Sekutu-sekutu NATO Khawatir Trump Kembali Jadi Penguasa AS, Mengapa?
Senin, 12 Februari 2024 - 10:33 WIB
loading...
A
A
A
Thomas Gift, direktur Pusat Politik AS di University College London, mengatakan bahwa siapa pun yang memenangkan pemilihan presiden Amerika, arah perjalanannya akan sama—menuju planet multipolar di mana Amerika Serikat tidak lagi menjadi negara adidaya dunia yang tak terbantahkan.
Sebagian besar pemimpin negara-negara sekutu menahan diri untuk tidak memberikan komentar langsung mengenai pemilu AS, dan berpegang teguh pada prinsip bahwa orang Amerika-lah yang berhak memilih pemimpin mereka.
Mereka sadar bahwa mereka harus bekerja sama dengan pihak yang menang, siapa pun mereka—dan di balik layar, pemerintah akan melakukan “pekerjaan di belakang layar” dengan secara diam-diam membangun hubungan dengan tim politik para pesaing, kata Richard Dalton, mantan senior diplomat Inggris.
Namun banyak sekutu AS di NATO di Eropa khawatir bahwa dengan atau tanpa Trump, AS menjadi kurang dapat diandalkan. Beberapa negara sudah mulai berbicara secara terbuka tentang perlunya negara anggota meningkatkan belanja militer, dan merencanakan aliansi tanpa Amerika Serikat.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa dia saat ini banyak berbicara melalui telepon dengan rekan-rekannya dan meminta mereka berbuat lebih banyak untuk mendukung Ukraina.
Jerman adalah donor bantuan militer terbesar kedua ke Kyiv, setelah AS, namun Scholz baru-baru ini mengatakan kepada mingguan Jerman; Die Zeit, bahwa negaranya tidak dapat mengisi kesenjangan apa pun jika AS tidak lagi menjadi pendukungnya.
Komentar Trump pada hari Sabtu tentang NATO menimbulkan peringatan di Polandia, yang berbatasan dengan Ukraina. “Kami mengalami perang panas di perbatasan kami,” kata Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada hari Minggu.
"Kita harus menyadari bahwa Uni Eropa tidak bisa menjadi raksasa ekonomi dan peradaban serta kerdil dalam hal pertahanan, karena dunia telah berubah," ujarnya.
Sementara itu, Rusia sibuk memperkuat hubungan dengan China, Iran, dan Korea Utara serta berupaya mengurangi dukungan internasional terhadap Ukraina.
Macron juga menyatakan perhatian Amerika terfokus jauh dari Eropa. Jika prioritas utama Washington adalah AS, maka prioritas kedua adalah China.
“Ini juga mengapa saya menginginkan Eropa yang lebih kuat, yang tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri dan tidak bergantungtidak pada orang lain,” kata Macron pada konferensi pers bulan Januari.
Trump memang memiliki pendukung di Eropa, terutama kelompok populis pro-Rusia seperti Orbán dari Hongaria. Namun mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membuat beberapa orang terkejut ketika dia baru-baru ini berargumentasi bahwa "kepresidenan Trump bisa menjadi hal yang dibutuhkan dunia."
Johnson adalah pendukung kuat Ukraina dalam perjuangannya melawan invasi Rusia, sedangkan Trump sering memuji Putin dan mengatakan dia akan mengakhiri perang dalam waktu 24 jam. Namun, Johnson mengatakan dalam kolom Daily Mail bahwa dia tidak yakin Trump akan “menyingkirkan Ukraina", melainkan akan membantu Ukraina memenangkan perang, sehingga menjadikan Barat lebih kuat dan dunia lebih stabil.
Bronwen Maddox, direktur think tank urusan internasional Chatham House, mengatakan argumen seperti itu meremehkan “betapa tidak stabilnya” Trump, dan kemungkinan akan terus terjadi jika Trump terpilih kembali.
“Bagi mereka yang mengatakan bahwa masa jabatan pertamanya tidak menimbulkan banyak kerusakan pada tatanan internasional, salah satu jawabannya adalah bahwa dia menarik AS keluar dari JCPOA, kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran. Percepatan kerja Iran sejak saat itu telah menjadikannya negara yang memiliki senjata nuklir,” katanya dalam pidatonya baru-baru ini.
Sebagian besar pemimpin negara-negara sekutu menahan diri untuk tidak memberikan komentar langsung mengenai pemilu AS, dan berpegang teguh pada prinsip bahwa orang Amerika-lah yang berhak memilih pemimpin mereka.
Mereka sadar bahwa mereka harus bekerja sama dengan pihak yang menang, siapa pun mereka—dan di balik layar, pemerintah akan melakukan “pekerjaan di belakang layar” dengan secara diam-diam membangun hubungan dengan tim politik para pesaing, kata Richard Dalton, mantan senior diplomat Inggris.
Namun banyak sekutu AS di NATO di Eropa khawatir bahwa dengan atau tanpa Trump, AS menjadi kurang dapat diandalkan. Beberapa negara sudah mulai berbicara secara terbuka tentang perlunya negara anggota meningkatkan belanja militer, dan merencanakan aliansi tanpa Amerika Serikat.
Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan bahwa dia saat ini banyak berbicara melalui telepon dengan rekan-rekannya dan meminta mereka berbuat lebih banyak untuk mendukung Ukraina.
Jerman adalah donor bantuan militer terbesar kedua ke Kyiv, setelah AS, namun Scholz baru-baru ini mengatakan kepada mingguan Jerman; Die Zeit, bahwa negaranya tidak dapat mengisi kesenjangan apa pun jika AS tidak lagi menjadi pendukungnya.
Komentar Trump pada hari Sabtu tentang NATO menimbulkan peringatan di Polandia, yang berbatasan dengan Ukraina. “Kami mengalami perang panas di perbatasan kami,” kata Perdana Menteri Polandia Donald Tusk pada hari Minggu.
"Kita harus menyadari bahwa Uni Eropa tidak bisa menjadi raksasa ekonomi dan peradaban serta kerdil dalam hal pertahanan, karena dunia telah berubah," ujarnya.
Sementara itu, Rusia sibuk memperkuat hubungan dengan China, Iran, dan Korea Utara serta berupaya mengurangi dukungan internasional terhadap Ukraina.
Macron juga menyatakan perhatian Amerika terfokus jauh dari Eropa. Jika prioritas utama Washington adalah AS, maka prioritas kedua adalah China.
“Ini juga mengapa saya menginginkan Eropa yang lebih kuat, yang tahu bagaimana melindungi dirinya sendiri dan tidak bergantungtidak pada orang lain,” kata Macron pada konferensi pers bulan Januari.
Trump memang memiliki pendukung di Eropa, terutama kelompok populis pro-Rusia seperti Orbán dari Hongaria. Namun mantan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson membuat beberapa orang terkejut ketika dia baru-baru ini berargumentasi bahwa "kepresidenan Trump bisa menjadi hal yang dibutuhkan dunia."
Johnson adalah pendukung kuat Ukraina dalam perjuangannya melawan invasi Rusia, sedangkan Trump sering memuji Putin dan mengatakan dia akan mengakhiri perang dalam waktu 24 jam. Namun, Johnson mengatakan dalam kolom Daily Mail bahwa dia tidak yakin Trump akan “menyingkirkan Ukraina", melainkan akan membantu Ukraina memenangkan perang, sehingga menjadikan Barat lebih kuat dan dunia lebih stabil.
Bronwen Maddox, direktur think tank urusan internasional Chatham House, mengatakan argumen seperti itu meremehkan “betapa tidak stabilnya” Trump, dan kemungkinan akan terus terjadi jika Trump terpilih kembali.
“Bagi mereka yang mengatakan bahwa masa jabatan pertamanya tidak menimbulkan banyak kerusakan pada tatanan internasional, salah satu jawabannya adalah bahwa dia menarik AS keluar dari JCPOA, kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran. Percepatan kerja Iran sejak saat itu telah menjadikannya negara yang memiliki senjata nuklir,” katanya dalam pidatonya baru-baru ini.
Lihat Juga :