk akhirnya menghentikan api, menurut al-Fayoum.
Remaja tersebut mengatakan keluarganya berencana pindah ke kamp lain pada Senin pagi karena serangan Israel di Rafah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Namun mereka kehilangan uang akibat kebakaran tersebut, yang berarti mereka tidak bisa pergi ke mana pun saat ini dan tidak memiliki tenda untuk berlindung.
“Mereka bilang ini adalah zona aman,” tutur Abo Sebah kepada MEE. “Pendudukan ini sangat tercela dan kriminal.”
Militer Israel mengatakan mereka menggunakan “amunisi tepat” dalam serangan itu, yang diduga membunuh dua anggota sayap bersenjata Hamas.
Rezim penjajah Israel menambahkan insiden tersebut “sedang ditinjau” dan mereka menyesalkan “segala kerugian yang menimpa non-kombatan selama perang”.
Abo Sebah, yang melarikan diri dari Gaza tengah ke perkemahan ini pada bulan Januari, mengatakan dia tidak mempercayai klaim Israel.
Para responden pertama menggambarkan tantangan serupa karena 80% kemampuan pertahanan sipil Palestina telah hancur sejak 7 Oktober.
Hal ini terlihat setelah pengeboman, ketika petugas pemadam kebakaran, paramedis, dan warga berjuang memadamkan api.
Situasi kacau pun terjadi, dengan para korban selamat yang panik berlari mencari keselamatan di tengah-tengah tubuh yang hangus ketika seorang pria menggendong seorang anak tanpa kepala dan seorang petugas medis menggendong seorang lainnya dengan otaknya yang pecah.
“Saya keluar dari tenda dan melihat api di mana-mana,” ungkap Mohammad Abo Sebah, seorang saksi mata.
“Seorang gadis muda berteriak, jadi kami membantunya dan saudara laki-lakinya yang sudah dewasa. Ketika kami kembali, perkemahan itu hancur total,” papar dia.
Butuh sekitar 11 truk pemadam kebakaran antara satu dan dua jam untuk akhirnya menghentikan api, menurut al-Fayoum.
Remaja tersebut mengatakan keluarganya berencana pindah ke kamp lain pada Senin pagi karena serangan Israel di Rafah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Namun mereka kehilangan uang akibat kebakaran tersebut, yang berarti mereka tidak bisa pergi ke mana pun saat ini dan tidak memiliki tenda untuk berlindung.
“Mereka bilang ini adalah zona aman,” tutur Abo Sebah kepada MEE. “Pendudukan ini sangat tercela dan kriminal.”
Penghancuran, Mayat, dan Pembunuhan
Militer Israel mengatakan mereka menggunakan “amunisi tepat” dalam serangan itu, yang diduga membunuh dua anggota sayap bersenjata Hamas.
Rezim penjajah Israel menambahkan insiden tersebut “sedang ditinjau” dan mereka menyesalkan “segala kerugian yang menimpa non-kombatan selama perang”.
Abo Sebah, yang melarikan diri dari Gaza tengah ke perkemahan ini pada bulan Januari, mengatakan dia tidak mempercayai klaim Israel.
Lihat Juga :