alexa snippet

Arab, Eropa, dan PBB Tolak Pengakuan Trump Atas Yerusalem

Arab, Eropa, dan PBB Tolak Pengakuan Trump Atas Yerusalem
Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel ditentang oleh dunia internasional. Foto/Istimewa
A+ A-
LONDON - Orang-orang Arab dan Muslim di Timur Tengah pada hari Rabu mengecam pengakuan Amerika Serikat (AS) atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Mereka menilai hal itu sebagai tindakan provokasi di wilayah yang bergejolak. Warga Palestina mengatakan bahwa Washington telah menghilangkan peran utamanya sebagai mediator perdamaian.

Sementara Uni Eropa dan PBB juga menyuarakan kekhawatiran atas keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel ke Yerusalem dan akibatnya untuk kemungkinan menghidupkan kembali perdamaian damai Israel-Palestina.

Sebagian besar sekutu AS keluar melawan kebijakan Trump dan kebijakan internasional yang luas mengenai Yerusalem.

Inggris mengatakan bahwa langkah tersebut tidak akan membantu usaha perdamaian dan Yerusalem pada akhirnya harus dibagi oleh Israel dan sebuah negara Palestina di masa depan.

"Perdana Menteri Inggris Theresa May tidak setuju dengan cara Trump merangkul Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebelum kesepakatan status akhir karena hal ini tidak mungkin untuk membantu memelihara perdamaian di wilayah tersebut," kata juru bicara Perdana Menteri Inggris seperti dilansir dari Reuters, Kamis (7/12/2017).

Namun, juru bicara May menyambut harapan Trump untuk mengakhiri konflik dan pengakuannya bahwa status terakhir Yerusalem, termasuk batas-batas di dalam kota, harus tunduk pada negosiasi antara Israel dan Palestina.

Prancis menolak keputusan sepihak itu sambil meminta ketenangan di wilayah tersebut. Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa dia tidak mendukung langkah "unilateral" Trump.

"Status Yerusalem adalah masalah keamanan internasional yang menyangkut seluruh masyarakat internasional. Status Yerusalem harus ditentukan oleh orang Israel dan Palestina dalam rangka perundingan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa," kata Macron.

"Perancis dan Eropa terikat pada solusi dua negara - Israel dan Palestina - meninggalkan berdampingan dalam kedamaian dan keamanan di dalam perbatasan internasional yang diakui dengan ibu kota Yerusalem dari kedua negara bagian," imbuhnya.

"Untuk saat ini, saya mendesak agar semua pihak untuk tenang dan setiap orang bertanggung jawab. Kita harus menghindari semaksimal mungkin menghindari kekerasan dan mendorong dialog," tukasnya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa tidak ada alternatif untuk solusi dua negara dan Yerusalem adalah masalah status akhir yang harus diselesaikan melalui pembicaraan langsung.

"Saya telah secara konsisten berbicara menentang tindakan sepihak yang akan membahayakan prospek perdamaian bagi orang Israel dan Palestina," kata Guterres.

"Saya akan melakukan segalanya dengan kekuatan saya untuk mendukung para pemimpin Israel dan Palestina untuk kembali ke perundingan yang berarti," tegasnya.
halaman ke-1 dari 2
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top