Banyak Masjid Dibom Israel, Azan Tak Berkumandang Lagi di Gaza
Selasa, 02 Januari 2024 - 06:47 WIB
loading...
A
A
A
“Ini lebih dari sekedar bangunan; itu mewakili jantung komunitas," papar dia.
Jame menekankan, membangun kembali lingkungan mereka terkait erat dengan membangun kembali masjid-masjid karena tempat-tempat tersebut bukanlah pertimbangan sekunder melainkan landasan utama kehidupan mereka.
Masjid Agung Omari didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Omar bin al-Khattab. Dulunya merupakan kuil Romawi dan kemudian menjadi gereja, bangunan ini menjadi masjid terbesar setelah penaklukan Islam.
Terletak di kota tua Gaza, dekat Palestine Square, luasnya 4.100 meter persegi, dengan halaman seluas 1.190 meter persegi yang dapat menampung lebih dari 3.000 jemaah.
“Saya tidak pernah berpikir perang ini akan menghancurkan masjid-masjid,” keluh Saeed Labad, penduduk asli Gaza.
Pria berusia 45 tahun itu kini tinggal di Turki, namun keluarganya tinggal di dekat Masjid Al-Omari di Shujaiyya, Kota Gaza.
"Saya menghadiri setiap salat di sana. Ini adalah tempat kuno yang sangat disayangi anak-anak saya. Saya bertanya-tanya mengapa masjid itu dihancurkan; apakah masjid tersebut mengancam para penjajah?" ujar dia.
Baca juga: Inggris Siap Gempur Houthi Yaman dengan Serangan Udara
Dia menambahkan, puluhan masjid lainnya, seperti Al-Hasayna di dekat pelabuhan Gaza, dihancurkan rezim kolonial rasis Israel.
“Masjid-masjid ini menyimpan kenangan kita, terutama selama bulan Ramadan. Perang ini melenyapkan segalanya. Saya berharap Gaza akan dibangun kembali setelah perang, sehingga saya dapat menghidupkan kembali momen-momen indah ini dan mengunjungi kembali tempat-tempat ini bersama keluarga saya,” ungkap dia.
Jame menekankan, membangun kembali lingkungan mereka terkait erat dengan membangun kembali masjid-masjid karena tempat-tempat tersebut bukanlah pertimbangan sekunder melainkan landasan utama kehidupan mereka.
Masjid Agung Omari didirikan pada masa pemerintahan Khalifah Omar bin al-Khattab. Dulunya merupakan kuil Romawi dan kemudian menjadi gereja, bangunan ini menjadi masjid terbesar setelah penaklukan Islam.
Terletak di kota tua Gaza, dekat Palestine Square, luasnya 4.100 meter persegi, dengan halaman seluas 1.190 meter persegi yang dapat menampung lebih dari 3.000 jemaah.
“Saya tidak pernah berpikir perang ini akan menghancurkan masjid-masjid,” keluh Saeed Labad, penduduk asli Gaza.
Pria berusia 45 tahun itu kini tinggal di Turki, namun keluarganya tinggal di dekat Masjid Al-Omari di Shujaiyya, Kota Gaza.
"Saya menghadiri setiap salat di sana. Ini adalah tempat kuno yang sangat disayangi anak-anak saya. Saya bertanya-tanya mengapa masjid itu dihancurkan; apakah masjid tersebut mengancam para penjajah?" ujar dia.
Baca juga: Inggris Siap Gempur Houthi Yaman dengan Serangan Udara
Dia menambahkan, puluhan masjid lainnya, seperti Al-Hasayna di dekat pelabuhan Gaza, dihancurkan rezim kolonial rasis Israel.
“Masjid-masjid ini menyimpan kenangan kita, terutama selama bulan Ramadan. Perang ini melenyapkan segalanya. Saya berharap Gaza akan dibangun kembali setelah perang, sehingga saya dapat menghidupkan kembali momen-momen indah ini dan mengunjungi kembali tempat-tempat ini bersama keluarga saya,” ungkap dia.
Lihat Juga :