Kurang Dana, Mike Pence Mundur jadi Capres Partai Republik

Minggu, 29 Oktober 2023 - 09:36 WIB
loading...
Kurang Dana, Mike Pence...
Mantan Wakil Presiden AS Mike Pence mundur jadi calon presiden Partai Republik. Foto/Reuters
A A A
LAS VEGAS - Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence mengakhiri kampanye calon presidennya dari Partai Republik yang kekurangan dana pada Sabtu waktu setempat. Pence telah berjuang selama berbulan-bulan untuk meyakinkan para pemilih Partai Republik bahwa ia adalah alternatif terbaik dari sosok yang pernah ia layani Donald Trump.

Pengumuman mengejutkan Pence pada konferensi donor Koalisi Yahudi Partai Republik di Las Vegas menjadikannya kandidat dengan nama besar pertama yang keluar dari bursa. Trump tetap menjadi kandidat terdepan dalam persaingan ini.

"Saat melakukan perjalanan keliling negeri selama enam bulan terakhir, saya datang ke sini untuk mengatakan bahwa ini menjadi jelas bagi saya: Ini bukan waktu saya. Jadi setelah banyak berdoa dan mempertimbangkan, saya memutuskan untuk menghentikan kampanye saya untuk menjadi presiden mulai hari ini," kata Pence seperti dilansir dari Reuters, Minggu (29/10/2023).

Penonton terkesiap dengan pengumuman itu dan, kemudian, bertepuk tangan dan memberikan sorakan dukungan yang berkepanjangan.

Dalam pidatonya, Pence tidak menyebutkan akan mendukung siapa.

“Saya mendesak semua rekan-rekan Partai Republik di sini, memberikan negara kita pembawa standar Partai Republik yang, seperti kata Lincoln, akan menarik bagi orang-orang yang lebih baik dari sifat kita,” kata Pence, seraya menambahkan bahwa orang tersebut juga harus menjadi seseorang yang memimpin negara dengan “kesopanan”.

Sumber yang dekat dengan Pence tertawa ketika ditanya apakah dia akan mendukung Trump.

Baca Juga: Biden Bertemu Menlu China untuk Buka Jalan Duduk Bareng dengan Xi Jinping

Kabar mundurnya Trump dari bursa capres Partai Republik menuai respon beragam dari pesaingnya. Gubernur Florida Ron DeSantis dan Trump tidak menyebut Pence dalam pidato mereka, yang muncul setelah pengumuman Pence. Namun DeSantis kemudian memposting di platform media sosial X bahwa Pence adalah "orang yang mempunyai prinsip keyakinan". Sedangan Nikki Haley memuji Pence sebagai pejuang bagi Amerika dan Israel.

Diyakini akan lebih banyak kandidat capres yang mungkin akan segera mengikuti langkah Pence yang keluar, sehingga mengkonsolidasikan banyak kandidat. Dengan lebih dari setengah lusin kandidat, pendonor dana yang mencari alternatif selain Trump enggan mengeluarkan uang mereka.

Namun, keunggulan Trump begitu besar sehingga mungkin tidak menjadi masalah, dan para pesaingnya mungkin memutuskan untuk bertahan lebih lama. Tidak ada alternatif yang jelas yang muncul sejak kampanye DeSantis melemah setelah awal yang mengecewakan.

Pence mengumumkan pencalonannya sebagai presiden pada bulan Juni namun gagal menarik cukup banyak pemilih primer dan donor untuk mempertahankan pencalonannya, yang hanya mencapai satu digit dalam jajak pendapat.

Sebagai seorang juru kampanye yang kaku dan kekurangan karisma, Pence kekurangan uang pada bulan Oktober. Dia gagal menarik perhatian di negara bagian Iowa yang menjadi nominasi Partai Republik pertama meskipun menghabiskan waktu dan sumber daya di sana.

