alexametrics

Lebah Terbesar di Dunia yang Hilang 38 Tahun Ditemukan di Indonesia

loading...
Lebah Terbesar di Dunia yang Hilang 38 Tahun Ditemukan di Indonesia
Ahli anatomi Eli Wyman berfoto dengan lebah raksasa Wallace di Maluku Utara pada Januari 2019 Foto/Clay Blot/The Guardian
A+ A-
JAKARTA - Spesies lebah terbesar di dunia telah hilang selama 38 tahun dan dikhawatirkan akan punah. Namun, lebah raksasa bernama Wallace ini ditemukan para ahli hidup di pulau-pulau Indonesia di wilayah Maluku Utara.

Panjang lebah ini sepanjang jempol orang dewasa. Rahangnya seperti kumbang rusa. Ukuran tubuhnya empat kali lebih besar dari lebah madu. Keberadaan lebah raksasa Wallace ini tidak terlalu mencolok.

Tim ahli biologi Amerika Utara dan Australia menemukan seekor lebah betina raksasa Wallace (Megachile pluto) yang hidup di dalam sarang di pohon, lebih dari dua meter di atas tanah.



"Sungguh menakjubkan melihat 'bulldog terbang' serangga yang kami tidak yakin ada lagi," kata Clay Bolt, seorang fotografer spesialis yang memperoleh gambar pertama dari spesies hidup lebah Wallace.

"Untuk benar-benar melihat betapa indah dan besarnya spesies ini dalam kehidupan, untuk mendengar suara sayapnya yang raksasa saat terbang melewati kepala saya, sungguh luar biasa," katanya lagi, dikutip The Guardian, Kamis (21/2/2019).

Lebah betina Wallace yang panjangnya dapat mencapai hampir 4cm pertama kali dikenal ilmu pengetahuan pada tahun 1858 ketika penjelajah dan naturalis Inggris Alfred Russel Wallace menemukannya di pulau Bacan, Indonesia. Dia menggambarkan lebah betina itu sebagai "serangga besar, seperti tawon hitam, dengan rahang yang sangat besar seperti kumbang rusa".

Terlepas dari ukurannya, lebah itu tetap sulit dipahami, dengan hampir tidak ada yang diketahui tentang siklus hidup rahasia betina yang melibatkan pembuatan sarang dari resin pohon di dalam gundukan rayap arboreal aktif.

Lebah seperti itu tidak terlihat lagi oleh para ilmuwan sampai tahun 1981, ketika Adam Messer, seorang ahli serangga Amerika, menemukan kembali di tiga pulau Indonesia. Dia mengamati bagaimana lebah menggunakan mandibula raksasa untuk mengumpulkan damar dan kayu untuk sarangnya yang anti rayap.

Tim pencari gagal menemukan lebah seperti itu lagi, tetapi penemuan kembali lebah betina tunggal meningkatkan harapan bahwa hutan kawasan masih menyimpan spesies ini.

Habitat lebah terancam oleh penggundulan hutan besar-besaran untuk pertanian di Indonesia, dan ukuran serta kelangkaannya menjadikannya target bagi para kolektor. Saat ini, tidak ada perlindungan hukum terkait perdagangan lebah raksasa Wallace.

Robin Moore, seorang ahli biologi konservasi dari Global Wildlife Conservation, yang menjalankan sebuah program bernama The Search for Lost Species, mengatakan; "Kita tahu bahwa mengeluarkan berita tentang penemuan kembali ini bisa tampak seperti risiko besar mengingat permintaan, tetapi kenyataannya adalah bahwa kolektor yang tidak bermoral sudah tahu bahwa lebah ada di luar sana."

Moore mengatakan sangat penting bagi para pelestari lingkungan untuk membuat pemerintah Indonesia sadar akan lebah dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi spesies dan habitatnya. "Dengan menjadikan lebah sebagai unggulan dunia yang terkenal untuk konservasi, kami yakin bahwa spesies ini memiliki masa depan yang lebih cerah daripada jika kita membiarkannya diam-diam dikumpulkan menjadi terlupakan," katanya.
(mas)
preload video
loading...
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak