5 Fakta Georgia, Negara yang Tidak Ikut Memberi Sanksi Untuk Rusia

Selasa, 07 Februari 2023 - 22:01 WIB
loading...
5 Fakta Georgia, Negara...
Para pelancong berjalan setelah melintasi perbatasan dengan Rusia di pos pemeriksaan perbatasan Verkhny Lars dan Zemo Larsi, Georgia, 28 September 2022. Foto/REUTERS/Irakli Gedenidze
A A A
TBILISI - Georgia menjadi salah satu negara yang enggan memberi sanksi pada Rusia yang telah melakukan invasi ke Ukraina.

Dilansir dari Eurasianet, Pemerintah Georgia tidak berniat bergabung dalam upaya sanksi apapun terhadap Rusia, menurut Perdana Menteri Irakli Garibashvili.

Mereka berpegang teguh pada apa yang disebutnya "kebijakan pragmatis" Tbilisi di tengah meluasnya tanggapan internasional terhadap serangan Rusia terhadap Ukraina.

Keputusan ini diambil Georgia lantaran enggan memprovokasi kemarahan Rusia, meskipun memiliki hubungan yang baik dengan AS dan Eropa.

Terdapat beberapa fakta menarik tentang Georgia dimana salah satunya bisa jadi menjadi penyebab mengapa negara tersebut enggan memberikan sanksi.

1. Berada di Wilayah Asia

Secara geografis, Georgia terletak di persimpangan Asia Barat dan Eropa Timur. Berbatasan dengan Laut Hitam di barat, Rusia di utara, dan Turki, Armenia, Azerbaijan di selatan.

Menentukan Georgia termasuk dalam benua Eropa atau Asia ini memang cukup membingungkan. Karena secara garis wilayah negara ini masih termasuk dalam benua Asia bila perbatasan ditentukan oleh Pegunungan Kaukasus.

Menurut World Atlas, banyak orang Georgia yang mengklasifikasikan negaranya sebagai bagian dari Eropa.

Sehingga bila ditarik garis tengah, negara ini termasuk dalam Eurasia yang bisa masuk ke wilayah Asia maupun Eropa tergantung pada definisi mana yang digunakan.

2. Mantan Wilayah Kekuasaan Uni Soviet

Pada tahun 1801 sampai 1804 wilayah ini menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Namun wilayah ini sempat terbebas dan mendirikan negara republik pertama di dunia pada tahun 1917.

Sayangnya Georgia harus kembali jatuh setelah Uni Soviet berhasil menginvasi wilayah tersebut di tahun 1921.

Kemudian setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, Georgia mengumumkan pemisahan diri dari kemerdekaan yang didukung secara besar-besaran dalam sebuah referendum.

3. Punya Konflik Panjang dengan Rusia

Dilansir dari BBC, konflik dimulai di tahun 1992, ketika pasukan pemerintah mendapat serangan dari pasukan separatis yang diduga berada dalam pengawasan Rusia.

Kemudian pada tahun 1994 pihak Pemerintah dan pasukan separatis menandatangani perjanjian gencatan senjata.

Namun bentrok kembali pecah di Abkhazia tahun 2001 setelah Moskow menuduh Georgia menyembunyikan pemberontak Chechnya.

Ketegangan antara Georgia dan Rusia kembali meningkat ketika Tbilisi mencoba merebut kembali Ossetia Selatan dengan paksa di tahun 2001.

Setelah lima hari bertempur, kedua belah pihak menandatangani perjanjian perdamaian yang ditengahi Prancis.

Hingga pada akhirnya wilayah Ossetia Selatan memisahkan diri dan tergabung dalam federasi Rusia di tahun 2017 lalu.

4. Mengusung Sistem Pemerintahan Parlementer

Dalam sistem Pemerintahan Georgia terdapat seorang Presiden dan Perdana Menteri yang berwenang terhadap jalannya pemerintahan.

Saat ini Georgia dipimpin Presiden Salome Zourabichvili yang menduduki jabatan sejak 2018, dan Perdana Menteri Irakli Garibashvili yang mulai memerintah pada 2021 lalu.

5. Memiliki Masyarakat yang Menjunjung Tinggi Agama

Sementara banyak negara Eropa mengalami penurunan kepatuhan beragama dalam beberapa dekade terakhir, Gereja Ortodoks di Georgia berkembang pesat.

Kehadiran, kepatuhan, dan rasa hormat terhadap Gereja semuanya tumbuh. Lebih dari 80% orang Georgia mengatakan mereka adalah anggota Gereja.

Sementara pemimpinnya, Patriarch Ilia II, sejauh ini adalah tokoh publik yang paling dihormati, dengan peringkat popularitas lebih dari 90%.

Berasal dari abad ke-4, Gereja membantu negara itu mempertahankan tradisi musik kunonya selama era Soviet dan telah menjadi pusat kesadaran diri orang Georgia sejak kemerdekaan.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Perang Rusia-Ukraina...
Perang Rusia-Ukraina Memicu Perlombaan Senjata AI
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Prancis Terpanggang!...
Prancis Terpanggang! Korban Tewas Gelombang Panas Tembus 1.000 Orang, 85% Lansia
Rekomendasi
Gerakan Pangan Murah...
Gerakan Pangan Murah Partai Perindo Sultra Diserbu Warga
Kabar Buruk, Perusahaan...
Kabar Buruk, Perusahaan Rokok Raksasa Ini Bakal PHK 9.000 Karyawan
Nadiem Makarim Hadapi...
Nadiem Makarim Hadapi Sidang Vonis Korupsi Chromebook, Puluhan Ojol Gelar Aksi di Luar Pengadilan
Berita Terkini
Pria Ini Bunuh Pacar,...
Pria Ini Bunuh Pacar, tapi Tewas Serangan Jantung saat Buang Mayat Korban
Apakah Gerakan Amal...
Apakah Gerakan Amal Bisa Menggantikan Hizbullah?
Bagaimana Program Rudal...
Bagaimana Program Rudal Iran Bertahan dari Perang dan Diplomasi? Ini Analisisnya
Indonesia Lunasi Proyek...
Indonesia Lunasi Proyek Jet Tempur KF-21 Korsel Rp6,9 Triliun, Dapat Transfer Teknologi Apa?
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
Iran Ngamuk, Luncurkan...
Iran Ngamuk, Luncurkan Serangan Siber 3 Kali Lipat terhadap Israel
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved