Salwan Momika Bakar Alquran untuk Ketiga Kalinya
Selasa, 01 Agustus 2023 - 06:18 WIB
loading...
Salwan Momika dan Salwan Najem membakar Alquran di luar gedung parlemen Swedia. Foto/TT
A
A
A
STOCKHOLM - Salwan Momika, seorang imigran asal Irak kembali melakukan pembakaran Alquran di Stockholm pada Senin (31/7/2023), di luar gedung parlemen Swedia . Dia juga menendang dan menginjak-injak kitab suci umat Islam sebelum membakar beberapa halaman yang robek di Swedia.
“Saya akan melanjutkan sampai mereka melarang kitab suci ini,” kata Salwan Momika, seorang pengungsi yang mencari suaka politik di Swedia pada 2018, kepada stasiun televisi Swedia SVT.
Insiden tersebut merupakan pembakaran Alquran ketiga yang dilakukan oleh Momika. Aksi pembakaran Alquran terbaru, Momika ditemani dan rekannya Salwan Najem. Keduanya saat ini sedang diselidiki atas ujaran kebencian oleh otoritas Swedia.
Menurut kantor berita TT, keduanya disaksikan oleh 15 demonstran tandingan yang meneriaki kedua pengunjuk rasa, saat mereka menginjak-injak buku dan foto para pemimpin Muslim. "Pecundang sialan," teriak seorang pejalan kaki saat protes berlangsung.
Najem, 48, menemani aktivis Salwan Momika selama protes pembakaran Alquran yang dilakukan Momika di luar masjid Stockholm dan di luar kedutaan Irak awal musim panas ini, merekam protesnya dan mempostingnya di media sosial.
Najem mengatakan kepada surat kabar Expressen bahwa dia yakin dia berhak untuk membakar kitab suci itu. ""Apa yang ilegal tentang itu? Itu hanya selembar kertas. Tahukah Anda berapa banyak ancaman yang kami terima? Hanya karena selembar kertas," kata Najem.
Protes, di Lapangan Mynttorget yang merupakan lokasi tradisional untuk protes politik di Swedia, terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan pertemuan para pemimpin dari 57 negara Muslim secara digital untuk membahas bagaimana bereaksi terhadap protes pembakaran Alquran yang sedang berlangsung di Swedia dan Denmark.
Seperti pada protes sebelumnya, Momika dan Najem adalah satu-satunya peserta, dengan sekelompok kecil pengunjuk rasa berkumpul di luar penjagaan polisi, menurut seorang reporter AFP di tempat kejadian.
Baca Juga: 14 Fakta Hidup tentang Salwan Momika, Imigran Irak yang Menginjak Alquran di depan Kedubes Irak
Mats Eriksson, juru bicara kepolisian Stockholm mengatakan kepada AFP bahwa acara tersebut "diselenggarakan tanpa gangguan ketertiban umum yang serius".
Selama protes, Momika juga menginjak foto ulama Muslim Syiah dan pemimpin politik Moqtada Sadr -- yang para pengikutnya menyerbu kedutaan Swedia di Baghdad sebagai tanggapan atas penodaan sebelumnya.
Mereka sebelumnya membakar Alquran pada hari raya Iduladha di luar Masjid Agung Stockholm. Momika juga menginjak-injak Alquran dan menyeka sepatunya dengan bendera Irak di luar kedutaan Irak di Stockholm pada awal bulan ini.
Tujuh tahun setelah tiba di negara itu, izin tinggal tiga tahun Momika dilaporkan terancam dicabut. Pihak berwenang Swedia yang mulai menyelidiki media sosialnya setelah pembakaran Alquran pertama menemukan bahwa dia telah memainkan peran utama dalam kelompok milisi Kristen yang dikatakan bersekutu dengan Iran – meskipun milisi tersebut berperang melawan teror ISIS/ISIL.
Banyak pihak menyangkan insiden pembakaran Alquran. "Kami melihatnya berdiri di sana lagi dan meneriakkan hal-hal tentang Alquran dan tentang Islam, bermain dengan Alquran, dan sejujurnya itu semua untuk perhatian dan itu cukup jelas," Tamazight El Yaakoubi, seorang mahasiswa hukum Muslim berusia 18 tahun dari Belanda dalam kunjungan ke Swedia, kepada AFP.
"Sebelum kami datang ke sini kami cukup takut, kami seperti, Quran dibakar, kenapa?" tanya El Yaakoubi. "Tapi ketika kami datang ke sini hampir semua orang penuh cinta dan sangat hormat."
Baca Juga: Batal Membakar, Salwan Momika Menginjak-injak Al-Qur'an di Swedia
Dampak internasional dari protes tersebut berlangsung cepat – Irak memutuskan hubungan diplomatik dengan Swedia, beberapa negara mayoritas Muslim telah memanggil duta besar Swedia mereka untuk mengadu, dan pengunjuk rasa kontra telah menyerbu kedutaan Swedia di Baghdad dua kali. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei memperingatkan Stockholm bahwa "mereka yang telah menghina Al-Qur'an layak mendapat hukuman berat."
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan kepada kantor berita Swedia TT pekan lalu bahwa Dinas Keamanan memiliki informasi bahwa Swedia sekarang sedang menjadi target aksi terorisme. “Kami berada dalam situasi kebijakan keamanan paling serius sejak Perang Dunia Kedua,” ujar Kristersson.
Dia mengaku sangat prihatin bahwa permohonan izin untuk protes penodaan Alquran lebih lanjut membanjiri markas polisi. Pihak berwenang hanya diperbolehkan untuk menolak permintaan tersebut jika ada “gangguan publik yang serius” atau “bahaya yang cukup besar” bagi peserta pada pertemuan serupa sebelumnya di bawah hukum Swedia.
Pembakaran Taurat yang direncanakan di depan kedutaan Israel di Stockholm tidak dilanjutkan pada hari Jumat setelah menteri luar negeri Israel memperingatkan mitranya dari Swedia bahwa hal itu akan merusak hubungan antara kedua negara.
Sementara itu, Menteri luar negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengungkapkan pada hari Minggu bahwa Kopenhagen sedang bekerja untuk melarang penodaan Alquran – atau mencemarkan kitab suci agama apa pun – di depan kedutaan asing, dengan mengatakan bahwa pemerintah bertekad untuk menemukan solusi yang tidak juga membatasi kebebasan berekspresi.
“Saya akan melanjutkan sampai mereka melarang kitab suci ini,” kata Salwan Momika, seorang pengungsi yang mencari suaka politik di Swedia pada 2018, kepada stasiun televisi Swedia SVT.
Insiden tersebut merupakan pembakaran Alquran ketiga yang dilakukan oleh Momika. Aksi pembakaran Alquran terbaru, Momika ditemani dan rekannya Salwan Najem. Keduanya saat ini sedang diselidiki atas ujaran kebencian oleh otoritas Swedia.
Menurut kantor berita TT, keduanya disaksikan oleh 15 demonstran tandingan yang meneriaki kedua pengunjuk rasa, saat mereka menginjak-injak buku dan foto para pemimpin Muslim. "Pecundang sialan," teriak seorang pejalan kaki saat protes berlangsung.
Najem, 48, menemani aktivis Salwan Momika selama protes pembakaran Alquran yang dilakukan Momika di luar masjid Stockholm dan di luar kedutaan Irak awal musim panas ini, merekam protesnya dan mempostingnya di media sosial.
Najem mengatakan kepada surat kabar Expressen bahwa dia yakin dia berhak untuk membakar kitab suci itu. ""Apa yang ilegal tentang itu? Itu hanya selembar kertas. Tahukah Anda berapa banyak ancaman yang kami terima? Hanya karena selembar kertas," kata Najem.
Protes, di Lapangan Mynttorget yang merupakan lokasi tradisional untuk protes politik di Swedia, terjadi pada waktu yang hampir bersamaan dengan pertemuan para pemimpin dari 57 negara Muslim secara digital untuk membahas bagaimana bereaksi terhadap protes pembakaran Alquran yang sedang berlangsung di Swedia dan Denmark.
