Hagia Sopia, Situs 15 Abad yang Sensitif bagi Dua Agama

Sabtu, 11 Juli 2020 - 08:14 WIB
Lembaga survei Turki Metropoll menemukan bahwa 44% responden percaya Hagia Sophia dimasukkan dalam agenda untuk mengalihkan perhatian pemilih dari kesengsaraan ekonomi Turki. (Baca juga: Gereja Orthodoks Rusia Tak Terima Jika Hagia Sophia Jadi Masjid )

Surat kabar pro-pemerintah, Hurriyet, melaporkan bulan lalu bahwa Erdogan telah memerintahkan status Hagia Sophia diubah, tetapi wisatawan harus tetap dapat mengunjungi Hagia Sophia sebagai masjid dan masalah itu akan ditangani secara sensitif.

Reaksi

Di luar Turki, prospek perubahan telah meningkatkan kekhawatiran.

1. Patriark Ekumenis Bartholomew, kepala spiritual dari 300 juta orang Kristen Ortodoks, mengatakan mengubah status Hagia Sophia akan memecah dunia Timur dan Barat. Gereja Ortodoks Rusia mengatakan mengubahnya menjadi masjid tidak dapat diterima.

2. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo mengatakan setiap perubahan akan mengurangi kemampuannya untuk melayani umat manusia sebagai jembatan yang sangat dibutuhkan antara mereka yang berbeda tradisi dan budaya agama.

3.Yunani, negara yang sangat Ortodoks, mengatakan Turki berisiko membuka jurang emosional yang sangat besar dengan negara-negara Kristen jika itu mengubah bangunan yang merupakan pusat kerajaan Bizantium berbahasa Yunani dan gereja Ortodoks.

4.Turki mengkritik apa yang dikatakannya campur tangan asing. "Ini adalah masalah kedaulatan nasional," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu. "Yang penting adalah apa yang diinginkan orang-orang Turki."
(min)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!