Rakyat Amerika Serikat Khawatirkan Kekuatan Berbahaya Raksasa Online
Senin, 03 Agustus 2020 - 10:35 WIB
loading...
A
A
A
Di lain pihak, Partai Republik memprotes bagaimana perusahaan tersebut mengelola informasi dan memarginalkan pandangan konservatif. Selain itu, perusahaan teknologi itu juga dinilai tidak memiliki nilai patriotisme dan nasionalisme yang tinggi. Republik juga menilai mereka juga terlalu ramah dengan China. (Baca juga: Asyik, Token Listrik Gratis PLN Bulan Agustus Sudah Bisa Diklaim)
Presiden AS Donald Trump, yang menjadi musuh utama perusahaan teknologi raksasa, telah sejak lama mengeluhkan kekuatan besar tersebut. Dia pun meminta Kongres agar bisa mewujudkan keadilan bagi perusahaan teknologi raksasa tersebut yang seharusnya sudah diwujudkan beberapa tahun lalu. “Jika tidak mampu, saya akan melakukannya dengan Perintah Eksekutif,” ancamnya berulang kali. Dia mengungkapkan, jika tidak ada pertanyaan atau mempertanyakan perusahaan besar, maka hal itu sangatlah buruk.
Dalam pandangan analis teknologi Dan Ives dari Wedbush Securities, Kongres tidak akan mampu bersatu dalam membuat legislasi baru untuk menekan perusahaan besar tersebut. “Kita berpikir bahwa legislasi hanya akan menciptakan pembatasan terhadap perusahaan tersebut dalam melakukan bisnis atau hanya menciptakan pajak besar atau aturan baru terkait konsentrasi pasar,” katanya dilansir BBC. Tanpa adanya perbaikan legislasi, menurut Ives, tidak akan terjadi perubahan yang berarti.
Anggota Kongres David Cicilline dari Demokrat menyebutkan perusahaan online telah memiliki kekuatan yang destruktif dan melakukan strategi yang jahat dalam ekspansi. Mereka telah melakukan monopoli sehingga perlu tindakan. “Perlu adanya perubahan dan perlunya aturan,” katanya. (Baca juga: Koalisi Selamatkan Indonesia Imbas Tumpulnya Barisan Oposisi)
Bos Amazon Jeff Bezos mengungkapkan, dunia membutuhkan perusahaan besar. Sedangkan Apple, Facebook, dan Google beragumen bahwa perusahaan mereka mengutamakan inovasi. Itu hanya alasan yang dibuat mereka yang memiliki kapital dan tidak ingin dikontrol oleh negara. Sebagai negara kapitalis, siapa yang memiliki modal, maka akan menguasai kehidupan rakyat AS. Baik Mark Zuckerberg dari Facebook, Bezos dari Amazon, Sundar Pichai dari Google dan Tim Cook dari Apple bersikeras bahwa mereka tidak melakukan hal ilegal dan tetap menekankan akar Amerika sebagai nilai dalam menjalankan perusahaan.
Presiden AS Donald Trump, yang menjadi musuh utama perusahaan teknologi raksasa, telah sejak lama mengeluhkan kekuatan besar tersebut. Dia pun meminta Kongres agar bisa mewujudkan keadilan bagi perusahaan teknologi raksasa tersebut yang seharusnya sudah diwujudkan beberapa tahun lalu. “Jika tidak mampu, saya akan melakukannya dengan Perintah Eksekutif,” ancamnya berulang kali. Dia mengungkapkan, jika tidak ada pertanyaan atau mempertanyakan perusahaan besar, maka hal itu sangatlah buruk.
Dalam pandangan analis teknologi Dan Ives dari Wedbush Securities, Kongres tidak akan mampu bersatu dalam membuat legislasi baru untuk menekan perusahaan besar tersebut. “Kita berpikir bahwa legislasi hanya akan menciptakan pembatasan terhadap perusahaan tersebut dalam melakukan bisnis atau hanya menciptakan pajak besar atau aturan baru terkait konsentrasi pasar,” katanya dilansir BBC. Tanpa adanya perbaikan legislasi, menurut Ives, tidak akan terjadi perubahan yang berarti.
Anggota Kongres David Cicilline dari Demokrat menyebutkan perusahaan online telah memiliki kekuatan yang destruktif dan melakukan strategi yang jahat dalam ekspansi. Mereka telah melakukan monopoli sehingga perlu tindakan. “Perlu adanya perubahan dan perlunya aturan,” katanya. (Baca juga: Koalisi Selamatkan Indonesia Imbas Tumpulnya Barisan Oposisi)
Bos Amazon Jeff Bezos mengungkapkan, dunia membutuhkan perusahaan besar. Sedangkan Apple, Facebook, dan Google beragumen bahwa perusahaan mereka mengutamakan inovasi. Itu hanya alasan yang dibuat mereka yang memiliki kapital dan tidak ingin dikontrol oleh negara. Sebagai negara kapitalis, siapa yang memiliki modal, maka akan menguasai kehidupan rakyat AS. Baik Mark Zuckerberg dari Facebook, Bezos dari Amazon, Sundar Pichai dari Google dan Tim Cook dari Apple bersikeras bahwa mereka tidak melakukan hal ilegal dan tetap menekankan akar Amerika sebagai nilai dalam menjalankan perusahaan.
Lihat Juga :