Capres Pro-Kemerdekaan Menang Pemilu Taiwan, China Kerahkan 8 Pesawat dan 6 Kapal Militer

Minggu, 14 Januari 2024 - 10:39 WIB
loading...
Capres Pro-Kemerdekaan...
Capres pro-kemerdekaan Taiwan, Lai Ching-te alias William Lai, resmi menang pemilu. China merespons dengan mengerahkan 8 pesawat dan 6 kapal militer ke dekat Taiwan. Foto/REUTERS
A A A
TAIPEI - Calon presiden (capres) pro-kemerdekaan Taiwan, Lai Ching-te alias William Lai, resmi memenangkan pemilu setempat dengan meraih 40,05 persen suara.

Kemenangan politisi Partai Progresif Demokratik (DPP) yang dikenal dengan nama William Lai Qingde itu direspons China dengan mengerahkan delapan pesawat dan enam kapal militer ke dekat Taiwan.

Komisi Pemilihan Umum Pusat Taiwan mengatakan Lai resmi memenangkan pemilu yang digelar hari Sabtu setelah seluruh surat suara dari semua tempat pemungutan suara (TPS) dihitung.

Baca Juga: Sosok William Lai, Presiden Terpilih Taiwan yang Dibenci China

Lai mendapat dukungan 5.586.019 pemilih. Sedangkan Hou Yu-ih, capres dari partai oposisi utama Kuomintang, memperoleh 4.671.021 suara atau 33,49 persen, dan Ko Wen-je dari Partai Rakyat Taiwan memperoleh 26,45 persen atau 3.690.466 suara.

“Saya ingin berterima kasih kepada rakyat Taiwan karena telah menulis babak baru dalam demokrasi kami. Kami telah menunjukkan kepada dunia betapa kami menghargai demokrasi,” kata Lai dalam pidatonya di hadapan para pemilih.

Dia juga berterima kasih kepada lawan-lawannya, seraya menambahkan bahwa dia telah berbicara dengan mereka melalui telepon dan menerima ucapan selamat.

Lebih lanjut, Lai menyoroti komitmennya untuk melindungi pulau tersebut dari ancaman dan intimidasi China.

“Kami bertekad untuk melindungi Taiwan dari ancaman dan intimidasi China yang terus berlanjut,” kata Lai saat konferensi pers, yang dilansir Sputnik, Minggu (14/1/2024).

Dia juga mengumumkan niatnya untuk mempertahankan status quo di Selat Taiwan dan menggunakan dialog, alih-alih konfrontasi, untuk terus melanjutkan pertukaran dan kerja sama dengan China.

“Jika ada kesetaraan dan martabat, Taiwan ingin terlibat dalam dialog dan kerja sama dengan China demi kepentingan masyarakat di kedua sisi selat untuk menciptakan lingkungan yang damai dan sejahtera,” imbuh dia.

Hou Yu-ih mengakui kekalahan dalam pemilihan umum dan meminta maaf kepada para pemilih.

"Saya telah mengecewakan semua orang. Saya di sini untuk menyampaikan penyesalan terdalam saya. Mohon maafkan saya," kata Hou dalam pidatonya kepada para pemilih.

Pemimpin Taiwan dipilih dengan suara mayoritas sederhana untuk masa jabatan empat tahun, tanpa kemungkinan putaran kedua. Pemenang pemilu rencananya akan dilantik pada 20 Mei 2024.

Taiwan telah memerintah sendiri sejak 1949 atau setelah perang saudara China. Namun Beijing masing memandang pulau itu sebagai bagian dari wilayah China.

Pemerintahan Taiwan yang dipimpin oleh DPP dianggap pro-kemerdekaan, terutama karena seringnya melakukan kontak dengan para pejabat Amerika Serikat dan aktivisme internasional, yang mendorong Beijing untuk meningkatkan latihan militer di Selat Taiwan dalam beberapa tahun terakhir.

Sementara itu, Angkatan Bersenjata Taiwan telah mendeteksi delapan pesawat dan enam kapal militer China telah dikerahkan ke dekat pulau itu selama 24 jam terakhir.

Kementerian Pertahanan setempat mengatakan pasukan Taiwan telah memantau situasi dan telah memerintahkan unit udara, laut, dan darat untuk menanggapi aktivitas China.

Ketika Lai menang pemilu Taiwan, pemerintah China berjanji akan merespons tegas setiap upaya memerdekakan Taiwan. Beijing telah berkali-kali berjanji akan menyatukan kembali pulau itu dengan China, termasuk dengan kekerasan jika diperlukan.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
Inggris Akan Ganti 6...
Inggris Akan Ganti 6 Kapal Perusak Tua dengan 6 Kapal Perang Hibrida Pengendali Drone
Media Pemerintah China:...
Media Pemerintah China: Jepang Benar-benar Simulasikan Serangan terhadap Kapal Induk Liaoning
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Xi Jinping dan Akhir...
Xi Jinping dan Akhir dari Narasi Kebangkitan Damai China
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Sidang Lanjutan Praperadilan...
Sidang Lanjutan Praperadilan Roy Suryo, Polda Metro Jaya Bacakan Jawaban
Kejutan! Maroko Singkirkan...
Kejutan! Maroko Singkirkan Belanda Lewat Drama Adu Penalti
QuickPro Ajak Trader...
QuickPro Ajak Trader Emas Bangun Kemandirian Analisa
Berita Terkini
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Trump Ingin Beri Turki...
Trump Ingin Beri Turki Jet Tempur Siluman F-35 AS, Kongres Siap Blokir dengan Alasan S-400 Rusia
5 Momen Penyelamatan...
5 Momen Penyelamatan Korban Gempa Venezuela yang Mengharukan
Menipu hingga Rp17,8...
Menipu hingga Rp17,8 Triliun untuk Hidup Mewah, Miliarder Ini Dipenjara 30 Tahun
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Mengapa Pangkalan-pangkalan...
Mengapa Pangkalan-pangkalan Militer AS di Teluk Akan Berakhir? Ini Analisisnya
Infografis
Gerombolan Pesawat Militer...
Gerombolan Pesawat Militer China Serbu ADIZ Taiwan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved