Mahasiswa Indonesia Ini Turut Andil Dalam Pengembangan Vaksin Covid-19 Oxford
Kamis, 23 Juli 2020 - 16:52 WIB
loading...
Indra adalah mahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine asal Indonesia di Universitas Oxford. Indra sebelumnya menempuh pendidikan di ITB dan sempat berkarier di Bio Farma. Foto/Instagram Universitas Oxford
A
A
A
LONDON - Vaksin buatan Universitas Oxford, yang saat ini tengah menjalani uji klinis di beberapa negara, adalah salah satu vaksin Covid-19 paling potensial saat ini. Ternyata, ada seorang mahasiswa Indonesia yang turut andil dalam pengembangan vaksin tersebut.
Mahasiswa tersebut adalah Indra Rudiansyah. Mengutip dari laman Instagram Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Inggris pada Kamis (23/7/2020) Indra adalah mahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine asal Indonesia di Universitas Oxford. Indra sebelumnya menempuh pendidikan di ITB dan sempat berkarier di Bio Farma.
( Baca juga: Ini Fakta Menarik Vaksin buatan Oxford yang Menunjukan Hasil Menjanjikan )
"Indra mulai terlibat dalam Gugus Pengembangan Vaksin Covid-19 di Oxford setelah virus tersebut ditetapkan sebagai pandemi. Indra berperan dalam melihat respon antibodi dari orang yang diberikan vaksin. Hal ini penting untuk melihat efek samping maupun kemanjuran vaksin," tulis PPI Inggris.
"Sejauh ini, vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford adalah yang paling menjanjikan dan maju dibanding alternatif lainnya. Kami yakin dan percaya, bahwa Indra bukanlah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang untuk mengakhiri pandemi ini. Untuk anda semua, dimanapun anda berada, tetap semangat!" sambungnya.
Sementara itu, sebelumnya diwartakan vaksin potensial yang dikembangkan oleh Oxford dan AstraZeneca menunjukkan hasil yang menjanjikan, setelah uji klinis melibatkan 1,077 orang. Dari uji klinis ini, 90% dari responden menghasilkan antibodi terhadap virus Covid-19 setelah menerima satu dosis vaksin yang diberi nama ChAdOx1 nCoV-19 ini.
( Baca juga: Bakal Vaksin Covid-19 Oxford dan AstraZeneca Tunjukkan Hasil Positif )
Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Rob Fenn mengatakan, vaksin Covid-19 dari Oxford telah menunjukkan efektivitas 100% dalam uji klinis tahap satu dan dua, dan sekarang menuju tahap tiga. Itu berarti, jelasnya, akan ada lebih banyak uji coba, dengan lebih banyak pasien, kali ini di Amerika Serikat, Brazil, dan Afrika Selatan dan dengan anak-anak.
Mahasiswa tersebut adalah Indra Rudiansyah. Mengutip dari laman Instagram Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Inggris pada Kamis (23/7/2020) Indra adalah mahasiswa S3 jurusan Clinical Medicine asal Indonesia di Universitas Oxford. Indra sebelumnya menempuh pendidikan di ITB dan sempat berkarier di Bio Farma.
( Baca juga: Ini Fakta Menarik Vaksin buatan Oxford yang Menunjukan Hasil Menjanjikan )
"Indra mulai terlibat dalam Gugus Pengembangan Vaksin Covid-19 di Oxford setelah virus tersebut ditetapkan sebagai pandemi. Indra berperan dalam melihat respon antibodi dari orang yang diberikan vaksin. Hal ini penting untuk melihat efek samping maupun kemanjuran vaksin," tulis PPI Inggris.
"Sejauh ini, vaksin Covid-19 dari Universitas Oxford adalah yang paling menjanjikan dan maju dibanding alternatif lainnya. Kami yakin dan percaya, bahwa Indra bukanlah satu-satunya mahasiswa Indonesia yang sedang berjuang untuk mengakhiri pandemi ini. Untuk anda semua, dimanapun anda berada, tetap semangat!" sambungnya.
Sementara itu, sebelumnya diwartakan vaksin potensial yang dikembangkan oleh Oxford dan AstraZeneca menunjukkan hasil yang menjanjikan, setelah uji klinis melibatkan 1,077 orang. Dari uji klinis ini, 90% dari responden menghasilkan antibodi terhadap virus Covid-19 setelah menerima satu dosis vaksin yang diberi nama ChAdOx1 nCoV-19 ini.
( Baca juga: Bakal Vaksin Covid-19 Oxford dan AstraZeneca Tunjukkan Hasil Positif )
Wakil Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Rob Fenn mengatakan, vaksin Covid-19 dari Oxford telah menunjukkan efektivitas 100% dalam uji klinis tahap satu dan dua, dan sekarang menuju tahap tiga. Itu berarti, jelasnya, akan ada lebih banyak uji coba, dengan lebih banyak pasien, kali ini di Amerika Serikat, Brazil, dan Afrika Selatan dan dengan anak-anak.
(esn)
Lihat Juga :