Auditor Amerika Serikat Menuju Ukraina, Lacak Aliran Dana Bantuan

Sabtu, 18 Februari 2023 - 23:06 WIB
loading...
Auditor Amerika Serikat...
Bantuan militer AS diturunkan dari pesawat di Bandara Internasional Boryspil di luar Kiev, Ukraina, 13 Februari 2022. Foto/REUTERS/Serhiy Takhmazov
A A A
WASHINGTON - Setelah mengirimkan bantuan militer dan keuangan senilai USD110 miliar ke Ukraina selama setahun, Amerika Serikat (AS) membuat rencana mengirim auditor dan inspektur ke Kiev sehingga mereka tidak harus bergantung pada laporan tangan kedua.

Wall Street Journal (WSJ) melaporkan hal itu pada Jumat mengutip Pentagon, Departemen Luar Negeri dan pejabat USAID.

Inspektur jenderal dari tiga lembaga masing-masing mengatakan kepada outlet tersebut bahwa sejauh ini, pengawasan dilakukan dengan menggunakan staf di Polandia dan Jerman.

Setelah pergi ke Kiev bulan lalu dan bertemu pejabat Ukraina, mereka memutuskan mengirim beberapa dari 177 auditor dan penyelidik mereka sendiri ke Ukraina.

Baca juga: Amerika: 30.000 Tentara Bayaran Wagner Rusia Terbunuh di Ukraina

Ketiganya bertemu dengan perdana menteri Ukraina, menteri pertahanan dan keuangan, dan jaksa agung, menurut Departemen Pertahanan IG Robert Storch kepada WSJ.

Dia menambahkan, “Mereka menekankan harapan AS untuk akuntabilitas, dan juga pentingnya kerja sama dengan pekerjaan pengawasan kami.”

Diana Shaw, wakil IG di Departemen Luar Negeri, mengatakan, “AS telah memberi Ukraina sejumlah besar bantuan dalam waktu yang sangat singkat dan setiap penipuan, pemborosan, penyalahgunaan yang akan mengalihkan dana itu dari tujuan yang dimaksudkan berisiko membahayakan kelanjutan aliran bantuan itu.”

Kongres AS mengalokasikan lebih dari USD113 miliar untuk bantuan ke Ukraina pada tahun 2022.

Selain sistem senjata dan amunisi yang mahal, Washington telah mengirimkan uang tunai ke Kiev agar pemerintah Ukraina dapat terus beroperasi.

Untuk memantau aliran ini, WSJ mengungkapkan, Washington mengandalkan staf di negara terdekat, staf kecil kedutaan AS di Kiev, pejabat Uni Eropa di Ukraina, dan personel Bank Dunia.

“Saya pikir kami telah menjadi kreatif dan Anda tahu, out of the box, condong ke depan dengan pengawasan yang telah kami capai sejauh ini. Tetapi untuk pengawasan yang benar-benar komprehensif dan kuat, itu tidak dapat dilakukan dari jarak jauh,” papar Nicole Angarella, wakil inspektur jenderal USAID.

Shaw menjelaskan, “Perjalanan ke Kiev dimaksudkan untuk menilai apakah kami merasa bahwa kami perlu hadir di lokasi di dalam negeri. Dan kembali dari perjalanan itu, saya pikir kami merasa bahwa kami melakukannya dan sekarang kami sedang dalam proses mengejar itu.”

Para inspektur “sejauh ini tidak menerima laporan penipuan besar atau ilegalitas” mengenai bantuan AS, menurut WSJ.

Pembersihan pejabat Ukraina oleh Presiden Volodymyr Zelensky baru-baru ini sebagai bagian dari kampanye anti-korupsi tidak ada hubungannya dengan bantuan AS, menurut mereka.

Meski Storch dan Shaw terutama menyoroti bantuan militer, Angarella terutama khawatir dengan lebih dari USD20 miliar yang dikirim AS melalui Bank Dunia untuk membayar gaji para pejabat pemerintah Ukraina.

“Pembayaran tunai adalah risiko terbesar untuk pengawasan,” ujar dia.

“Uang dapat dipertukarkan, dan, Anda tahu, selalu berisiko lebih tinggi,” papar dia.

Menurut Angarella, USAID telah menilai “kontrol yang tepat” telah dilakukan untuk mendeteksi penyalahgunaan dana.

Partai Demokrat yang berkuasa dan oposisi Partai Republik mempertahankan hal terpenting yang harus dilakukan AS adalah terus mendanai Ukraina "selama diperlukan".

Meski demikian, jajak pendapat baru-baru ini menunjukkan orang Amerika semakin lelah dengan bantuan yang terus meningkat ke Kiev, sementara masalah menumpuk di dalam negeri.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Trump Bilang Israel...
Trump Bilang Israel Tak Berhak Kritik Deal AS-Iran karena Dulu Ogah Bunuh Jenderal Soleimani
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
AS dan Iran Setujui...
AS dan Iran Setujui Kesepakatan untuk Akhiri Perang di Timur Tengah, Ini Isinya
Dominasi Pizza Hut Memudar...
Dominasi Pizza Hut Memudar hingga Dilego Pemilik Rp47,8 Triliun
Rekomendasi
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
Rp603 Triliun Milik...
Rp603 Triliun Milik Amerika Serikat Habis Terbakar di Langit Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved