10 Sniper Paling Mematikan di Dunia, Ada yang Bunuh 505 Orang dalam Waktu Kurang dari 100 Hari
Rabu, 24 Mei 2023 - 04:19 WIB
loading...
A
A
A
Lahir di Little Rock, Arkansas, pada tanggal 20 Mei 1942, Hathcock berkenalan dengan menembak sejak usia dini, karena keluarganya sangat bergantung pada berburu makanan.
Pada usia 17 tahun, Hathcock mendaftar di Marinir, memenuhi keinginan masa kecilnya untuk bertugas di militer. Setelah dikerahkan ke Vietnam pada tahun 1960-an, Hathcock awalnya bertugas sebagai polisi militer sebelum dipindahkan ke peleton sniper Kapten Edward James Land.
Aksi Hathcock mendorong Angkatan Darat Vietnam Utara untuk menempatkan hadiah USD30.000 di kepalanya karena banyaknya orang yang dibunuh oleh sniper Amerika ini.
Hathcock bahkan mendapat julukan "Long Tr'ang" atau "Sniper Bulu Putih) karena bulu putih yang selalu dikenakannya di pinggiran topinya.
Salam Perang Vietnam berlangsung, Hathcock dievakuasi dari negara Asia Tenggara ini karena terluka parah setelah ranjau anti-tank menghantam kendaraannya.
Setelah kembali ke Amerika Serikat, Hathcock membantu mendirikan sekolah khusus sniper dan mendedikasikan sebagian besar sisa hidupnya untuk melatih para sniper pasukan khusus.
Setelah bertahun-tahun berjuang melawan Multiple Sclerosis, Hathcock meninggal pada 22 Februari 1999 di Virginia Beach, Virginia. Dia dimakamkan di Woodlawn Memorial Gardens di Norfolk, Virginia.
![10 Sniper Paling Mematikan di Dunia, Ada yang Bunuh 505 Orang dalam Waktu Kurang dari 100 Hari]()
Foto/pokazuha.ru
Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko adalah sniper Uni Soviet yang bertugas di Tentara Merah selama Perang Dunia II.
Dia dikreditkan dengan 309 pembunuhan yang mencengangkan selama karier militernya.
Lahir di Bila Tserkva (Ukraina modern) pada 12 Juli 1916, Pavlichenko kemudian pindah bersama keluarganya ke Kiev atau Kyiv, di mana dia bekerja sebagai penggiling di Kyiv Arsenal Factory.
Pavlichenko mengembangkan minat dalam menembak dan bahkan bergabung dengan klub menembak lokal di mana keterampilannya sebagai sniper pertama kali dikembangkan.
Ketika pasukan Nazi Jerman menginvasi wilayah Soviet, Pavlichenko mengajukan diri untuk dinas militer dan ditugaskan ke Divisi Senapan ke-25. Meski ditawari kesempatan untuk menjadi perawat, Pavlichenko malah memilih pelatihan sniper, menjadi salah satu dari 2.000 sniper wanita di Tentara Merah.
Setelah perang usai, Pavlichenko menyelesaikan pendidikannya dan memulai karier sebagai sejarawan. Sayangnya, dia meninggal pada 10 Oktober 1974 pada usia 58 tahun setelah menderita stroke.
Dia dimakamkan di Pemakaman Novodevichye di Moskow. Hingga hari ini, Pavlichenko tetap menjadi salah satu sniper paling mematikan dalam sejarah modern dan dianggap sebagai sniper wanita paling sukses sepanjang masa, mendapatkan banyak medali, termasuk Order of Lenin (dua kali), serta gelar "Hero of the Soviet Union".
![10 Sniper Paling Mematikan di Dunia, Ada yang Bunuh 505 Orang dalam Waktu Kurang dari 100 Hari]()
Foto/Imgur
Vasily Grigoryevich Zaytsev adalah sniper Uni Soviet yang bertugas di Tentara Merah selama Perang Dunia II. Dia dikreditkan dengan lebih dari 242 pembunuhan yang dikonfirmasi.
Lahir di Yeleninskoye, Orenburg, pada 23 Maret 1915, Zaytsev mempelajari keahlian menembaknya dari kakeknya di Pegunungan Ural.
Setelah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja sebentar di bidang konstruksi, Zaytsev kemudian mendaftar di militer Soviet, bertugas di Armada Pasifik mulai tahun 1937.
Setelah perang pecah hanya beberapa tahun kemudian, Zaytsev mengajukan diri untuk bergabung dengan garis depan, di mana dia ditugaskan ke Resimen Senapan ke-1047 dari Divisi Senapan Tomsk ke-284.
Bahkan sebelum menjadi sniper Tentara Merah, Zaytsev dikreditkan dengan 32 pembunuhan menggunakan senapan standar.
Sepanjang Pertempuran Stalingrad, Zaytsev mengumpulkan lebih dari 200 pembunuhan musuh sebelum dibutakan oleh serangan mortir Jerman. Setelah mendapatkan kembali penglihatannya sebulan kemudian, Zaytsev kembali ke garis depan pada bulan Februari 1943.
Setelah perang, Zaytsev kemudian bergabung dengan Partai Komunis pada tahun 1943 dan menetap di Kiev, Ukraina, di mana dia bekerja sebagai insinyur selama sisa hidupnya.
Dia meninggal pada tanggal 15 Desember 1991 pada usia 76 tahun dan kemudian dimakamkan kembali di Bukit Mamayev di Volgograd dengan penghormatan militer penuh.
![10 Sniper Paling Mematikan di Dunia, Ada yang Bunuh 505 Orang dalam Waktu Kurang dari 100 Hari]()
Foto/NY Daily News
Christopher Scott Kyle adalah sniper Navy SEAL Amerika Serikat yang menjalani empat tugas di Irak.
Pada usia 17 tahun, Hathcock mendaftar di Marinir, memenuhi keinginan masa kecilnya untuk bertugas di militer. Setelah dikerahkan ke Vietnam pada tahun 1960-an, Hathcock awalnya bertugas sebagai polisi militer sebelum dipindahkan ke peleton sniper Kapten Edward James Land.
Aksi Hathcock mendorong Angkatan Darat Vietnam Utara untuk menempatkan hadiah USD30.000 di kepalanya karena banyaknya orang yang dibunuh oleh sniper Amerika ini.
Hathcock bahkan mendapat julukan "Long Tr'ang" atau "Sniper Bulu Putih) karena bulu putih yang selalu dikenakannya di pinggiran topinya.
Salam Perang Vietnam berlangsung, Hathcock dievakuasi dari negara Asia Tenggara ini karena terluka parah setelah ranjau anti-tank menghantam kendaraannya.
Setelah kembali ke Amerika Serikat, Hathcock membantu mendirikan sekolah khusus sniper dan mendedikasikan sebagian besar sisa hidupnya untuk melatih para sniper pasukan khusus.
Setelah bertahun-tahun berjuang melawan Multiple Sclerosis, Hathcock meninggal pada 22 Februari 1999 di Virginia Beach, Virginia. Dia dimakamkan di Woodlawn Memorial Gardens di Norfolk, Virginia.
5. Lyudmila Pavlichenko (Membunuh 309 Orang)

Foto/pokazuha.ru
Lyudmila Mikhailovna Pavlichenko adalah sniper Uni Soviet yang bertugas di Tentara Merah selama Perang Dunia II.
Dia dikreditkan dengan 309 pembunuhan yang mencengangkan selama karier militernya.
Lahir di Bila Tserkva (Ukraina modern) pada 12 Juli 1916, Pavlichenko kemudian pindah bersama keluarganya ke Kiev atau Kyiv, di mana dia bekerja sebagai penggiling di Kyiv Arsenal Factory.
Pavlichenko mengembangkan minat dalam menembak dan bahkan bergabung dengan klub menembak lokal di mana keterampilannya sebagai sniper pertama kali dikembangkan.
Ketika pasukan Nazi Jerman menginvasi wilayah Soviet, Pavlichenko mengajukan diri untuk dinas militer dan ditugaskan ke Divisi Senapan ke-25. Meski ditawari kesempatan untuk menjadi perawat, Pavlichenko malah memilih pelatihan sniper, menjadi salah satu dari 2.000 sniper wanita di Tentara Merah.
Setelah perang usai, Pavlichenko menyelesaikan pendidikannya dan memulai karier sebagai sejarawan. Sayangnya, dia meninggal pada 10 Oktober 1974 pada usia 58 tahun setelah menderita stroke.
Dia dimakamkan di Pemakaman Novodevichye di Moskow. Hingga hari ini, Pavlichenko tetap menjadi salah satu sniper paling mematikan dalam sejarah modern dan dianggap sebagai sniper wanita paling sukses sepanjang masa, mendapatkan banyak medali, termasuk Order of Lenin (dua kali), serta gelar "Hero of the Soviet Union".
6. Vasily Zaytsev (Membunuh 242 Orang)

Foto/Imgur
Vasily Grigoryevich Zaytsev adalah sniper Uni Soviet yang bertugas di Tentara Merah selama Perang Dunia II. Dia dikreditkan dengan lebih dari 242 pembunuhan yang dikonfirmasi.
Lahir di Yeleninskoye, Orenburg, pada 23 Maret 1915, Zaytsev mempelajari keahlian menembaknya dari kakeknya di Pegunungan Ural.
Setelah lulus dari perguruan tinggi dan bekerja sebentar di bidang konstruksi, Zaytsev kemudian mendaftar di militer Soviet, bertugas di Armada Pasifik mulai tahun 1937.
Setelah perang pecah hanya beberapa tahun kemudian, Zaytsev mengajukan diri untuk bergabung dengan garis depan, di mana dia ditugaskan ke Resimen Senapan ke-1047 dari Divisi Senapan Tomsk ke-284.
Bahkan sebelum menjadi sniper Tentara Merah, Zaytsev dikreditkan dengan 32 pembunuhan menggunakan senapan standar.
Sepanjang Pertempuran Stalingrad, Zaytsev mengumpulkan lebih dari 200 pembunuhan musuh sebelum dibutakan oleh serangan mortir Jerman. Setelah mendapatkan kembali penglihatannya sebulan kemudian, Zaytsev kembali ke garis depan pada bulan Februari 1943.
Setelah perang, Zaytsev kemudian bergabung dengan Partai Komunis pada tahun 1943 dan menetap di Kiev, Ukraina, di mana dia bekerja sebagai insinyur selama sisa hidupnya.
Dia meninggal pada tanggal 15 Desember 1991 pada usia 76 tahun dan kemudian dimakamkan kembali di Bukit Mamayev di Volgograd dengan penghormatan militer penuh.
7. Chris Kyle (Membunuh 160 Orang)

Foto/NY Daily News
Christopher Scott Kyle adalah sniper Navy SEAL Amerika Serikat yang menjalani empat tugas di Irak.
Lihat Juga :