Kengerian Pembantaian oleh Israel di Rafah: Anak Tanpa Kepala, Jasad-jasad Hangus
Selasa, 28 Mei 2024 - 09:04 WIB
loading...
A
A
A
“Apa lagi yang Anda harapkan dari mereka?” ujar dia memberitahu MEE.
“Kami belum pernah melihat adanya pejuang perlawanan di sini. Para pejuang berada di zona tempur di Rafah timur,” ungkap dia.
“Israel hanya mengatakan hal ini untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka ingin membunuh rakyat Palestina, mengusir mereka secara paksa, dan menghancurkan rumah mereka,” papar dia.
Abo Sebah kehilangan rumahnya pada bulan November ketika rumahnya dibom pesawat tempur Israel dalam serangan yang menewaskan dua putranya, putrinya, dan bayinya yang berusia dua tahun.
Dia datang ke Rafah untuk mencari keselamatan, ketika Israel meminta warga Palestina untuk datang ke kota di selatan pada awal perang untuk menghindari daerah berbahaya di tempat lain.
“Tidak ada tempat yang aman di sini. Tidak ada yang selamat. Bahkan orang mati yang terkubur di bawah tanah pun tidak selamat,” ujar Abo Sebah.
“Penghancuran, mayat, dan pembunuhan. Inilah hidup kami,” tutur dia.
Pemboman tersebut memicu kecaman global terhadap Israel. Beberapa negara Arab mengecamnya, termasuk Yordania, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.
Josep Borrell, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, menyebutnya “mengerikan”.
“Tidak ada tempat yang aman di Gaza. Serangan-serangan ini harus segera dihentikan,” tegas dia di platform media sosial X.
Senada dengan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dia “marah” dengan serangan tersebut.
“Operasi ini harus dihentikan. Tidak ada wilayah aman di Rafah bagi warga sipil Palestina,” ungkap dia di X.
Pembantaian itu terjadi dua hari setelah Mahkamah Internasional memutuskan Israel harus menghentikan serangannya di Rafah dalam kasus yang sedang berlangsung yang menuduh Israel melakukan genosida dalam perangnya di Gaza.
“Kami belum pernah melihat adanya pejuang perlawanan di sini. Para pejuang berada di zona tempur di Rafah timur,” ungkap dia.
“Israel hanya mengatakan hal ini untuk membenarkan tindakan mereka. Mereka ingin membunuh rakyat Palestina, mengusir mereka secara paksa, dan menghancurkan rumah mereka,” papar dia.
Abo Sebah kehilangan rumahnya pada bulan November ketika rumahnya dibom pesawat tempur Israel dalam serangan yang menewaskan dua putranya, putrinya, dan bayinya yang berusia dua tahun.
Dia datang ke Rafah untuk mencari keselamatan, ketika Israel meminta warga Palestina untuk datang ke kota di selatan pada awal perang untuk menghindari daerah berbahaya di tempat lain.
“Tidak ada tempat yang aman di sini. Tidak ada yang selamat. Bahkan orang mati yang terkubur di bawah tanah pun tidak selamat,” ujar Abo Sebah.
“Penghancuran, mayat, dan pembunuhan. Inilah hidup kami,” tutur dia.
Murka Dunia untuk Israel
Pemboman tersebut memicu kecaman global terhadap Israel. Beberapa negara Arab mengecamnya, termasuk Yordania, Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar.
Josep Borrell, kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, menyebutnya “mengerikan”.
“Tidak ada tempat yang aman di Gaza. Serangan-serangan ini harus segera dihentikan,” tegas dia di platform media sosial X.
Senada dengan itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dia “marah” dengan serangan tersebut.
“Operasi ini harus dihentikan. Tidak ada wilayah aman di Rafah bagi warga sipil Palestina,” ungkap dia di X.
Pembantaian itu terjadi dua hari setelah Mahkamah Internasional memutuskan Israel harus menghentikan serangannya di Rafah dalam kasus yang sedang berlangsung yang menuduh Israel melakukan genosida dalam perangnya di Gaza.
(sya)
Lihat Juga :