3 Alasan Umat Islam Menentang Pembakaran Alquran di Swedia dan Denmark
Selasa, 01 Agustus 2023 - 12:45 WIB
loading...
A
A
A
Sementara salah satu tokoh utama di balik serentetan pembakaran Al Quran baru-baru ini adalah seorang Kristen Irak yang tinggal di Swedia. Banyak yang percaya ada upaya dari sayap kanan untuk menciptakan ketegangan komunal di Eropa antara non-Muslim dan Muslim.
Baca Juga: 14 Fakta Hidup tentang Salwan Momika, Imigran Irak yang Menginjak Alquran di depan Kedubes Irak
![3 Alasan Umat Islam Menentang Pembakaran Alquran di Swedia dan Denmark]()
Foto/Reuters
Negara-negara Muslim, termasuk Iran dan Pakistan, mengatakan penodaan Al-Qur'an sama dengan hasutan kekerasan dan menyerukan pertanggungjawaban. Ribuan orang turun ke jalan di beberapa negara untuk mengutuk pembakaran tersebut.
“Tampak bagi saya bahwa dengan memprotes pembakaran Alquran, umat Islam sebenarnya mendefinisikan kembali apa itu cinta dan juga akal,” kata Irfan Ahmad, seorang profesor antropologi di Universitas Ibnu Haldun di Istanbul, kepada Al Jazeera.
“Karena seperti yang kita ketahui, pembakaran Al-Quran – tidak seperti penggambarannya oleh pers Barat – ini bukanlah pertanyaan kebebasan berekspresi, tetapi merupakan tindakan kebencian dan tidak masuk akal," tuturnya.
Pada bulan Juli, mosi diajukan ke Badan Hak Asasi Manusia PBB sebagai tanggapan atas pembakaran Alquran di Swedia. Mosi tersebut meminta negara-negara Barat untuk meninjau undang-undang mereka dan menutup celah yang dapat “menghalangi pencegahan dan penuntutan tindakan dan advokasi kebencian agama”.
Baca Juga: 14 Fakta Hidup tentang Salwan Momika, Imigran Irak yang Menginjak Alquran di depan Kedubes Irak
3. Bukan Kebebasan Berekspresi, Tapi Tindakan Kebencian

Foto/Reuters
Negara-negara Muslim, termasuk Iran dan Pakistan, mengatakan penodaan Al-Qur'an sama dengan hasutan kekerasan dan menyerukan pertanggungjawaban. Ribuan orang turun ke jalan di beberapa negara untuk mengutuk pembakaran tersebut.
“Tampak bagi saya bahwa dengan memprotes pembakaran Alquran, umat Islam sebenarnya mendefinisikan kembali apa itu cinta dan juga akal,” kata Irfan Ahmad, seorang profesor antropologi di Universitas Ibnu Haldun di Istanbul, kepada Al Jazeera.
“Karena seperti yang kita ketahui, pembakaran Al-Quran – tidak seperti penggambarannya oleh pers Barat – ini bukanlah pertanyaan kebebasan berekspresi, tetapi merupakan tindakan kebencian dan tidak masuk akal," tuturnya.
Pada bulan Juli, mosi diajukan ke Badan Hak Asasi Manusia PBB sebagai tanggapan atas pembakaran Alquran di Swedia. Mosi tersebut meminta negara-negara Barat untuk meninjau undang-undang mereka dan menutup celah yang dapat “menghalangi pencegahan dan penuntutan tindakan dan advokasi kebencian agama”.
(ahm)
Lihat Juga :