Total penggalangan dana kuartal ketiga yang dilakukan Pence pada 15 Oktober menunjukkan bahwa kampanyenya terlilit utang sebesar USD620.000, dengan uang tunai yang tersisa hanya sebesar USD1,2 juta. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa pesaingnya dari Partai Republik yang memiliki kinerja lebih baik dan tidak cukup untuk bersaing memperebutkan kursi Gedung Putih.

Dalam beberapa pemilu sebelumnya, mantan wakil presiden yang bersaing untuk menjadi calon Gedung Putih cukup berhasil, termasuk George H.W. Bush pada tahun 1988 dan kandidat dari Partai Demokrat Al Gore pada tahun 2000. Biden sendiri merupakan wakil presiden dari mantan Presiden Barack Obama.

Baca Juga: Hampir Sebulan Kosong, DPR AS Akhirnya Punya Ketua Baru

Namun Pence tidak mampu mengatasi kekuatan politik Trump, bersama dengan para pesaingnya yang lebih menarik bagi pemilih utama dan donor, termasuk mantan Gubernur Carolina Selatan Nikki Haley dan DeSantis.

Pence mencalonkan diri sebagai seorang konservatif sosial dan fiskal tradisional, dan seorang yang agresif dalam kebijakan luar negeri, menyerukan peningkatan bantuan militer ke Ukraina dan pemotongan belanja kesejahteraan.

Ciri khas Partai Republik yang ia miliki di era Trump telah dikalahkan oleh populisme keras dan isolasionisme “America First”.

Pence (64) secara terbuka memutuskan hubungan dengan Trump, mengecam mantan presiden tersebut atas perannya dalam pemberontakan pada 6 Januari 2021 di Gedung Capitol AS.

Pence bertaruh bahwa pemilih utama Partai Republik akan memberikan penghargaan kepadanya karena mengikuti Konstitusi AS, dibandingkan instruksi Trump untuk membatalkan hasil pemilu tahun 2020 ketika ia menjabat sebagai wakil presiden dan memegang peran seremonial sebagai presiden Senat.

Namun basis pendukung Trump tidak pernah memaafkan Pence karena mengawasi sertifikasi pemilu Joe Biden dari Partai Demokrat.

Trump telah memperoleh salah satu perolehan suara terbanyak dalam sejarah pemilu AS, berdasarkan jajak pendapat. Mereka menunjukkan sebagian besar pemilih Partai Republik menerima, atau tidak peduli, kebohongan Trump bahwa pemilu tahun 2020 dicuri darinya dan upayanya untuk membatalkan hasil pemilu.

Baca Juga: Biden: AS Akan Bangun Tatanan Dunia Baru
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Bagaimana Industri Farmasi...
Bagaimana Industri Farmasi Besar AS Raup Untung dari Pandemi dengan Perlakukan Warga Seperti Kelinci Percobaan?
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Trump Klaim Tidak Ada...
Trump Klaim Tidak Ada Batasan pada Kekuasaannya
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Ini Alasan Trump Ingin...
Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran
Rekomendasi
Bangun Sinergitas, Pemkot...
Bangun Sinergitas, Pemkot Bogor Bersama Pelaku Usaha Ikuti Kompetisi Padel
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Indro Warkop Gaungkan...
Indro Warkop Gaungkan Pesan Hidup Sehat Lewat Kebiasaan Harian
Berita Terkini
Untuk Pertama Kalinya,...
Untuk Pertama Kalinya, Turki Ekspor Kapal Perang
Ini 3 Kemewahan Jet...
Ini 3 Kemewahan Jet Mewah Qatar untuk Armada Air Force One Donald Trump
Protes Serangan Mematikan...
Protes Serangan Mematikan Israel di Lebanon, Iran Tutup Selat Hormuz
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
Infografis
3 Koalisi Partai Pendukung...
3 Koalisi Partai Pendukung Capres 2024, Koalisi Prabowo Terbesar
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved