Tragis, Kurir di Italia Meninggal saat Mengirimkan Parsel di Tengah Cuaca Panas
Rabu, 16 Agustus 2023 - 16:40 WIB
loading...
Tragis, kurir paket di Italia meninggal saat mengirimkan parsel di tengah cuaca panas. Foto/Ilustrasi
A
A
A
ROMA - Seorang kurir paket di Italia pingsan dan meninggal saat bekerja di kota La Spezia pada Senin lalu. Organisasi serikat buruh Italia, UIL, mengatakan tidak dapat mengesampingkan bahwa pekerja itu meninggal akibat cuaca panas karena kota itu melaporkan suhu mendekati 30 derajat Celcius.
Menurut laporan, kurir tersebut pingsan setelah mengirimkan bingkisan di rumah yang sama tempat dia melakukan pengiriman terakhirnya sekitar pukul 13:30. Itu adalah waktu terpanas pada hari itu.
"Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pengiriman ke rumah telah meledak, waktunya tidak menentu dan tidak memperhatikan kesejahteraan pekerja," demikian catatan yang dibagikan oleh Sekretaris Transportasi UIL Giovanni Ciaccio kepada kantor berita Italia ANSA.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Mengamuk Selama 4 Hari di Portugal, 1.400 Orang Dievakuasi
“Pengusaha selalu mencari produktivitas lebih dari pekerja, tanpa mempertimbangkan faktor manusia, usia pekerja, kondisi cuaca dan panas yang menyengat. Kita perlu turun tangan sebelum terlambat, mengurangi jam kerja dan beban yang dipikul pekerja, karena itu tidak mungkin untuk mempertahankan ritme yang terpaksa mereka kerjakan selama bertahun-tahun," ia menambahkan seperti dikutip dari Euronews, Rabu (16/8/2023).
Menurut laporan, kurir tersebut pingsan setelah mengirimkan bingkisan di rumah yang sama tempat dia melakukan pengiriman terakhirnya sekitar pukul 13:30. Itu adalah waktu terpanas pada hari itu.
"Dalam beberapa tahun terakhir, sektor pengiriman ke rumah telah meledak, waktunya tidak menentu dan tidak memperhatikan kesejahteraan pekerja," demikian catatan yang dibagikan oleh Sekretaris Transportasi UIL Giovanni Ciaccio kepada kantor berita Italia ANSA.
Baca Juga: Kebakaran Hutan Mengamuk Selama 4 Hari di Portugal, 1.400 Orang Dievakuasi
“Pengusaha selalu mencari produktivitas lebih dari pekerja, tanpa mempertimbangkan faktor manusia, usia pekerja, kondisi cuaca dan panas yang menyengat. Kita perlu turun tangan sebelum terlambat, mengurangi jam kerja dan beban yang dipikul pekerja, karena itu tidak mungkin untuk mempertahankan ritme yang terpaksa mereka kerjakan selama bertahun-tahun," ia menambahkan seperti dikutip dari Euronews, Rabu (16/8/2023).
Lihat Juga :