Aksi Putin Tidak Dapat Dukungan dari Dewan Keamanan PBB

Rabu, 23 Februari 2022 - 01:01 WIB
Dia menuduh Ukraina meningkatkan penembakan secara tajam di daerah pemukiman Luhansk dan Donetsk selama akhir pekan lalu serta di beberapa kota dan desa Rusia di dekat perbatasan.

“Jadi sudah jelas bahwa Donbas berada di ambang petualangan militer baru Ukraina seperti yang sudah terjadi pada 2014 dan 2015,” katanya, menjelaskan itulah mengapa Putin membuat pengumuman itu pada Senin pagi.

Pihak berwenang separatis mengatakan pada Senin bahwa setidaknya empat warga sipil tewas oleh penembakan Ukraina selama 24 jam terakhir, dan beberapa lainnya terluka. Militer Ukraina mengatakan dua tentara Ukraina tewas selama akhir pekan, dan seorang prajurit lainnya terluka pada Senin. Juru bicara militer Ukraina Pavlo Kovalchyuk bersikeras bahwa pasukan Ukraina tidak membalas tembakan.

Baca juga: Tim Sabotase Ukraina Ledakkan Ranjau di Jalan Donetsk, 3 Warga Tewas

"Kami tetap terbuka untuk diplomasi untuk solusi diplomatik," kata Nebenzia. “Namun, membiarkan pertumpahan darah baru di Donbas adalah sesuatu yang tidak ingin kami lakukan,” imbuhnya.

Dia mendesak AS dan negara-negara Barat lainnya untuk berpikir dua kali, mengesampingkan emosi, dan tidak memperburuk situasi.

“Tidak seorang pun selain Anda yang dapat menahan rencana militeristik Kiev dan memaksanya untuk menghentikan penembakan terhadap Republik Rakyat Luhansk dan Donetsk yang dalam kondisi baru ini dapat memiliki konsekuensi yang sangat berbahaya,” kata Nebenzia, mengacu pada aksi militer serius di masa depan.

Duta Besar Albania untuk PBB, Ferit Hoxha, menyebut apa yang dilakukan Rusia pada hari Senin sebagai pengulangan dari apa yang dilakukan Moskow di Georgia pada tahun 2008 ketika secara ilegal menduduki dua wilayah dan di Crimea pada tahun 2014, yang berarti agresi dengan pembuatan republik hantu.

“Siapa selanjutnya?,” tanyanya, “Setiap negara anggota PBB harus waspada,” imbuhnya.

Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani mengatakan krisis Ukraina menggemakan kemerdekaan setiap negara di Afrika yang mewarisi perbatasan yang ditarik oleh kekuatan kolonial yang tidak mematuhi ikatan sejarah, budaya dan bahasa. Tetapi alih-alih mengobarkan perang, katanya, negara-negara Afrika menerima perbatasan dan “memilih untuk melihat ke depan” serta mengikuti Piagam PBB dan aturan dari Organisasi Persatuan Afrika sebelumnya.

Baca juga: Reaksi Lengkap China terhadap Pengakuan Rusia atas Kemerdekaan Donbass

Kimani menuduh Rusia melanggar integritas teritorial Ukraina dan mengatakan pengakuannya terhadap Luhansk dan Donetsk sebagai negara merdeka tidak dapat dibenarkan ketika ada beberapa jalur diplomatik yang tersedia dan sedang berjalan yang memiliki kemampuan untuk menawarkan solusi damai.
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!