Rusia Mulai Produksi Vaksin Covid-19 Sputnik V

Minggu, 16 Agustus 2020 - 15:12 WIB
loading...
Rusia Mulai Produksi...
Rusia mulai memproduksi vaksin Covid-19 Sputnik V. Foto/Anadolu
A A A
MOSKOW - Kementerian Kesehatan Rusia akhir pekan kemarin mengumumkan bahwa produksi vaksin virus Corona terdaftar pertama di dunia telah dimulai. Vaksin ini dinamai 'Sputnik V' seperti nama satelit luar angkasa yang diluncurkan oleh Moskow pada tahun 1957.

Formula vaksin tersebut, yang secara resmi dikenal sebagai Gam-COVID-Vak, dikembangkan oleh Pusat Penelitian Nasional Gamaleya di Ibu Kota Rusia. Vaksin ini memiliki dua komponen yang perlu disuntikkan dengan selang tiga minggu untuk memicu respons kekebalan terhadap Covid-19 .

Kepala Gamaleya Center, Alexander Gintsburg, menjelaskan bahwa tiga perusahaan sedang mempersiapkan untuk memproduksi formula tersebut, seraya menambahkan bahwa formula tersebut akan terlebih dahulu dipasok ke 10 sampai 15 wilayah negara. Meski begitu ia tidak merinci di mana tepatnya.

Gintsburg memperingatkan bahwa mungkin diperlukan waktu hingga satu tahun bagi semua orang Rusia untuk mendapatkan akses penuh ke vaksin tersebut.

"Penting untuk memahami kapan kami akan dapat memenuhi permintaan negara. Saya berharap itu akan terjadi dalam 9-12 bulan," katanya kepada kantor berita Rusia TASS yang dinukil Russia Today, Minggu (16/8/2020).

Ia menambahkan, dalam waktu sekitar satu bulan, sekitar satu juta dosis vaksin akan diproduksi di tiga pabrik tersebut.

"Pada akhir tahun akan diproduksi 1,5-2 juta dosis. Ini angka yang nyata dan bagus," tukasnya.

Direktur dana kekayaan kedaulatan Rusia, yang mendanai proyek tersebut, Kirill Dmitriev menunjukkan bahwa Moskow telah menerima pesanan lebih dari satu miliar dosis vaksin dari 20 negara. (Baca: Rusia Kebanjiran Pesanan Vaksin Covid-19 )

Regulator kesehatan Rusia mendaftarkan vaksin tersebut setelah lolos uji coba Tahap II pada bulan Juni dan Juli. Diputuskan bahwa menyelesaikan uji coba Tahap III tidak diperlukan untuk peluncuran awal karena didasarkan pada platform yang sudah terbukti. Namun, penting untuk dicatat bahwa Sputnik V tidak akan diedarkan secara umum hingga Januari 2021, memungkinkan empat hingga lima bulan lagi untuk mengamati efektivitasnya lebih lanjut.

Keputusan itu dikritik oleh beberapa pemerintah Barat dan profesional kesehatan, yang menganggapnya terburu-buru dan berpotensi berbahaya. Konon, beberapa dari mereka tampaknya mendapat kesan bahwa vaksin akan segera beredar massal. Pada kenyataannya, vaksin ini pada awalnya hanya akan tersedia bagi pekerja yang rentan dalam peran di garis depan yang penting. Meski begitu, partisipasi bersifat sukarela, tanpa ada yang dipaksa untuk ambil bagian. (Baca: Pakar: Tanpa Data Tes, Bagaimana Kita Percaya Vaksin Covid-19 Rusia? )

Menteri Kesehatan Rusia Mikhail Murashko mengatakan, awal pekan ini, dalam pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin bahwa pekerja medis dan guru akan menjadi orang pertama yang mendapatkan vaksin. Kementerian Kesehatan menambahkan bahwa data dari uji coba akan segera dipublikasikan dan ini diharapkan dapat mengurangi beberapa kekhawatiran di sekitarnya.

Presiden Putin mengumumkan pendaftaran Sputnik V pada hari Selasa. Vaksin itu dibuat pada platform yang telah digunakan untuk pengembangan sejumlah vaksin lainnya. Menurut Kementerian Kesehatan, pengalaman menunjukkan bahwa vaksin tersebut mampu mengembangkan imunitas jangka panjang yang bertahan hingga dua tahun. (Baca: Putin: Rusia Negara Pertama di Dunia yang Setujui Vaksin Covid-19 )
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Putin Terus Tebar Ancaman,...
Putin Terus Tebar Ancaman, 4 Negara ini Memiliki Bunker Nuklir Teraman di Eropa
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Prabowo Batal Hadiri...
Prabowo Batal Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Istana Ungkap Alasannya
Dampak Kunjungan Trump,...
Dampak Kunjungan Trump, China Perketat Pembatasan Aktivis dan Pengawasan Domestik
Wapres JD Vance: Israel...
Wapres JD Vance: Israel Berusaha Pengaruhi Kebijakan Politik AS
Rekomendasi
Puji Kepemimpinan Wali...
Puji Kepemimpinan Wali Kota Agustina, Hendardji Soepandji: Budaya Semarang Kian Kuat dan Harmonis
Randy Martin Buka Bisnis...
Randy Martin Buka Bisnis Photobooth, Kemesraannya dengan Lyodra Curi Perhatian
Liburan Sekolah Makin...
Liburan Sekolah Makin Seru dengan Petualangan dan Aktivitas Keluarga
Berita Terkini
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
Selain Ingin Perang...
Selain Ingin Perang di Lebanon Berakhir, Iran Klaim Tak Ingin Kembangkan Senjata Nuklir
Demi Wujudkan Perdamaian...
Demi Wujudkan Perdamaian dengan Iran, AS Terus Tekan Israel
Meski Menang dalam Negosiasi...
Meski Menang dalam Negosiasi dan Perang, Iran: Kita Selalu Hati-hati
Infografis
Bom FAB-3000 Seberat...
Bom FAB-3000 Seberat 3 Ton Mulai Diproduksi Massal Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved