Erdogan: Israel Akan Bayar Mahal Jika Berani Bunuh Pemimpin Hamas di Turki!
Kamis, 07 Desember 2023 - 00:01 WIB
loading...
A
A
A
Sebagai respons, Erdogan mengatakan kepada wartawan yang menemaninya selama perjalanan ke Qatar pada hari Selasa: “Mereka tidak mengenal orang Turki. Mereka tidak mengenal kami. Jika mereka melakukan kesalahan seperti itu, mereka harus tahu bahwa mereka akan membayar harga yang sangat mahal untuk itu.”
“Jika mereka berani mengambil langkah melawan Turki dan orang Turki, mereka akan dihukum dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi,” ujarnya.
“Mereka yang mencoba melakukan hal seperti itu harus ingat bahwa konsekuensinya bisa sangat serius. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mengetahui kemajuan yang telah dicapai Turki baik di bidang intelijen dan keamanan,” imbuh dia, seperti dikutip Middle East Eye, Rabu (6/12/2023).
Anggota Hamas yang tinggal di Turki adalah bagian dari kepemimpinan politik gerakan perlawanan tersebut, bukan bagian dari sayap militer, dan banyak yang pindah ke Turki setelah kesepakatan pertukaran tahanan Israel Gilad Shalit pada tahun 2011.
Turki awalnya mengkritik Hamas atas serangan 7 Oktober dan meminta para pemimpinnya meninggalkan negara itu untuk sementara waktu.
Namun, kampanye pengeboman Israel yang menghancurkan di Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 16.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—telah memaksa Ankara untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Israel.
“Jika mereka berani mengambil langkah melawan Turki dan orang Turki, mereka akan dihukum dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi,” ujarnya.
“Mereka yang mencoba melakukan hal seperti itu harus ingat bahwa konsekuensinya bisa sangat serius. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak mengetahui kemajuan yang telah dicapai Turki baik di bidang intelijen dan keamanan,” imbuh dia, seperti dikutip Middle East Eye, Rabu (6/12/2023).
Anggota Hamas yang tinggal di Turki adalah bagian dari kepemimpinan politik gerakan perlawanan tersebut, bukan bagian dari sayap militer, dan banyak yang pindah ke Turki setelah kesepakatan pertukaran tahanan Israel Gilad Shalit pada tahun 2011.
Turki awalnya mengkritik Hamas atas serangan 7 Oktober dan meminta para pemimpinnya meninggalkan negara itu untuk sementara waktu.
Namun, kampanye pengeboman Israel yang menghancurkan di Gaza, yang telah menewaskan sedikitnya 16.000 orang—sebagian besar perempuan dan anak-anak—telah memaksa Ankara untuk mengambil sikap lebih keras terhadap Israel.
Lihat Juga :