China Dekati Manila Meski Hubungan Filipina dan AS Makin Mesra

Kamis, 23 Maret 2023 - 20:44 WIB
loading...
China Dekati Manila...
Tentara AS di atas kendaraan lapis baja amfibi menyaksikan pasukan marinir Filipina berlari selama latihan penyerangan dalam latihan bersama di pangkalan Angkatan Laut Filipina San Antonio, Zambales, 9 Oktober 2015. Foto/REUTERS/Erik De Castro
A A A
MANILA - China khawatir dengan hubungan Filipina yang lebih dekat dengan Washington, dan memandang Amerika Serikat (AS) sebagai aktor pengacau terbesar di kawasan itu.

Wakil Menteri Luar Negeri (Menlu) China Sun Weidong menyerukan untuk memperdalam “kerjasama strategis yang komprehensif” antara Beijing dan Manila, yang harus “menjaga arah umum hubungan persahabatan.”

Pernyataan itu muncul menjelang pembicaraan Sun dengan Wakil Menlu Filipina Theresa Lazaro di Manila, di mana diplomat China itu tiba pada 22 Maret untuk kunjungan dua hari.

Negosiasi diadakan dengan latar belakang hubungan yang tegang antara China dan Filipina, dengan Beijing yang sangat prihatin atas kerja sama militer Manila yang lebih dekat dengan Washington.

Baca juga: AS akan Bangun Pangkalan Militer Baru di Dekat Laut China Selatan

Secara terpisah, Manila menarik perhatian Beijing pada apa yang digambarkannya sebagai “kehadiran tidak sah” sejumlah kapal angkatan laut dan penjaga pantai China di perairan teritorial Filipina selama beberapa bulan terakhir.

Juru bicara Kementerian Pertahanan (Kemhan) China Tan Kefei mengatakan kepada wartawan akhir bulan lalu bahwa Beijing tidak senang karena AS mendapatkan akses ke empat pangkalan militer baru di Filipina.

Tak hanya itu, China memandang Washington sebagai aktor destabilisasi terbesar di kawasan Asia-Pasifik.

“China dengan cermat mengikuti kecenderungan ini dan mengungkapkan keprihatinan serius atas hal ini. Kami selalu percaya bahwa kerja sama militer dan keamanan antar negara harus berkontribusi pada perlindungan perdamaian dan stabilitas di kawasan dan tidak ditujukan kepada pihak ketiga atau merugikan kepentingan mereka," ujar juru bicara itu.

Baca juga: Medvedev: Jika Jerman Putuskan Tangkap Putin, Itu Deklarasi Perang pada Rusia

Menurut Tan, AS telah berulang kali mencoba meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut, yang berujung pada ketegangan dan krisis kepercayaan.

“Sekali lagi membuktikan bahwa AS adalah faktor paling berbahaya dan sumber kekacauan terbesar, yang meningkatkan ketegangan regional dan merusak perdamaian dan stabilitas regional,” tegas dia.

Tan berbicara setelah Washington dan Manila setuju bulan lalu untuk memperluas akses AS ke empat pangkalan militer lagi di Filipina sebagai bagian dari Perjanjian Kerjasama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA), sehingga jumlah total situs EDCA menjadi sembilan.

EDCA, yang ditandatangani pada tahun 2014, merupakan perjanjian militer substansial pertama antara kedua negara sejak tahun 1990-an.

Salah satu tujuan utama kesepakatan itu adalah untuk melawan peningkatan aktivitas Beijing di wilayah tersebut, termasuk di Laut China Selatan dan memastikan ketersediaan pasukan AS di Filipina untuk membantu Manila menanggapi bencana alam.

Dalam perkembangan terpisah bulan ini, Washington dan Manila memulai latihan militer skala besar Salaknib (Perisai) di reservasi militer terbesar di Filipina, Fort Magsaysay. Latihan itu melibatkan sekitar 3.000 personel.

Tahap pertama latihan tahunan akan berlangsung hingga 4 April, dan yang kedua dijadwalkan untuk kuartal kedua tahun ini.

Latihan tersebut bertujuan memperkuat kerja sama pasukan Filipina dan Amerika dalam spektrum operasi militer, menurut Komandan Angkatan Darat Filipina Letnan Jenderal Romeo Brawner Jr.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
Iran Dapat Rp5.360 Triliun...
Iran Dapat Rp5.360 Triliun Jadi Inti Kesepakatan dengan AS, tapi Siapa yang Bayar?
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Iran: Israel Ingin Sabotase...
Iran: Israel Ingin Sabotase Perjanjian Damai Iran-AS
Rekomendasi
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Gunduli Irak, Prancis...
Gunduli Irak, Prancis Segel Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Pakar Optimistis Kepolisian Jadi Institusi yang Modern dan Presisi
Berita Terkini
Keir Starmer, PM yang...
Keir Starmer, PM yang Baik, tapi Kenapa Dibenci?
Aktivis Zionis: 15 Tahun...
Aktivis Zionis: 15 Tahun Lagi, Israel Akan Perang dengan Mesir
Tuduh AS Biang Kisruh,...
Tuduh AS Biang Kisruh, Kim Jong-un: Korut Akan Jalankan Posisinya sebagai Negara Nuklir
5 Poin Penting Perundingan...
5 Poin Penting Perundingan Damai Iran-AS Putaran Pertama, dari Pencairan Aset hingga Lebanon
Menteri Zionis Tolak...
Menteri Zionis Tolak Gencatan Senjata: Lebanon Seharusnya Jadi Arena Bermain Israel
Penembakan Guncang Lingkungan...
Penembakan Guncang Lingkungan Yahudi Montreal, 3 Orang Tewas, Termasuk Pelaku
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved