Tupai di Colorado Diserang Wabah Penyakit Bubonic

Kamis, 16 Juli 2020 - 05:39 WIB
loading...
Tupai di Colorado Diserang...
Wabah penyakit bubonic atau pes menyerang tupai di Colorado, AS. Foto/Fox News
A A A
WASHINGTON - Seekor tupai telah diuji positif penyakit bubonic atau pes di Kota Morrison di Colorado, Amerika Serikat (AS). Demikian pengumuman yang dikeluarkan pejabat Kesehatan Masyarakat Jefferson County dalam sebuah pernyataan selama akhir pekan.

"Tupai itu, yang ditemukan pada hari Sabtu, adalah kasus wabah pertama di Jefferson County," kata pernyataan itu seperti dikutip dari CBS News, Kamis (16/7/2020).

Seorang juru bicara untuk Kesehatan Masyarakat Jefferson County mengatakan kepada CBS News bahwa seseorang di Morrison melaporkan melihat setidaknya 15 tupai mati di sekitar kota. Pejabat kesehatan kemudian menguji seekor tupai, dan diketaui positif pes. Mereka menduga tupai-tupai yang lain juga terinfeksi.

Dalam sebuah pernyataan, para pejabat memperingatkan bahwa penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis itu dapat ditularkan oleh manusia dan hewan rumah tangga. Mereka mengatakan manusia dapat terinfeksi melalui gigitan kutu, batuk hewan yang terinfeksi atau dengan bersentuhan langsung dengan darah atau jaringan dari hewan yang terinfeksi.

Kucing menjadi binsatang yang sangat rentan terhadap wabah ini dan dapat tertular dari gigitan kutu atau goresan atau gigitan tikus, atau dengan menelan tikus.

"Kucing juga bisa mati jika tidak diobati dengan antibiotik," kata para pejabat.

Sementara anjing tidak rentan terhadap wabah ini. Namun, anjing bisa membawa dan meneruskan kutu yang terinfeksi wabah.

Petugas menyarankan pemilik hewan peliharaan yang tinggal di dekat populasi hewan liar, atau mencurigai hewan peliharaan mereka sakit, untuk berkonsultasi dengan dokter hewan.

Dalam pernyataannya, Kesehatan Masyarakat Jefferson County merekomendasikan beberapa tindakan pencegahan untuk melindungi dari wabah, termasuk menghilangkan sumber makanan dan tempat berlindung bagi hewan liar, menghindari hewan liar yang sakit dan mati serta tikus, berkonsultasi dengan dokter hewan tentang kutu dan pengendalian kutu.

"Risiko terkena wabah sangat rendah selama tindakan pencegahan diambil," bunyi pernyataan itu.

Pernyataan itu mengatakan gejala wabah bubonic termasuk serangan demam tinggi yang tiba-tiba, menggigil, sakit kepala, mual dan rasa sakit yang hebat serta pembengkakan kelenjar getah bening, yang dapat terjadi dalam dua hingga tujuh hari setelah terpapar bakteri.

Laporan dari Colorado muncul sekitar satu minggu setelah pejabat di China mengumumkan dugaan kasus pes atau bubonic di wilayah otonomi Mongolia Dalam. Associated Press melaporkan bahwa pihak berwenang di distrik Bayannur telah mengangkat peringatan wabah awal bulan ini, memerintahkan penduduk untuk tidak memburu binatang liar seperti marmut. Pemerintah setempat juga memerintahkan warga untuk mengirim orang yang demam atau yang mungkin menunjukkan tanda-tanda infeksi untuk dirawat.(Baca: Covid-19 Belum Reda, Muncul Wabah Bubonic di China )

Wabah bubonic menewaskan jutaan orang di seluruh dunia selama Abad Pertengahan, dan sejak itu wabha penyakit telah terjadi, termasuk Wabah Besar di London pada 1600-an.

Saat ini, penyakit itu dapat mematikan hingga 90% dari mereka yang terinfeksi jika tidak diobati. Namun Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) mengatakan antibiotik modern efektif dalam mengobatinya. (Baca: WHO Nyatakan Wabah Bubonic di China Tidak Berisiko Tinggi )

"Saat ini, infeksi wabah itu pada manusia terus terjadi di daerah pedesaan di Amerika Serikat bagian barat, tetapi secara signifikan lebih banyak kasus terjadi di beberapa bagian Afrika dan Asia," kata CDC.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Menlu Iran Ungkap MoU...
Menlu Iran Ungkap MoU dengan AS Mencakup Lebanon dan Blokade Paman Sam
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Jalan Terjal Iran di...
Jalan Terjal Iran di Piala Dunia 2026: Visa Ditolak dan dalam Kepungan Senjata
Menteri Israel Serukan...
Menteri Israel Serukan Penculikan dan Penyanderaan Wanita dan Pemuda Lebanon untuk Tekan Hizbullah
Putri Bajrakitiyabha...
Putri Bajrakitiyabha Meninggal Dunia, Thailand Umumkan Masa Berkabung Nasional
Rekomendasi
Adu Otak Bukan Otot:...
Adu Otak Bukan Otot: Luís Figo dan Ambisi Baru Game Mobile di Indonesia
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
Jetour T1 Hadir Dua...
Jetour T1 Hadir Dua Rasa, Mana yang Lebih Layak Dibeli: ICE Rp388 Juta atau PHEV Rp538 Juta?
Berita Terkini
Dunia Segara Akan Dengar...
Dunia Segara Akan Dengar Gema Kemenangan Iran
Hamas Peringatkan Israel...
Hamas Peringatkan Israel Perluas Garis Kuning Gaza untuk Gagalkan Perundingan Gencatan Senjata
Trump Cari Jalan Keluar...
Trump Cari Jalan Keluar Secepatnya untuk Hindari Dampak Politik dan Ekonomi Perang Iran
2 Pemain Sepak Bola...
2 Pemain Sepak Bola Brasil Masuk Daftar Pembunuhan oleh Situs Ukraina
Presiden Asosiasi Sepak...
Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina Kecam AS Tunda Visa untuk Acara Piala Dunia
Militer AS Bangun Pangkalan...
Militer AS Bangun Pangkalan Baru di Dekat Perbatasan Gaza untuk Dukung Rencana Pasca-Perang
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved