Arab Saudi Marah setelah Menteri Israel Serukan Gaza Dibom Nuklir
Senin, 06 November 2023 - 09:37 WIB
loading...
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud dan Putra Mahkota Mohammed bin Salman dari Arab Saudi. Kerajaan Arab Saudi marah setelah menteri Israel serukan militernya mengebom nuklir Gaza, Palestina. Foto/SPA via REUTERS
A
A
A
RIYADH - Kerajaan Arab Saudi menyampaikan kemarahannya atas komentar seorang menteri Israel yang menyerukan militer mengebom nuklir Jalur Gaza, Palestina.
Seruan berbahaya itu disampaikan Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu. Dia mengatakan senjata nuklir bisa menjadi pilihan dalam perang yang sedang berlangsung dengan Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menskors Eliyahu gara-gara seruan penggunaan senjata nuklir tersebut.
Baca Juga: Menteri Israel Serukan Gaza Dibom Nuklir, Ini Respons Netanyahu
Langkah Netanyahu belum cukup untuk meredam kemarahan Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dalam sebuah pernyataan, mengecam apa yang dilihatnya sebagai penyebaran “ekstremisme dan kebrutalan di antara anggota pemerintah Israel."
“Lagi pula, tidak memecat menteri dan hanya membekukan keanggotaannya merupakan tindakan yang sangat mengabaikan semua standar dan nilai-nilai kemanusiaan,” lanjut kementerian tersebut, seperti dikutip Newsweek, Senin (6/11/2023).
Perang besar antara Israel dan Hamas pecah sejak 7 Oktober lalu. Hingga kini, sudah lebih dari 9.700 warga Palestina tewas dibombardir Israel di Gaza dengan lebih dari 4.000 di antaranya adalah anak-anak.
Seruan berbahaya itu disampaikan Menteri Warisan Israel Amichai Eliyahu. Dia mengatakan senjata nuklir bisa menjadi pilihan dalam perang yang sedang berlangsung dengan Hamas.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menskors Eliyahu gara-gara seruan penggunaan senjata nuklir tersebut.
Baca Juga: Menteri Israel Serukan Gaza Dibom Nuklir, Ini Respons Netanyahu
Langkah Netanyahu belum cukup untuk meredam kemarahan Arab Saudi.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi, dalam sebuah pernyataan, mengecam apa yang dilihatnya sebagai penyebaran “ekstremisme dan kebrutalan di antara anggota pemerintah Israel."
“Lagi pula, tidak memecat menteri dan hanya membekukan keanggotaannya merupakan tindakan yang sangat mengabaikan semua standar dan nilai-nilai kemanusiaan,” lanjut kementerian tersebut, seperti dikutip Newsweek, Senin (6/11/2023).
Perang besar antara Israel dan Hamas pecah sejak 7 Oktober lalu. Hingga kini, sudah lebih dari 9.700 warga Palestina tewas dibombardir Israel di Gaza dengan lebih dari 4.000 di antaranya adalah anak-anak.
Lihat Juga :