Seperti pada protes sebelumnya, Momika dan Najem adalah satu-satunya peserta, dengan sekelompok kecil pengunjuk rasa berkumpul di luar penjagaan polisi, menurut seorang reporter AFP di tempat kejadian.
Baca Juga: 14 Fakta Hidup tentang Salwan Momika, Imigran Irak yang Menginjak Alquran di depan Kedubes Irak
Mats Eriksson, juru bicara kepolisian Stockholm mengatakan kepada AFP bahwa acara tersebut "diselenggarakan tanpa gangguan ketertiban umum yang serius".
Selama protes, Momika juga menginjak foto ulama Muslim Syiah dan pemimpin politik Moqtada Sadr -- yang para pengikutnya menyerbu kedutaan Swedia di Baghdad sebagai tanggapan atas penodaan sebelumnya.
Mereka sebelumnya membakar Alquran pada hari raya Iduladha di luar Masjid Agung Stockholm. Momika juga menginjak-injak Alquran dan menyeka sepatunya dengan bendera Irak di luar kedutaan Irak di Stockholm pada awal bulan ini.
Tujuh tahun setelah tiba di negara itu, izin tinggal tiga tahun Momika dilaporkan terancam dicabut. Pihak berwenang Swedia yang mulai menyelidiki media sosialnya setelah pembakaran Alquran pertama menemukan bahwa dia telah memainkan peran utama dalam kelompok milisi Kristen yang dikatakan bersekutu dengan Iran – meskipun milisi tersebut berperang melawan teror ISIS/ISIL.
Banyak pihak menyangkan insiden pembakaran Alquran. "Kami melihatnya berdiri di sana lagi dan meneriakkan hal-hal tentang Alquran dan tentang Islam, bermain dengan Alquran, dan sejujurnya itu semua untuk perhatian dan itu cukup jelas," Tamazight El Yaakoubi, seorang mahasiswa hukum Muslim berusia 18 tahun dari Belanda dalam kunjungan ke Swedia, kepada AFP.
"Sebelum kami datang ke sini kami cukup takut, kami seperti, Quran dibakar, kenapa?" tanya El Yaakoubi. "Tapi ketika kami datang ke sini hampir semua orang penuh cinta dan sangat hormat."
Baca Juga: Batal Membakar, Salwan Momika Menginjak-injak Al-Qur'an di Swedia
Dampak internasional dari protes tersebut berlangsung cepat – Irak memutuskan hubungan diplomatik dengan Swedia, beberapa negara mayoritas Muslim telah memanggil duta besar Swedia mereka untuk mengadu, dan pengunjuk rasa kontra telah menyerbu kedutaan Swedia di Baghdad dua kali. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei memperingatkan Stockholm bahwa "mereka yang telah menghina Al-Qur'an layak mendapat hukuman berat."
Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan kepada kantor berita Swedia TT pekan lalu bahwa Dinas Keamanan memiliki informasi bahwa Swedia sekarang sedang menjadi target aksi terorisme. “Kami berada dalam situasi kebijakan keamanan paling serius sejak Perang Dunia Kedua,” ujar Kristersson.
Dia mengaku sangat prihatin bahwa permohonan izin untuk protes penodaan Alquran lebih lanjut membanjiri markas polisi. Pihak berwenang hanya diperbolehkan untuk menolak permintaan tersebut jika ada “gangguan publik yang serius” atau “bahaya yang cukup besar” bagi peserta pada pertemuan serupa sebelumnya di bawah hukum Swedia.
Pembakaran Taurat yang direncanakan di depan kedutaan Israel di Stockholm tidak dilanjutkan pada hari Jumat setelah menteri luar negeri Israel memperingatkan mitranya dari Swedia bahwa hal itu akan merusak hubungan antara kedua negara.
Sementara itu, Menteri luar negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengungkapkan pada hari Minggu bahwa Kopenhagen sedang bekerja untuk melarang penodaan Alquran – atau mencemarkan kitab suci agama apa pun – di depan kedutaan asing, dengan mengatakan bahwa pemerintah bertekad untuk menemukan solusi yang tidak juga membatasi kebebasan berekspresi.
(ahm)
Lihat Juga :