AS dan Inggris Mengamuk, Bombardir Yaman dengan Rudal Tomahawk

Jum'at, 12 Januari 2024 - 09:33 WIB
loading...
AS dan Inggris Mengamuk,...
Amerika Serikat dan Inggris membombardir Yaman dari udara dan laut dengan target situs-situs Houthi. Rudal Tomahawk menjadi senjata andalan. Foto/REUTERS
A A A
SANAA - Amerika Serikat (AS) dan Inggris mengonfirmasi bahwa militer mereka telah menyerang wilayah Yaman dari udara dan laut, Jumat (12/1/2024) dini hari. Andalkan rudal jelajah Tomahawk, mereka mengeklaim menargetkan situs-situs milik kelompok Houthi.

Amukan militer negara-negara NATO itu menandai respons yang signifikan setelah pemerintahan Joe Biden dan sekutunya memperingatkan bahwa kelompok Houthi akan menanggung konsekuensi dari serangan drone dan rudal yang berulang kali terhadap pada pelayaran komersial di Laut Merah.

Presiden Joe Biden mengatakan dia memang memerintahkan serangan di Yaman. "Itu sebagai tanggapan langsung terhadap serangan Houthi yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap kapal maritim internasional di Laut Merah," katanya, seperti dikutip CNN.

Baca Juga: Perang Baru Pecah: AS, Inggris, dan Israel Bombardir Yaman

“Hari ini, atas arahan saya, pasukan militer AS—bersama Inggris dan dukungan dari Australia, Bahrain, Kanada, dan Belanda—berhasil melakukan serangan terhadap sejumlah sasaran di Yaman yang digunakan oleh pemberontak Houthi untuk membahayakan kebebasan navigasi di salah satu jalur perairan paling penting di dunia,” lanjut Biden dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Gedung Putih.

"Saya tidak akan ragu untuk mengarahkan langkah-langkah lebih lanjut untuk melindungi rakyat kita dan arus bebas perdagangan internasional jika diperlukan.”

Menurut laporan CNN, serangan-serangan tersebut berasal dari jet tempur dan rudal Tomahawk yang ditembakkan dari kapal perang.

Seorang pejabat AS mengatakan lebih dari selusin target Houthi ditembaki oleh rudal yang ditembakkan dari udara, permukaan, dan sub platform dan dipilih karena kemampuan mereka untuk melemahkan serangan berkelanjutan Houthi terhadap kapal-kapal di Laut Merah.

Objek-objek tersebut termasuk sistem radar, tempat penyimpanan dan peluncuran drone, tempat penyimpanan dan peluncuran rudal balistik, serta tempat penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah.

Serangan ini merupakan tanda meningkatnya kekhawatiran internasional atas ancaman terhadap salah satu saluran air paling penting di dunia tersebut.

Selama berminggu-minggu, AS berusaha menghindari serangan langsung ke Yaman karena risiko eskalasi ketegangan di wilayah tersebut, namun serangan Houthi yang sedang berlangsung terhadap pelayaran internasional memaksa koalisi tersebut untuk bertindak.

Pejabat senior pemerintah AS memberi pengarahan kepada pimpinan Kongres pada Kamis pagi mengenai rencana AS, menurut sumber di Kongres.

Seorang pejabat senior AS mengatakan serangan Houthi terhadap kapal-kapal Laut Merah pada hari Selasa menandai pukulan terakhir yang mencapai puncaknya ketika Biden memberikan lampu hijau bagi AS untuk melanjutkan serangan pada hari Kamis malam atau Jumat dini hari, meskipun persiapan telah berlangsung selama beberapa waktu.

USS Florida, kapal selam berpeluru kendali yang menyeberang ke Laut Merah pada tanggal 23 November, adalah bagian dari serangan terhadap Yaman, menurut pejabat kedua AS.

Itu, lanjut dia, seperti serangan rudal dari kapal permukaan dan serangan rudal Tomahawk dari kapal selam.

Serangan itu terjadi ketika Menteri Pertahanan Lloyd Austin masih dirawat di rumah sakit menyusul komplikasi dari operasi kanker prostat.

Meskipun AS telah melakukan serangan terhadap proksi Iran di Irak dan Suriah sejak pecahnya perang Israel-Hamas di Gaza, serangan ini merupakan serangan pertama terhadap kelompok Houthi di Yaman.

Sesaat sebelumnya, juru bicara Houthi Abdulsalam Jahaf mengatakan rentetan serangan telah melanda sejumlah kota termasuk Sanaa.

“Sekarang Amerika, Inggris, dan Israel melancarkan serangan ke Hodeidah, Sanaa, Dhamar, dan Saada,” tulis Jahaf di X.

“Kami akan mendisiplinkan mereka, Insya Allah," lanjut dia.

Kantor berita Reuters melaporkan setidaknya ada tiga ledakan terjadi di Sanaa.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz
Panas! Iran Gempur 18...
Panas! Iran Gempur 18 Target Milliter AS di Timur Tengah
Rekomendasi
Bisa Tetap Berkarya!...
Bisa Tetap Berkarya! Ini Tips Menjaga Kualitas Hidup Setelah Pensiun
BOLT Berkurban: Satu...
BOLT Berkurban: Satu Momen, Seribu Kebaikan
10 Tahun Jadi Tempat...
10 Tahun Jadi Tempat Kerja Terbaik di Asia, BAT Indonesia Raih Platinum Harmonia
Berita Terkini
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Inggris, Australia,...
Inggris, Australia, dan Kanada Luncurkan Dana untuk Dukung Upaya Solusi 2 Negara
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved