Salwan Momika Membakar lalu Menginjak-injak Al-Qur'an di Swedia, Apa Sih Maunya?
Sabtu, 22 Juli 2023 - 12:10 WIB
loading...
A
A
A
Yang lain secara terbuka mempertanyakan motif dan latar belakang Salwan Momika.
Investigasi France24 melihat lebih dekat ke postingan media sosial yang disodorkan oleh orang Irak yang mengeklaim mengidentifikasi Momika, yang berasal dari negara bagian Ninawa di Irak utara dan dari denominasi Kristen.
Momika tiba di Swedia pada 2018, dan otoritas Swedia mengonfirmasi bahwa dia diberikan izin tinggal selama tiga tahun pada 2021.
InvestigatorFrance24 memverifikasi sejumlah video yang memperlihatkan Momika dalam pakaian militer, bergaul dengan anggota milisi lain.
Mereka menyimpulkan dia adalah orang yang sama yang mendirikan partai politik di Irak—Syria Democratic Union Party (Partai Persatuan Demokrat Suriah)—pada 2014, serta milisi terkait.
Milisi Momika sendiri, yang, seperti banyak lainnya pada saat itu, pada awalnya dibentuk untuk melawan kelompok ekstremis ISIS, tampaknya kemudian dikaitkan dengan berbagai kelompok lain di Irak.
Itu termasuk milisi dengan afiliasi Muslim Syiah yang mendukung, dan didukung oleh, negara tetangga; Iran, serta milisi Kurdi yang mendukung agenda yang lebih ateis dan komunis.
Wartawan Irak menulis bahwa Momika meninggalkan negara itu karena perebutan kekuasaan dengan pemimpin milisi Kristen lainnya.
Momika juga diduga mendukung ulama al-Sadar pada satu tahap, dan kemudian juga setuju dengan protes anti-pemerintah di Irak.
Seorang anggota dewan kota mengatakan kepada publikasi The New Arab bahwa Momika telah melakukan penipuan di kampung halamannya.
Momika rupanya juga bermasalah dengan pihak berwenang Swedia setelah mengancam teman sekamarnya dengan pisau, menurut surat kabar Swedia; The Expressen dalam sebuah wawancara dengan Momika pada bulan Juni.
Semua ini membuat investigator France24 menyiratkan bahwa motivasi Momika untuk protesnya baru-baru ini layak dipertanyakan. Laporan sebelumnya lainnya dalam bahasa Arab telah menyuarakan kecurigaan serupa.
"[Momika] aktif di banyak situs media sosial, terutama TikTok dan Facebook," tulis France24 dalam laporannya.
"Namun, semua akunnya dibuat setelah dia memiliki status pengungsi di Swedia...Momika telah mem-posting lusinan video online, seringkali dengan nama negara mayoritas Muslim dalam bahasa Arab sebagai tanda pagar. Hal ini membuatnya tampak seperti dia mencoba untuk mendapatkan publisitas sebanyak mungkin untuk pembakaran Al-Quran-nya."
Izin tinggal Momika di Swedia berakhir pada April 2024, dan baru-baru ini dia ditolak dalam pengajuan izin tinggal permanen, sebuah langkah penting untuk mendapatkan kewarganegaraan.
Investigasi France24 melihat lebih dekat ke postingan media sosial yang disodorkan oleh orang Irak yang mengeklaim mengidentifikasi Momika, yang berasal dari negara bagian Ninawa di Irak utara dan dari denominasi Kristen.
Momika tiba di Swedia pada 2018, dan otoritas Swedia mengonfirmasi bahwa dia diberikan izin tinggal selama tiga tahun pada 2021.
InvestigatorFrance24 memverifikasi sejumlah video yang memperlihatkan Momika dalam pakaian militer, bergaul dengan anggota milisi lain.
Mereka menyimpulkan dia adalah orang yang sama yang mendirikan partai politik di Irak—Syria Democratic Union Party (Partai Persatuan Demokrat Suriah)—pada 2014, serta milisi terkait.
Milisi Momika sendiri, yang, seperti banyak lainnya pada saat itu, pada awalnya dibentuk untuk melawan kelompok ekstremis ISIS, tampaknya kemudian dikaitkan dengan berbagai kelompok lain di Irak.
Itu termasuk milisi dengan afiliasi Muslim Syiah yang mendukung, dan didukung oleh, negara tetangga; Iran, serta milisi Kurdi yang mendukung agenda yang lebih ateis dan komunis.
Wartawan Irak menulis bahwa Momika meninggalkan negara itu karena perebutan kekuasaan dengan pemimpin milisi Kristen lainnya.
Momika juga diduga mendukung ulama al-Sadar pada satu tahap, dan kemudian juga setuju dengan protes anti-pemerintah di Irak.
Seorang anggota dewan kota mengatakan kepada publikasi The New Arab bahwa Momika telah melakukan penipuan di kampung halamannya.
Momika rupanya juga bermasalah dengan pihak berwenang Swedia setelah mengancam teman sekamarnya dengan pisau, menurut surat kabar Swedia; The Expressen dalam sebuah wawancara dengan Momika pada bulan Juni.
Semua ini membuat investigator France24 menyiratkan bahwa motivasi Momika untuk protesnya baru-baru ini layak dipertanyakan. Laporan sebelumnya lainnya dalam bahasa Arab telah menyuarakan kecurigaan serupa.
"[Momika] aktif di banyak situs media sosial, terutama TikTok dan Facebook," tulis France24 dalam laporannya.
"Namun, semua akunnya dibuat setelah dia memiliki status pengungsi di Swedia...Momika telah mem-posting lusinan video online, seringkali dengan nama negara mayoritas Muslim dalam bahasa Arab sebagai tanda pagar. Hal ini membuatnya tampak seperti dia mencoba untuk mendapatkan publisitas sebanyak mungkin untuk pembakaran Al-Quran-nya."
Motivasi yang Meragukan
Izin tinggal Momika di Swedia berakhir pada April 2024, dan baru-baru ini dia ditolak dalam pengajuan izin tinggal permanen, sebuah langkah penting untuk mendapatkan kewarganegaraan.
Lihat Juga :