alexametrics

Pemimpin Suku di Yaman Dukung Proses Perdamaian PBB

loading...
Pemimpin Suku di Yaman Dukung Proses Perdamaian PBB
Konflik berkepanjangan di Yaman memicu kelaparan parah yang mengancam nyawa jutaan warga sipil termasuk anak-anak. Foto/Istimewa
A+ A-
SANAA - Beberapa pemimpin suku di Yaman mendukung Amerika Serikat (AS) dan solusi politik yang diusulkan oleh PBB untuk mengakhiri perang. Mereka juga mendesak peran aktif dalam negosiasi yang serang berlangsung.

"Baik orang-orang dan suku-suku di Yaman mendukung solusi politik Amerika untuk konflik di Yaman selama itu menyambut tuntutan suku dan orang-orang Yaman," ujar Abdurabuh al-Shaif, seorang pemimpin suku dari suku Daham di al-Jawf provinsi Yaman, seperti disitir dari VOA, Jumat (31/11/2018).



Dalam kesempatana itu, al-Shaif juga menyuarakan keprihatinannya atas metode pendekatan AS terhadap konflik di Yaman.

“Solusi politik apa pun yang tidak mengarah pada pemulihan negara, melucuti senjata milisi Houthi, dan mengarah pada solusi demokratis tidak dapat disebut solusi politik. Ini lebih merupakan menyerahkan kepada milisi...(sesuatu) yang tidak dapat kami terima,” tambah Al-Shaif.

Martin Griffiths, utusan khusus PBB untuk Yaman, berencana untuk mengadakan pertemuan semua pihak dalam konflik Yaman di Swedia pada bulan Desember. Pertemuan itu untuk mencari solusi politik terhadap perang yang sedang berlangsung.

"Ini adalah kesempatan pada saat yang genting untuk mengejar penyelesaian politik yang komprehensif dan inklusif untuk konflik," kata Griffiths.

Perang di Yaman dimulai pada tahun 2014 antara pemerintah Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang mendapat dukungan dari koalisi Saudi yang didukung AS, dan pemberontak Houthi yang didukung Iran. Sejak itu konflik menjadi krisis kemanusiaan, dengan puluhan ribu korban dan kelaparan parah yang mengancam nyawa jutaan warga sipil termasuk anak-anak.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak