Mengenal Uighur, Suku Islam yang Mendiami Xinjiang China
Sabtu, 21 Januari 2023 - 18:41 WIB
loading...
A
A
A
Kelompok hak asasi manusia (HAM) telah menyuarakan keprihatinan bahwa banyak dari ekspor kapas diambil dengan kerja paksa, dan pada tahun 2021 beberapa merek Barat menghapus kapas Xinjiang dari rantai pasokan mereka.
Pada Desember 2020, penelitian yang dilihat oleh BBC menunjukkan bahwa hingga 0,5 juta orang dipaksa memetik kapas di Xinjiang.
Parahnya lagi, China dilaporkan telah secara paksa mensterilkan wanita Uighur untuk menekan populasi, memisahkan anak-anak dari keluarga mereka, dan berusaha untuk mematahkan tradisi budaya kelompok tersebut.
Laporan itu mendapat kecaman dari berbagai pihak. Dalam forum internasional, beberapa negara seperti AS, Inggris, Kanada, dan Belanda menuding China melakukan genosida.
Analisis data yang terdapat dalam dokumen polisi terbaru, yang disebut "File Polisi Xinjiang", menunjukkan bahwa hampir 23.000 penduduk—atau lebih dari 12% populasi orang dewasa di satu daerah—berada di kamp atau penjara pada tahun 2017 dan 2018.
Namun pemerintah China membantah semua tuduhan pelanggaran HAM di Xinjiang. Menanggapi "File Polisi Xinjiang", juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan kepada BBC bahwa dokumen itu adalah "contoh terbaru dari suara anti-China yang mencoba mencoreng China".
China mengatakan tindakan keras di Xinjiang diperlukan untuk mencegah terorisme dan membasmi ekstremisme Islam dan kamp-kamp itu adalah alat yang efektif untuk mendidik kembali narapidana dalam perang melawan terorisme.
Pada Desember 2020, penelitian yang dilihat oleh BBC menunjukkan bahwa hingga 0,5 juta orang dipaksa memetik kapas di Xinjiang.
Parahnya lagi, China dilaporkan telah secara paksa mensterilkan wanita Uighur untuk menekan populasi, memisahkan anak-anak dari keluarga mereka, dan berusaha untuk mematahkan tradisi budaya kelompok tersebut.
Laporan itu mendapat kecaman dari berbagai pihak. Dalam forum internasional, beberapa negara seperti AS, Inggris, Kanada, dan Belanda menuding China melakukan genosida.
Analisis data yang terdapat dalam dokumen polisi terbaru, yang disebut "File Polisi Xinjiang", menunjukkan bahwa hampir 23.000 penduduk—atau lebih dari 12% populasi orang dewasa di satu daerah—berada di kamp atau penjara pada tahun 2017 dan 2018.
Namun pemerintah China membantah semua tuduhan pelanggaran HAM di Xinjiang. Menanggapi "File Polisi Xinjiang", juru bicara kementerian luar negeri China mengatakan kepada BBC bahwa dokumen itu adalah "contoh terbaru dari suara anti-China yang mencoba mencoreng China".
China mengatakan tindakan keras di Xinjiang diperlukan untuk mencegah terorisme dan membasmi ekstremisme Islam dan kamp-kamp itu adalah alat yang efektif untuk mendidik kembali narapidana dalam perang melawan terorisme.
(min)
Lihat Juga :