alexametrics

Tembak Jatuh Pesawat Ukraina, Iran Bersedia Bayar Kompensasi

loading...
Tembak Jatuh Pesawat Ukraina, Iran Bersedia Bayar Kompensasi
Gambar rekaman video rudal Iran saat menjatuhkan pesawat penumpang Ukraina pada 8 Januari 2020. Foto/New York Times
A+ A-
TEHERAN - Pemerintah Iran bersedia membayar kompensasi atas tindakan militernya yang menembak jatuh pesawat sipil Ukraina pada Januari lalu. Pesawat Ukraine International Airlines 752 ditembak jatuh dengan rudal yang menyebabkan 176 orang di dalamnya tewas.

Kesediaan Teheran membayar kompensasi disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi pada hari Kamis.

"Iran setuju untuk membayar kompensasi atas pesawat itu, tetapi implementasi masalah ini akan memakan waktu dan memiliki berbagai aspek dari sudut pandang teknis dan hukum," kata Mousavi yang dilansir kantor berita IRNA, Jumat (31/7/2020).

Dia menegaskan bahwa Teheran telah menerima pertanggungjawaban atas tragedi pesawat sipil tersebut, di mana banyak penumpang di pesawat yang jatuh itu adalah warga Iran. (Baca: Iran Merudal Pesawat Ukraina: Bantah Dulu, Akui Kemudian....)



Sebelumnya, muncul laporan-laporan yang menyatakan bahwa Ukraina dan delegasi Iran di Kiev sedang bernegosiasi mengenai kompensasi atas kehancuran pesawat Boeing 737-800 tersebut.

Pesawat itu ditembak jatuh pada 8 Januari tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran.



Iran kemudian mengaku bertanggung jawab atas tragedi itu, dengan mengatakan bahwa pesawat itu ditembak jatuh secara tidak sengaja setelah personel militer mengiranya sebagai target yang bermusuhan di tengah kekhawatiran akan serangan Amerika Serikat (AS).

Tragedi itu terjadi tak lama setelah Iran melakukan serangan udara terhadap pangkalan-pangkalan militer Amerika di Irak, menyusul pembunuhan AS terhadap jenderal top Iran; Qasem Soleimani.
(min)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak