Dianggap Mengancam, Gerakan Keagamaan Falun Dafa Terus Ditekan China
Kamis, 08 Februari 2024 - 10:54 WIB
loading...
A
A
A
Meski kurangnya kepercayaan CCP terhadap warga Uighur dan Tibet dapat dipahami dari fakta bahwa kedua kelompok tersebut menginginkan pemerintahan sendiri atau otonomi parsial, namun tindakannya terhadap Falun Dafa sulit dicerna karena tidak ada tuntutan seperti itu.
Beijing khawatir akan pertumbuhan praktisi Falun yang tidak terkendali di internal CCP itu sendiri. Ketika Jiang mencoba melenyapkan praktisi Falun di tahun 1990-an, itu merupakan keputusan sepihak dan sebagian besar anggota Politbiro CCP menentangnya, karena istri dan petinggi partai juga mempraktikkan keyakinan Falun Dafa. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.
Melalui tindakan keras terhadap Falun Dafa, Presiden China Xi Jinping dinilai berusaha memperingatkan kader-kader senior agar tidak menentang pemerintah. Sikap ini telah menuai kritik, baik dari internal CCP atau militer China.
Banyak kubu-kubu telah terbentuk dan bekerja menentang Xi Jinping. Ada laporan bahwa Xi Jinping ditegur para pemimpin partai yang lebih tua, dan itulah sebabnya dia dilarang menghadiri pertemuan G20 di New Delhi.
Seperti yang dilakukan Mao Zedong dan Jiang, Xi Jinping juga melancarkan perang besar melawan agama, khususnya Falun Gong—yang mayoritas anggotanya adalah etnis Han—, untuk menargetkan saingannya di internal partai. Seperti inisiatif anti-korupsi, hal ini akan memberikan kekuasaan kepada Xi Jinping untuk menghilangkan orang-orang yang dianggapnya sebagai ancaman.
Pada tahun 2023 telah terjadi peningkatan jumlah aksi protes di seluruh China dalam beberapa hal. Jumlah demonstrasi melonjak setelah Oktober 2022, dan puluhan protes terjadi di berbagai kota besar.
Beberapa analis meyakini bahwa banyak pengunjuk rasa ini kemudian dituduh sebagai bagian dari Falun Dafa, dan kemudian dianiaya.
Skema tuduhan ini telah berulang kali digunakan China sebagai alat menghukum inisiator petisi, aktivis, atau individu pro-demokrasi. China biasanya dengan mudah menuduh mereka semua memiliki hubungan dengan Falun Gong.
Situasi saat ini merupakan bagian dari pertarungan untuk legitimasi dan ideologi. CCP tidak mau berbagi posisi tertinggi, yang bahkan Tuhan dan agama pun dianggap berada di bawah partai. Ini merupakan bentuk Konfusianisme modern, di mana raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi.
Pengikut Falun Dafa tidak hanya terbatas pada anggota partai, tetapi juga telah menyusup ke dalam militer, dan itulah yang paling ditakuti oleh Beijing.
Persoalan agama selalu menjadi tantangan besar bagi negara komunis seperti China. Ini bak sebuah panji (banner) di mana banyak revolusi telah terjadi di masa silam. Beberapa orang meyakini bahwa Falun Dafa bahkan terkesan menantang rasa nasionalisme China.
Xi Jinping sama sekali tidak ingin memberikan ruang sedikit pun pada sesuatu yang tidak dapat dia kendalikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok mana pun yang tidak dapat dikendalikan CCP akan dianggap sebagai ancaman terhadap partai dan ideologinya.
Dugaan praktik pengambilan organ yang tidak manusiawi dari praktisi sekte oleh CCP juga mengungkap “wajah terburuk” di China. Pada Juni 2019, Tribunal China yang diketuai Sir Geoffrey Nice QC, mantan jaksa di Pengadilan Kriminal Internasional (ICT), menyimpulkan bahwa Falun Gong masih menjadi sumber utama pengambilan organ secara paksa di China.
Menurut Ethan Gutmann, seorang jurnalis investigasi, sekitar 65.000 praktisi Falun Gong dibunuh untuk diambil organnya antara tahun 2000 hingga 2008. Sedangkan, menurut pengacara hak asasi manusia David Matas dan mantan Menteri Luar Negeri Kanada David Kilgour, 41.500 transplantasi di China dipertanyakan dan dikaitkan dengan Falun Dafa antara tahun 2000 dan 2005.
Beijing khawatir akan pertumbuhan praktisi Falun yang tidak terkendali di internal CCP itu sendiri. Ketika Jiang mencoba melenyapkan praktisi Falun di tahun 1990-an, itu merupakan keputusan sepihak dan sebagian besar anggota Politbiro CCP menentangnya, karena istri dan petinggi partai juga mempraktikkan keyakinan Falun Dafa. Kondisi ini masih berlangsung hingga sekarang.
Melalui tindakan keras terhadap Falun Dafa, Presiden China Xi Jinping dinilai berusaha memperingatkan kader-kader senior agar tidak menentang pemerintah. Sikap ini telah menuai kritik, baik dari internal CCP atau militer China.
Banyak kubu-kubu telah terbentuk dan bekerja menentang Xi Jinping. Ada laporan bahwa Xi Jinping ditegur para pemimpin partai yang lebih tua, dan itulah sebabnya dia dilarang menghadiri pertemuan G20 di New Delhi.
Seperti yang dilakukan Mao Zedong dan Jiang, Xi Jinping juga melancarkan perang besar melawan agama, khususnya Falun Gong—yang mayoritas anggotanya adalah etnis Han—, untuk menargetkan saingannya di internal partai. Seperti inisiatif anti-korupsi, hal ini akan memberikan kekuasaan kepada Xi Jinping untuk menghilangkan orang-orang yang dianggapnya sebagai ancaman.
Pada tahun 2023 telah terjadi peningkatan jumlah aksi protes di seluruh China dalam beberapa hal. Jumlah demonstrasi melonjak setelah Oktober 2022, dan puluhan protes terjadi di berbagai kota besar.
Beberapa analis meyakini bahwa banyak pengunjuk rasa ini kemudian dituduh sebagai bagian dari Falun Dafa, dan kemudian dianiaya.
Skema tuduhan ini telah berulang kali digunakan China sebagai alat menghukum inisiator petisi, aktivis, atau individu pro-demokrasi. China biasanya dengan mudah menuduh mereka semua memiliki hubungan dengan Falun Gong.
Pertarungan Ideologi
Situasi saat ini merupakan bagian dari pertarungan untuk legitimasi dan ideologi. CCP tidak mau berbagi posisi tertinggi, yang bahkan Tuhan dan agama pun dianggap berada di bawah partai. Ini merupakan bentuk Konfusianisme modern, di mana raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi.
Pengikut Falun Dafa tidak hanya terbatas pada anggota partai, tetapi juga telah menyusup ke dalam militer, dan itulah yang paling ditakuti oleh Beijing.
Persoalan agama selalu menjadi tantangan besar bagi negara komunis seperti China. Ini bak sebuah panji (banner) di mana banyak revolusi telah terjadi di masa silam. Beberapa orang meyakini bahwa Falun Dafa bahkan terkesan menantang rasa nasionalisme China.
Xi Jinping sama sekali tidak ingin memberikan ruang sedikit pun pada sesuatu yang tidak dapat dia kendalikan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kelompok mana pun yang tidak dapat dikendalikan CCP akan dianggap sebagai ancaman terhadap partai dan ideologinya.
Dugaan praktik pengambilan organ yang tidak manusiawi dari praktisi sekte oleh CCP juga mengungkap “wajah terburuk” di China. Pada Juni 2019, Tribunal China yang diketuai Sir Geoffrey Nice QC, mantan jaksa di Pengadilan Kriminal Internasional (ICT), menyimpulkan bahwa Falun Gong masih menjadi sumber utama pengambilan organ secara paksa di China.
Menurut Ethan Gutmann, seorang jurnalis investigasi, sekitar 65.000 praktisi Falun Gong dibunuh untuk diambil organnya antara tahun 2000 hingga 2008. Sedangkan, menurut pengacara hak asasi manusia David Matas dan mantan Menteri Luar Negeri Kanada David Kilgour, 41.500 transplantasi di China dipertanyakan dan dikaitkan dengan Falun Dafa antara tahun 2000 dan 2005.
Lihat Juga :