AS Jatuhkan Sanksi kepada Pemimpin Chechnya

Kamis, 21 Desember 2017 - 06:05 WIB
AS Jatuhkan Sanksi kepada...
AS Jatuhkan Sanksi kepada Pemimpin Chechnya
A A A
WASHINGTON - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi baru terhadap lima orang Rusia dan Chechnya atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Salah satu sosok yang terkena sanksi tersebut termasuk kepala republik Rusia Chechnya.

"Sanksi baru tersebut memasukkan Ramzan Kadyrov, pemimpin Chechnya dan sekutu dekat Presiden Rusia Vladimir Putin, ke dalam daftar hitam," Departemen Keuangan AS mengatakan dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Reuters, Kamis (21/12/2017).

Pihak berwenang AS menuduh Kadyrov mengawasi sebuah pemerintahan yang terlibat dalam penghilangan dan pembunuhan di luar hukum.

Kadyrov bereaksi terhadap berita tersebut dengan sikap menantangnya yang biasa.

"Suatu malam tanpa tidur menungguku," Kadyrov menulis, tampak sarkastik, di akun media sosial Instagramnya.

"Saya bangga bahwa saya tidak disukai dengan dinas khusus Amerika Serikat. Sebenarnya, AS tidak dapat memaafkan saya karena telah mengabdikan seluruh hidup saya untuk memerangi teroris asing, di antaranya ada bajingan dari dinas khusus Amerika," imbuhnya.

Ia pun menulis bahwa dia tidak akan mengunjungi Amerika Serikat.

Departemen Keuangan AS memberlakukan sanksi, yang membekukan rekening bank dari yang ditargetkan, berdasarkan undang-undang tahun 2012 yang dikenal dengan Undang-Undang Magnitsky.

Undang-undang Magnitsky menerapkan larangan visa dan pembekuan aset pada pejabat Rusia yang terkait dengan kematian di penjara Sergei Magnitsky, seorang auditor dan whistleblower Rusia berusia 37 tahun. Tindakan tersebut juga berusaha untuk bertanggung jawab atas pihak berwenang AS tersebut yang menyatakan bahwa mereka diatur atau diuntungkan dari kematian Magnitsky.

"Departemen Keuangan tetap berkomitmen untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang terlibat dalam urusan Sergei Magnitsky, termasuk mereka yang memiliki peran dalam konspirasi kriminal dan skema penipuan yang ia temukan," kata Direktur Departemen Pengawasan Aset Luar Negeri Departemen Keuangan John Smith dalam sebuah pernyataan.

Magnitsky ditangkap dan meninggal di sebuah penjara di Moskow pada tahun 2009 setelah menemukan skema penipuan pajak senilai USD230 juta, menurut pihak berwenang AS. Pendukung Magnitsky mengatakan bahwa negara Rusia membunuhnya dengan menolak perawatan medis yang memadai setelah dipenjara karena tuduhan penghindaran pajak. Kremlin membantah tuduhan tersebut.

Selain Kadyrov dan satu pejabat Chechnya lainnya, tindakan Departemen Keuangan juga menargetkan tiga orang Rusia yang pihak berwenang AS katakan terlibat dalam skema penipuan pajak kompleks yang dilatarbelakangi oleh Magnitsky.

Sanksi Magnitsky telah menjadi titik ketegangan antara Moskow dan Washington, bahkan sebelum aneksasi Rusia terhadap Crimea mengirim hubungan merenggang. Sebagai pembalasan atas Undang-Undang Magnitsky, Putin menandatangani sebuah RUU yang menghentikan adopsi anak-anak Rusia oleh AS.
(ian)
Berita Terkait
Dianggap Melanggar HAM,...
Dianggap Melanggar HAM, AS Sanksi Pemimpin Chechnya
Rusia: Sanksi AS Terhadap...
Rusia: Sanksi AS Terhadap Pemimpin Chechnya Terlalu Dibuat-buat
Rusia ingin PBB Menekan...
Rusia ingin PBB Menekan Amerika Serikat dalam Masalah Ini
Presiden Iran Ebrahim...
Presiden Iran Ebrahim Raisi Terbang ke New York, Dilepas Barisan Militer
Pemimpin Chechnya: Seperti...
Pemimpin Chechnya: Seperti Osama, Taliban adalah Penipuan AS pada Muslim
Lakukan Pelanggaran...
Lakukan Pelanggaran HAM, AS Blacklist Pemimpin Chechnya
Berita Terkini
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
1 jam yang lalu
4 Alasan Iran Kini Lebih...
4 Alasan Iran Kini Lebih Siap Hadapi Serangan AS, Sudah Memahami Musuh
2 jam yang lalu
Selat Hormuz Berkecamuk,...
Selat Hormuz Berkecamuk, Turki Tawarkan Jalur Kereta Api Hejaz Modern
3 jam yang lalu
Rusia Intensifkan Serangan,...
Rusia Intensifkan Serangan, Sekjen NATO Justru Berkunjung ke Ukraina
4 jam yang lalu
Jadi Target Rudal dan...
Jadi Target Rudal dan Drone Iran, Bahrain dan Kuwait Siaga Penuh
5 jam yang lalu
Kunjungi Indonesia,...
Kunjungi Indonesia, Menlu Malaysia Fokus Kerja Sama Atasi Guncangan Eksternal
6 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved